[Chapter 1] AKU, KAMU DAN BENTENG TAK TERJAMAH

4 Mei 2014
Matahari dari timur masih malu-malu untuk menampakkan diri. Nia masih sibuk mengikat tali sepatunya. Sementara Zul sudah mulai mengomel. Setiap Zul mengeluarkan sebuah kalimat. Nia akan menimpalinya hingga beberapa kalimat. Perdebatan pagi hari seperti itu sudah memasuki bulan kedua. Nia tak menyukai sikap Zul yang menurutnya terlalu ikut campur mengenai kehidupannya. Sedangkan Zul, menjadi berlaga seperti ayahnya yang selalu mengatur. Nia merasa Zul salah mengartikan titah ayahnya. Ayah Nia memerintahkan Zul sebagai pelatihnya dan ‘bodyguard’ Nia jika Nia membutuhkan bantuan. Maka selebihnya, tergantung Nia. Bisa saja Nia pergi bersama temannya tanpa harus Zul mengekorinya. Tapi sepertinya antara Nia dan Zul tidak pernah sepaham.
“Ayolah dek, sudah siang, nanti terlambat,”
Nia mendengus, tatapannya jelas sekali menunjukkan kebencian. “Aku sudah siap!” kata Nia kemudian mengunci pintu rumah dan menunggu Zul mengeluarkan motornya hingga ke gerbang.
Ya. Nia dan Zul tinggal serumah. Lebih tepatnya, mereka bertiga, Nia, Zul dan Ana. Ana sepupu jauh Nia dari ayahnya, Zul yang ditugasi mengawasi Nia dan Ana. Kedua orangtua Nia tinggal di kabupaten, karena tugas ayahnya sehingga tidak memungkinkan tinggal bersama. Sementara Nia untuk sementara ini tinggal di provinsi bersama Ana dan Zul, karena tengah mengikuti seleksi menjadi calon bintara polri. Kedua orangtua Nia akan berkunjung saat akhir pekan, atau jika ayahnya sibuk, hanya sang ibu dan ketiga adiknya yang akan mengunjungi.
***
Pukul 7.30. Nia sudah tiba di polda bersama Zul, sementara Ana tiba 3 menit lebih dulu dari Nia. Setelah melepas helm Nia langsung berlari medekati Ana yang masih di area parkir.
“Jangan jauh-jauh dariku ya, aku tidak begitu paham lokasi disini,”
Ana mengangguk, “Tenang saja,”
Sejak dua tahun lalu, Nia memang memutuskan untuk mandiri. Ia meninggalkan kota kelahiran dan kedua orangtuanya untuk menuntut ilmu di Jakarta. Kembalinya ia ke kota kelahirannya saat ini, karena sang Ibu memintanya untuk mengikuti tes penerimaan bintara. Memang dulu menjadi polwan adalah salah satu cita-cita Nia, namun seiring berjalannya waktu, Nia merasa bukan disitu passionnya. Akhirnya ditahun pertama kelulusannya Nia memutuskan untuk mengambil studi perpajakan di ibukota.
***
Polda sangat ramai, Nia dan Ana masih berdampingan. Sesekali, Nia dan Ana saling bertegur sapa dengan taman lama yang kebetulan juga mengikuti seleksi.
“Casis berkumpul!!” suara salah seorang panitia dengan tegas.
Semua casis (calon siswa) berlarian dan berbaris rapih tanpa dikomando. Meraka seperti sudah terbiasa. Pun demikian dengan Nia yang sebelumnya belum pernah mengikuti semua kegiatan seperti ini. Minggu ini, minggu kedua dari rangkaian seleksi. Hari ini saatnya tes psikologi dan kesehatan jiwa. Setelah diberi sedikit penjelasan mengenai pembagian kelompok tes, casis diberi komando untuk segera menempati kursi yang telah dibagikan sesuai nomor peserta.
Nia dan Ana berbeda kelompok. Mereka terpisah. Well, rupanya tak banyak teman semasa sekolah Nia yang mengikuti seleksi ini. Nia jarang sekali bertemu teman seangkatannya. Wajar saja, tahun ini, tahun kedua sejak kelulusannya. Mungkin teman seangkatannya sudah menjadi seorang bintara ditahun pertama mereka. Begitu pikirnya.
Pukul 9. Panitia mulai berkeliling membagikan lembar jawaban dan soal untuk tes. Sejauh ini Nia masih tenang. Entahlah, sudah dua minggu mengikuti tes tapi Nia masih setengah hati melakukan semuanya.
***
Pukul 12. Tes pun selesai. Seorang panitia mengumumkan habisnya waktu. Dan panita lainnya berkeliling mengumpulkan lembar jawaban peserta. Beberapa casis sudah terlihat meninggalkan kursinya dengan raut yang nampak begitu lelah. Termasuk Nia.
“Nia!” seseorang menepuk pundaknya.
Nia menoleh, “Hai!! Indy, bagaimana kabarmu?” tanyanya, kemudian menarik Indy untuk duduk dikursi sebelahnya.
Indy, teman lama Nia. Kakaknya berperan penting dalam perusahaan ayah Nia, Nia mengenal Indy karena beberapa kali mereka bertemu di perusahaan ayahnya bersama sang kakak. Indy setahun lebih muda dari Nia. Tapi Nia merasa tak nyaman jika Indy memanggilnya dengan sebutan kakak. Alhasil, sejak pertemuan pertamanya, Indy memang sudah memanggil Nia dengan sebutan nama.
“Aku baik, bagaimana kabarmu? Sudah lama ya? Rindu!!”
Nia tersenyum, “Aku baik,”
“Oh ya, kenalkan sahabatku, Anes namanya,” kata Indy.
Nia dan Anes saling berjabat tangan dan berkenalan. Mereka bertiga mengobrol banyak, hingga panitia kembali memberi komando bahwa tes kesehatan jiwa akan segera berlangsung.
“Aku kembali ketempatku yah, nanti kita ngobrol lagi,” kata Indy pamit.
***
Pukul 3. Tes kesahatan jiwa sudah terlewati. Hampir semua peserta terlihat lelah. Begitupun Nia. Nia terlihat mencari seseorang. Siapapun. Yang penting ia mengenalnya. Nia merasa sangat lapar dan ia masih terasa canggung berada di lingkungan ini tanpa seorangpun yang ia kenal. Karena Ana berada sangat jauh dari kelompoknya.
“Kau mencari siapa?” seseorang menepuk pundak Nia.
Nia terlihat berbinar, “Wah kebetulan sekali! Indy, Anes, temani aku makan, aku lapar sekali,”
Indy dan Anes tertawa kecil, “Ayo, kami juga akan ke kantin,”
Sampai dikantin, mereka bertiga memesan menu yang sama. Sambil menunggu, Nia bermain-main dengan ponselnya. Ia merindukan Ata, Helen dan Fian. Ketiga sahabatnya di Jakarta.
“Kalian dimana? Masih dikampus? Aku merindukan kaliaaaaaan,”
Sent.
Nia mengirimkan sebuah pesan grup untuk ketiga sahabatnya. Ia kembali memasukkan ponselnya setelah makanan datang. Mereka bertiga makan dengan lahapnya.
***
Rifal masih lahap menikmati nasi gorengnya. Ketika Indy menoyor kepalanya dari belakang. Dengan wajah kesalnya, Rifal  menoleh kearah Indy.
“Tidak sopan kau,” katanya bersungut.
Indy hanya tertawa. Anes dan Nia meyumbang senyum melihat tingkah dua orang di hadapannya.
“Iri saja melihat orang makan. Jangan-jangan kau mendekatiku karena ingin minta bagian?” katanya.
Anes menepuk keras lengan Rifal, “Makanlah dulu! Kau ini laki-laki cerewet sekali,”
Rifal diam dan kembali menikmati makan siangnya.
Rifal, teman sekolah Indy dan Anes. Bisa dibilang mereka bersahabat, karena kabarnya Rifal pernah menjalin hubungan dengan Geby, salah satu sahabat Anes dan Indy juga.
Sepuluh menit dilalui tanpa banyak percakapan diantara mereka berempat. Anes dan Indy sibuk dengan ponselnya. Pacar mereka secara kompak menghubungi via telepon. Sementara Nia, hanya diam memperhatikan keadaan sekitar sambil menikmati musik yang sengaja diputar panitia. Rifal sudah mulai meneguk air putihnya, bungkus nasi gorengnya sudah ia buang beberapa saat lalu. Pergerakan Rifal beberapakali mencuri perhatian Nia, Nia terlihat menoleh ketika Rifal bangkit untuk membuang bungkus nasi goreng, pun ketika Rifal kembali. Karena hal itu juga, secara tidak sengaja, mereka saling menyapa lewat senyuman walaupun belum saling mengenal secara langsung.
Well, Nia sudah mendengar sedikit cerita tentang Rifal sebelum ia duduk berdampingan bersamanya saat ini. Tapi Rifal, sepertinya belum mengetahui apapun tentang Nia.
“Indy, dia temanmu?” Rifal sedikit berbisik pada Indy yang duduk dibelakangnya.
Nia mendengar, hanya saja ia pura-pura tidak tahu.
“Oh iya, kenalkan ini Nia, temanku. Dia baru kembali dari Jakarta, sejak lulus SMA dia tinggal di sana, makanya dia nampak canggung disini, terlebih dia setahun diatas kita, teman-temannya pasti sudah banyak yang mengikuti tes ini tahun lalu,” kata Indy panjang lebar.
Rifal melihat kearah Nia, tersenyum lalu mengulurkan tangan. “Rifal,” katanya.
Nia menerimanya, “Nia,”
Indy dan Anes masih sibuk dengan pacar mereka di ponsel. Sementara Nia dan Rifal hanya saling diam. Kadang tak sengaja mata mereka bertemu kemudian saling tersenyum malu-malu. Tak lama, Indy dan Anes izin untuk pergi ketoilet. Tinggallah Nia dan Rifal berdua.
Tiga menit.
Lima menit
Sepuluh menit.
“Kak Nia sudah berapa lama tinggal di Jakarta?” Rifal mengawali.
Nia menoleh, sedikit terkejut, karena dari tadi mereka hanya diam, “Sudah dua tahun, by the way tidak usah panggil kakak, Nia saja,”’
Rifal mengangguk, “Baiklah kak, eh Nia,” katanya, Rifal tertawa, Nia tertawa.
“Kapan kembali dari Jakarta?”
“Sejak ada pengumuman seleksi ini, kedua orangtuaku memaksa untuk aku mengikuti tesnya,”
“Oh begitu, di Jakarta tinggal sendiri?”
“Iya, aku sendiri. Mmm, kamu teman sekelasnya Indy?”
“Tidak, hanya teman satu sekolah,”
Nia mengangguk-angguk. Kemudian kembali hening. Lalu Rifal izin untuk kekantin membeli minum.
***
Rifal berjalan secepat mungkin menjauhi Nia, entah mengapa ia jadi seperti tak berdaya dihadapan Nia. Baru kali ini merasa begitu canggung bersama seorang gadis. Untuk menghilangkan kegugupannya, Rifal meninggalkan Nia untuk beberapa saat sekalian membeli dua botol minuman untuknya dan juga Nia.
“Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Rifal ketika melihat Indy dan Anes tengah santai memakan snack dikantin. “Kalian berdua bilang akan ketoilet, tapi tak kunjung kembali,”
“Hei Rifal, bukankah kita sahabat yang baik? Kami meninggalkanmu bersama Kak Nia supaya kalian semakin akrab,” kata Anes.
Rifal tersenyum simpul.
“Ih! Dia tersenyum! Berarti sebenarnya dia mengharapkan hal ini terjadi,” Indy menggodanya.
Rifal mencoba mengelak dengan berbagai kalimat penyangkalan.
***
Nia tengah memainkan ponselnya, saat ia menyadari ada dua orang casis memperhatikannya sejak tadi. Nia tersenyum kearah dua casis wanita itu.
“Siapa nama kalian?” kata Nia, kebetulan jarak dua casis hanya berselang satu kursi darinya.
“Aku Wulan,”
“Aku Nurfa,”
Nia mengulurkan tangan, “Aku Nia, senang berkenalan dengan kalian,”
Mereka berbincang, Wulan lebih cerewet dari Nurfa. Wulan bilang, ia mengagumi Nia sejak pertama kali melihatnya. Perawakan tinggi dan badan tegap, Nia terlihat sudah seperti polwan sungguhan, ditambah rambut Nia yang sudah dipotong sangat pendek. Begitu pengakuannya. Banyak hal yang mereka bicarakan. Keluarga, tempat tinggal, usia, sekolah, dan sebagainya. Itu menandakan, seberapa lamanya Rifal pergi  hanya untuk membeli minuman.
“Maaf aku lama,” Rifal muncul kemudian menyodorkan sebuah botol minuman rasa apel kepada Nia beberapa saat setelah Nia memikirkannya.
Nia hendak menolak, tapi tak sampai hati. “Tidak apa, duduklah,”
Rifal menarik sebuah kursi dan duduk disamping Nia.
“Ini temannya Kak Nia?” tanya Wulan.
“Iya, kenalkan, ini Rifal.”
Mereka saling berkenalan. Kami berbincang. Nia dan Rifal sudah tak saling canggung. Mereka saling menimpali satu sama lain. Mereka juga bisa tergelak bersama. Kemudian, Wulan dan Nurfa pamit untuk ke kantin.
Nia dan Rifal kembali berdua. Mereka terdiam. Saling tatap untuk beberapa saat, kemudian tertawa.
“Dimana kau membeli dua botol minuman ini?”
“Memangnya kenapa?”
“Kau memakan waktu hingga hampir tigapuluh menit hanya untuk dua botol minuman ini Fal,”
“Kau menungguku? Kenapa? Rindu?”
Nia tertawa, Rifal tertawa. Suasana keduanya kembali mencair.
“Aku ingin mengatakan sesuatu,” kata Rifal berbisik.
Nia fokus, menunggu Rifal mengatakan sesuatu. Hingga lima detik kemudian, Rifal tertawa keras. Nia terkejut dan menutup telinganya. Wajahnya menampilkan ekspresi bingung.
“Kau kenapa?” tanya Nia dengan wajah polosnya.
Rifal tak menjawab. Hanya menggeleng sambil berusaha menahan tawa.
Nia diam, melihat Rifal yang masih berusaha menahan tawa. Kulitnya memerah karena terlalu lama tertawa.
Beberapa saat kemudian, Rifal mulai tenang. Ia menceritakan bahwa, ia melihat Anes dan Indy dikantin. Dan mereka berdua membohongi Rifal juga Nia. Well, menurut Nia tidak ada yang lucu dari cerita itu. Nia hanya menampilkan senyuman kaku. Sementara Rifal kembali tertawa pelan.
“Aku bingung, apa yang kau tertawakan dari ceritamu? Menurutku itu tidak lucu,”
Rifal terdiam. Dia berfikir. Wajar jika Nia tidak menganggapnya lucu. Sebenarnya Rifal tertawa bukan karena lucu tapi sebagai bentuk ekspresi bahagianya, karena rencana Indy dan Anes yang berusaha memberi kesempatan kepada Rifal dan Nia untuk berdua. Tapi Rifal tak mungkin menceritakan hal itu kepada Nia.
***
Indy dan Anes melihat Rifal dan Nia yang tengah tertawa dari kejauhan.
“Lihatlah, Nes, sepertinya mereka berdua sudah terlihat akrab, rencana kita berhasil?”
Anes mengangguk keras.
“Kalian terlihat sangat akrab,” kata Indy.
Nia dan Rifal menoleh bersamaan. Kemudian tertawa.
“Dia lucu Ndy, tadi dia tertawa hingga mukanya merah hanya karena menceritakan dia melihatmu dan Anes di kantin.” Kata Nia bercerita.
Indy dan Anes hanya tertawa kecil.
Sekembalinya Indy dan Anes, tak lama, Wulan dan Nurfa pun kembali. Nia melambaikan tangannya kearah dua teman barunya itu. Mereka berenam duduk berdekatan. Saling mengobrol. Saling bercengkrama hingga tak terasa waktu pengumuman hasil tes akan keluar.

Diam bukan berarti tak peduli. Karena dalam diamku, aku memikirkan bagaimana caranya membuatmu bahagia. Inginku, kau tersenyum hanya karena aku. ­- RIFAL

Komentar