A Good Bye
“Ren?! Kamu jangan gila,
dia besok akan menjalani operasinya,”
kata Beni dokter yang
menangani Feysa, ketika Reno meminta izin untuk membawanya pergi.
“Aku mohon Kak.. Aku ingin membuat
dia bahagia,”
Beni menghembuskan nafas berat mendengar permohonan
Reno.
“Lalu
bagaimana terapimu hari ini?” Tanya Beni.
“Katakan pada Kak Reza
untuk mengundurkannya satu hari, besok aku akan terapi,” Reno berlalu begitu
saja, “ah.. Jangan katakan pada Ibuku kalau aku
mengundur schedule terapi,” tambah Reno di ambang pintu.
“Reno!” Panggil Beni kesal dari dalam
ruangannya.
Beni menggelengkan kepalanya, “anak itu memang pantas
menjadi dokter spesialis anak, dia juga begitu kekanakan,”
***
Feysa duduk dengan menyandarkan kepalanya di pundak
Reno, mereka duduk di tepi pantai sambil menikmati sunset.
“Indahnya..” kata Feysa.
“Kau senang?” Tanya Reno.
Feysa mengangguk, senyumnya terus mengembang sejak
tadi, “terimakasih Ren,” kata Feysa. Reno mengangguk dengan tersenyum.
Matahari sudah sepenuhnya terbenam langit pun mulai
gelap. Suasana semakin
sunyi, suara deburan ombak makin jelas terdengar. Sudah
beberapa jam mereka menikmati tenangnya suasana pantai di malam hari. Reno
mengeluarkan ponselnya mengecek pesan yang baru masuk di ponselnya.
Dr. Reza: Ku dengar kau melewatkan terapi hari ini karena
pergi ke pantai. Pulanglah sekarang, aku mengkhawatirkan kondisimu.
“Kita pulang yuk? Kamu
harus istirahat untuk besok,”
Feysa mengangguk. Reno menggandeng tangan
Feysa selama berjalan menuju mobil.
***
Perjalanan Reno dan Feysa pun sudah mulai memasuki perkotaan.
Reno terlihat beberapa kali memegangi kepala dan memejamkan matanya saat mobil
berhenti di lampu merah.
“Kamu kenapa? Terlalu lelah hari ini?” Tanya Feysa khawatir. “Aku minta maaf,” kata Feysa
merasa bersalah.
Reno tersenyum dan memandang sekilas kearah
kekasihnya, “ini
bukan salahmu, mungkin aku terlalu giat bekerja,”
“Istirahatlah, jangan terlalu
memaksakan untuk bekerja,” kata Feysa
nada bicaranya semakin khawatir.
“Aku baik-baik saja Fey,”
jawab Reno dengan senyuman
untuk menenangkan Feysa. Reno
berdehem sekali, “Fey,
setelah operasi nanti kamu harus bisa jaga pola makan, jaga pola tidur, jangan
sampai terjadi hal seperti ini lagi,” kata Reno menasihati.
Feysa mengangguk paham, matanya masih terus
memandang wajah Reno dengan khawatir karena mulai pucat.
“Harus bisa jaga diri
jika aku tidak
ada,” Reno
menambahkan.
Feysa mengernyit, alisnya bertautan, “apa yang kamu
bicarakan? Bahkan saat ini harusnya aku yang mengkhawatirkanmu, lihatlah wajahmu
pucat,”
Reno menggenggam tangan Feysa dengan salah satu
tangan nya. “Jangan khawatir, aku akan minum vitamin saat tiba dirumahsakit,”
***
“Kau baik-baik saja?”
Tanya Beni dengan nada khawatir sekaligus kesal, saat Reno memasuki ruangan nya setelah mengantarkan Feysa kembali kekamar rawatnya.
Reno mengambil duduk berhadapan dengan Beni. Ia
duduk dengan menumpukan kepalanya diatas kedua tangannya. “Entahlah, kepalaku
kembali terasa sakit,”
“Minumlah obat mu,” kata
Beni menyodorkan wadah kecil berisi pil obat milik Reno.
Reno sedikit menampakkan raut bingung.
“Aku mengambil dari
ruanganmu, besok kau harus menjalani terapi. Sebenarnya Reza menunggumu tadi,
tapi ia harus pulang,
istrinya dirumah sedang hamil,”
Reno mengangguk paham. Kemudian meminum obatnya.
“Ren, bisakah kau mulai
lebih memperhatikan kondisimu sendiri?”
“Kakak pikir karena
penyakitku aku boleh bermalas-malasan hanya dengan berbaring-baring dan tak
melakukan apapun? Walaupun
dalam tubuhku ini bersarang penyakit, aku tetaplah seorang dokter. Dan ku rasa, aku sudah sangat
memperhatikan kondisiku, aku menjalani terapi aku juga meminum obatku.” Reno mulai jengah
dengan sikap Beni yang kembali menganggapnya lemah.
“Tidurlah, wajahmu
sangat pucat,”
kata Beni menunjuk ranjang periksa diruangannya tak berniat untuk berdebat lebih jauh.
“Jika sudah tak ada lagi yang ingin dibicarakan, aku keluar,” kata Reno bangkit dari
bangkunya.
“Reno!” Beni mulai
kesal. Reno tak mempedulikan panggilan Beni.
Beni menghela napas pasrah. Sebagai sepupu yang
usianya lebih tua delapan tahun dari Reno, Beni begitu menyayangi Reno seperti
adiknya sendiri. Selain itu,
ia juga sebagai ayah dengan anak tunggal, jadi Beni dapat memahami perasaan
khawatir kedua orangtua Reno atas kondisi putra mereka.
***
“Kamu siap untuk hari
ini?”
Feysa mengangguk pasti. “Kau akan terus
menemaniku kan?” Tanya Feysa.
“Aku akan menemuimu setelah selesai operasi, aku tak
bisa meninggalkan pasien kecilku,
dan Kak Beni tak akan mengijinkan aku masuk
ruang operasi,” kata Reno.
“Aku paham,” kata Feysa
tersenyum.
“Ingat yah, setelah
operasi, kau harus bisa menjaga dirimu sendiri baik-baik,”
“Kenapa bicara seperti
itu lagi?”
Tak lama suster masuk untuk membawa Feysa ke Ruang
operasi. Reno masih menemani Feysa saat Feysa dipindahkan dari ruang rawat ke
ruang operasi sampai mereka berpisah di pintu ruang operasi.
“Kau akan baik-baik saja,” kata Reno kemudian
mengecup kening Feysa.
“Reno!” Panggil Reza
saat melihat Reno.
“Ayo kita lakukan terapi mu,”
“Saat jam istirahat aku
keruanganmu Kak,”
“Reno, ikuti kata-kataku kali
ini saja,”
Reno tak memperdulikan Reza. Ia terus melangkah
menuju departemen perawatan anak.
***
Operasi usus buntu Feysa berhasil, namun hingga
hari ketiga pasca operasi Feysa, Reno belum juga menampakkan dirinya. Feysa
semakin khawatir dan tentunya kesal. Ponsel Reno juga tak bisa di hubungi.
Akhirnya Feysa terus memaksa Beni untuk memberitahu apa yang terjadi dengan
Reno.
“Dihari kau menjalani operasi, hari itu juga Reno
mulai terbaring disini,” kata Beni. “Saat kalian pergi ke pantai, siang itu
adalah jadwalnya untuk terapi, tapi dia
meninggalkan terapinya.”
Feysa terkejut, ia
menangis merasa bersalah selain itu
melihat keadaan kekasihnya yang terbaring tak berdaya dengan berbagai alat
medis menempel ditubuhnya. “Dia
sakit apa? Kenapa aku sampai tidak tahu tentang ini?”
“Kanker otak stadium tiga,
dua tahun lalu kanker itu
terdeteksi, dia meminta untuk menyembunyikannya padamu dan bahkan kepada
orangtuanya, dia tidak ingin melihat kalian merasa khawatir.” Beni menghela napas, “selama dua tahun dia
mengidap kanker itu, dia juga tetap aktif bekerja, dia bilang, pasien-pasien
kecilnya akan merindukan dia jika tak hadir,”' Beni terdiam sejenak. “Anak ini selalu
seperti itu,” Beni tertawa sedih mengenangnya.
“Kanker? Dia terlihat baik-baik saja, bahkan rambutnya
tidak rontok karena terapi,”
“Reno menjalani IMRT, Intensity-Modulated Radiation
Therapy, bukan kemoterapi, mungkin kau melihat ada pitak di kepalanya? Itu efek
dari IMRT,”
Feysa hanya diam menatap nanar kearah Reno.
“Apa dia bisa sembuh?”
“Hanya keajaiban yang bisa menjawab, kondisinya sudah sangat
lemah, dan tim dokter menyatakan kalau dia koma saat ini,”
Setelah Beni meninggalkan Feysa di kamar rawat Reno.
Feysa memegang tangan Beni sedih. Dia teringat saat Reno beberapa kali
tiba-tiba terjatuh dan memegangi kepalnya. Dia juga teringat saat wajah Reno memucat. Teringat saat di
pantai beberapa kali Reno mengatakan hal-hal yang menurut Feysa tak biasanya.
Tapi Feysa baru menyadarinya sekarang setelah ia mengetahui kondisi Reno dan
Reno terbaring lemah seperti ini.
“Kenapa kau menahannya
sendiri huh? Mentang-mentang
kau dokter anak, kau bisa seenaknya berprilaku seperti anak-anak? Begitu
pikiranmu huh?” Feysa bermonolog.
***
Hari kelima. Feysa sudah pulih dia sudah bisa
berjalan dan bahkan sudah mulai tinggal dirumah sejak hari keempat. Pagi ini ia membawakan sebuket
bunga untuk Reno. Saat melewati lorong rumah sakit menuju kamar Reno, beberapa
orang dokter dan suster berlarian dari belakangnya dan masuk kedalam kamar
Reno, karena panik Feysa juga ikut menerobos masuk. Kedua orangtua Reno sudah berada disitu dan Ibunya
menangis.
“Reno kenapa dokter?” Tanya Feysa ikut
bergabung. Tak lama beberapa suster dibantu
Beni membawa ia dan kedua orangtua Reno untuk keluar.
“Kondisi pasien sedang
kritis, harap tenang dan tunggu diluar, dokter sedang menanganinya.” Kata suster kemudian menutup pintu kamar rawat Reno.
Sekitar setengah jam kemudian, suster keluar dan
membawa alat medis dari kamar Reno.
“Apa yang terjadi sus? Kenapa
alat ini dibawa keluar?” Tanya
Feysa. Suster tak menjawab dan berlalu.
Kemudian Reza dan dokter lain keluar.
“Kami sudah berusaha
semaksimal yang kami bisa, mungkin ini yang terbaik, saya harap kalian bisa
menerimanya,” kata Reza.
Ibu Reno menangis histeris, suaminya menopangnya
agar tak jatuh. Sementara Feysa terduduk lemas sambil menangis. Beni merangkul
Feysa untuk sedikit menenangkan.
Reno dinyatakan meninggal dan hari
itu juga Reno dimakamkan.
“Selamat jalan Ren, aku
bahagia pernah mengenalmu, terimakasih untuk perpisahan indah kita saat di
pantai, aku menyayangimu Ren, semoga kau tenang disana,” kata Feysa dengan
berurai air mata.
Selesai

Komentar