Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

[CHAPTER 2] AKU, KAMU DAN BENTENG TAK TERJAMAH

Gambar
Baca Sebelumnya.. 5 Mei 2014 Pagi yang cerah, semburat kuning matahari timur mulai nampak. Nia sudah siap untuk berangkat ke polda. Hari ini ia harus melakukan tes potensi akademik. Well, ia merasa bersyukur bisa melanjutkan perjuangan hingga ke tahap ini. Namun, ada yang membuatnya sedih dan kurang bersemangat. Ana. Sepupunya tak lolos hasil tes psikologi dan kesehatan jiwa. Ana pun meningglakan rumah Nia semalam. Tanpa pamit. Itu yang membuat Nia sedih. Ponselnya masih belum aktif hingga subuh tadi. “Dek, sudah siap?” tanya Zul mengetuk pintu kamar Nia. “Tunggu sebentar. Jangan masuk! Aku akan segera keluar,” kata Nia sedikit berteriak dari dalam. Zul memang beberapa kali memasuki kamar Nia tanpa izin dan itu membut Nia risih. Cekcok setiap pagi seperti sudah sarapan wajib bagi Nia. *** Pintu aula sudah dibuka sejak beberapa saat lalu, para casis dipersilahkan memasuki aula ruangan tes. Rifal sedikit berlari mengejar seseorang yang ia lihat sekilas. “Hai..” kata Rifa...

[Chapter 1] AKU, KAMU DAN BENTENG TAK TERJAMAH

Gambar
4 Mei 2014 Matahari dari timur masih malu-malu untuk menampakkan diri. Nia masih sibuk mengikat tali sepatunya. Sementara Zul sudah mulai mengomel. Setiap Zul mengeluarkan sebuah kalimat. Nia akan menimpalinya hingga beberapa kalimat. Perdebatan pagi hari seperti itu sudah memasuki bulan kedua. Nia tak menyukai sikap Zul yang menurutnya terlalu ikut campur mengenai kehidupannya. Sedangkan Zul, menjadi berlaga seperti ayahnya yang selalu mengatur. Nia merasa Zul salah mengartikan titah ayahnya. Ayah Nia memerintahkan Zul sebagai pelatihnya dan ‘bodyguard ’ Nia jika Nia membutuhkan bantuan. Maka selebihnya, tergantung Nia. Bisa saja Nia pergi bersama temannya tanpa harus Zul mengekorinya. Tapi sepertinya antara Nia dan Zul tidak pernah sepaham. “Ayolah dek, sudah siang, nanti terlambat,” Nia mendengus, tatapannya jelas sekali menunjukkan kebencian. “Aku sudah siap!” kata Nia kemudian mengunci pintu rumah dan menunggu Zul mengeluarkan motornya hingga ke gerbang. Ya. Nia dan Zul...

Blue Caramel

Gambar
Nara masih sendiri, dan selalu sendiri. Duduk di salah satu bangku beratap rimbun dedaunan dengan meja berbentuk asimetris yang terbuat dari sisa potongan kayu di depannya. Laptopnya terbuka persis dihadapannya, masih kosong. Matanya tertarik kepada seseorang disalah satu sudut taman yang tengah tertawa dan bercengkrama bersama teman-temannya, lalu beberapa gadis datang, bergabung dan mereka membaur. Nara menatap layar laptopnya, menghela napas berat. Kelanjutan cerita dari cerbung nya sudah ditunggu editor sejak beberapa hari lalu. Ia kehabisan ide. Otaknya beku. Tak bisa berimajinasi. Referensi bacaan dari penulis favoritnya sudah habis ia baca, hanya satu buku terahir milik Nam Woohyun yang belum sempat ia baca. Ia kalah cepat, novel Nam Woohyun memang sangat laris dan ia kehabisan. Nara menatap lagi kearah seseorang itu, kearah Nam Woohyun , novelist fa v oritnya Beberapa detik setelahnya ia menggeleng cukup keras. “ Jangan menceburkan dirimu kedalam got, karena dirim...

Maira

Gambar
Metromini tepat berhenti di depan gedung kampusku. Masih sepuluh menit lagi sebelum kuliah dimulai. Aku segera berjalan memasuki kampus dan menuju kelas. Pintu kelasnya tertutup, beberapa teman berkumpul dan duduk-duduk di bangku depan kelas. Aku mengintip keruangan kelas melalui kaca kecil di antara pintu. Maira menjadi pembuka pemandangan indah setiap Senin pagi. Ia selalu terlihat sibuk, ada saja aktivitasnya, entah itu membaca buku atau bercerita dengan laptopnya. Aku membuka perlahan pintunya. Reflek Maira melihat kearah ku. Aku tersenyum. Pun demikian dengan Maira yang beberapa detik setelahnya kembali sibuk dengan bukunya. Jilbab menjulur dan gamis gombrong membuat ia semakin terlihat anggun. Penampilannya memang beda dari para wanita dikelasku tapi tetap ia yang paling cantik. Menurutku. “Baca apa Kak Maira?” tanyaku. Maira sedikit menoleh, tak sampai menatapku, “Antologi cerpen,” “Oh.. Karya kakak termasuk didalamnya?” Maira mengangguk berkali-kali tanpa sua...