Storm
Holland Selatan, Netherlands 2013
Keukeunhof,
Lima belas menit menempuh perjalanan
dari kampus, Sora dan Sean tiba di suatu tempat. Taman. Itulah yang tergambar
di penglihatan Sora ketika sampai di tempat ini.
“Ayo..” Ajak Sean sambil mengulurkan
tangan nya.
Sora melangkah maju meninggalkan Sean
di belakangnya dan mengabaikan uluran tangan Sean, Sean memaklumi tingkah Sora.
“Wah! Bagus sekali Se!” Seru Sora
terlihat bahagia, ekspresi wajahnya jauh lebih baik dari sebelumnya.
“Banyak sekali tulipnya.” Kata Sora
sambil berkeliling disekitar situ.
Keukeunhof, taman bunga tulip
terbesar di Holland selatan. Disini bisa ditemukan berbagai macam jenis dan
warna tulip, tak hanya tulip sebenarnya, ada Anggrek, Mawar, Lily, Bougenvil,
Anyelir, Hortensia, Gerbera dll. Sora tampak begitu terkagum-kagum berada di
tengah-tengah hamparan bunga-bunga yang begitu indah, suasana sejuk, teduh dan
tentu sangat menentramkan hati. Di dalamnya tidak hanya terdapat hamparan bunga
yang luas tapi juga terdapat pepohonan, kanal kecil, danau, bukit dan tentunya
kincir angin sebagai simbol negara ini.
“Se ambilkan gambar ku disini!” Pinta
Sora yang sambil berlari kearah kincir angin.
“Satu.. dua.. tiga..” Sean memberi
aba-aba. ckrek!!
Mereka berkeliling di taman itu, dan
tak lupa mengabadikan nya dalam foto. Rasa lelah mengitari taman seluas 32 hektar
ini tak terlalu di hiraukan karena melihat dan merasakan keindahan ciptaan
Tuhan yang begitu sempurna. Di tengah-tengah perjalanan mereka menikmati keindahan
Keukeunhof Sora menemukan sebuah bukit yang di depan nya ada sebuah danau.
“Ah! Se! Lihat! Kita kesana yuk!”
Kata Sora antusias langsung menarik tangan Sean.
“Ah.. enak sekali.. nyaman..” Kata
Sora sambil berbaring di atas bukit setelah mereka sampai. Sementara Sean hanya
memandanginya dengan senyuman tulus.
“Se, makasih ya, kamu bawa aku ke
tempat ini.”
“You don’t see Holland yet, till you
see Keukeunhof, itu yang Kak Ahra ucapkan padaku saat aku pertama datang ke
Holland dulu.” Kata Sean sambil memandangi danau di hadapan nya dengan posisi
masih tetap duduk. Sora pun tersenyum sambil memandang wajah Sean.
“Dan kau tahu tidak aku pernah
berjanji pada diriku sendiri tentang ini.” Kata Sean melanjutkan.
“Janji apa?” Tanya Sora antusias.
“Aku berjanji orang yang kedua kali
aku bawa setelah bersama Kak Ahra waktu itu, adalah orang yang sangat spesial.”
Kata Sean terlihat serius.
Hening. Sora dapat menangkap ‘maksud’
Sean, tapi ia berusaha menepis rasa aneh itu, ia berfikir jangan terlalu
percaya diri bahwa Sean menyukainya lebih dari sahabat, mungkin Sean katakan
itu karena ia menganggap Sora sahabat sejak kecil dan adiknya. Untuk
mengalihkan keheningan itu Sora pun mengalihkan pembicaraan.
“Se! Ayo tiduran, jangan duduk terus!
Punggungmu tak lelah apa?” Kata Sora menarik lengan Sean, Sean dan Sora pun
berbaring di atas bukit itu sambil menatap ke arah langit luas.
Sean memejamkan matanya, rupanya Sora
memperhatikan Sean.
“Kau kenapa? Sakit?” Tanya Sora yang
terlihat hawatir, dan sekarang sudah dalam posisi terduduk dengan wajah
menghadap Sean.
Sean pun membuka matanya. “Tidak, aku
hanya teringat Sammy.”
“Aku juga Se..”
“Emm, Sora..” kata Sean tiba-tiba dan
menolehkan kepalanya ke arah Sora yang sudah berbaring disebelahnya lagi.
“Maafkan aku atas kejadian malam itu
ya.” Kata Sean tulus.
Flashback
Effteling,
“Ayo turun!” Kata Sean kemudian
menarik kunci mobil.
“Taman bermain?” Kata Sora
meremehkan. Sean hanya mengangguk pasti.
“Kau seperti anak kecil saja sih!” Kata
Sora semakin meremehkan.
Sean tak menghiraukan Sora, ia terus
melangkah, kemudian Sora menyusul Sean, karena merasa jarak nya sudah semakin
jauh dengan Sean, Sora pun mempercepat langkahnya dan bahkan sedikit berlari
untuk menyamai langkahnya dengan Sean.
“How many?” Kata petugas di depan
pintu tiket.
“Two please..” Kata Sean. Petugas pun
memberikan dua buah tiket yang terlihat seperti ATM. Sean pun menyerahkan
sejumlah uang ke petugas.
“Thank you.” Kata Sean dengan ramah.
“Sora..” Sean memanggil Sora yang
tengah menengadahkan kepalanya melihat sekitar. Tanpa berkata-kata Sora pun langsung
mendekati Sean.
“Kau mau mulai yang mana?” Tanya Sean
masih sambil menggandeng tangan Sora.
“Emm..” Sora terlihat berpikir sambil
mengarahkan tatapan nya ke seluruh sisi.
“Ah! Aku mau main itu Se!” Tunjuk
Sora dengan senyum sumringah, pada permainan yang menyerupai boom boom car itu.
Sean pun tersenyum dan langsung
menarik tangan Sora. Mereka begitu menikmati permainan itu, berada dalam satu
mobil, dan menabrak beberapa lawan membuat Sora dan Sean terlihat begitu
bahagia, terkadang Sora memukul lengan Sean ketika Sean menambah kecepatan
mobilnya.
“Yeay! Kita menang!” Kata Sora
bahagia, dengan tangan merangkul pinggang Sean, yang entah sejak kapan ia
lakukan itu.
“Sekarang apa?” Tanya Sean.
Sora langsung menarik tangan Sean ke
tempat permainan lain mereka sangat menikmati malam hari itu, mereka sangat
bahagia. Terutama Sora, Sean dapat melihat kebahagiaan itu dari raut wajah Sora
yang berbinar. Mereka tertawa bersama-sama, terkadang Sean pun bercanda dengan
Sora di tengah-tengah kebahagiaan itu. Berbagai macam permaianan mereka coba, hingga
akhirnya rasa lelah pun menghinggapi mereka.
“Se aku lelah duduk dulu yah?” Kata
Sora sambil menarik tangan Sean ke sebuah bangku. Sean pun mengikuti Sora.
Sambil mereka duduk, tiba-tiba Sean mendekatkan
wajahnya ke wajah Sora, hembusan nafasnya terasa begitu hangat di wajah Sora,
sontak Sora pun langsung memalingkan wajahnya ke arah kanan. Membuat Sean
terkejut dan menjauhkan wajahnya dari Sora.
“Emm, Se aku mau kesana..” Kata Sora
menunjuk sebuah tempat -bisa dibilang studio photo- meninggalkan Sean yang
masih duduk di bangku. Sean pun berjalan sedikit berlari menyamai langkahnya
dengan Sora.
“Sora, maafkan aku..” Kata Sean
setelah langkah mereka sama.
“Euh? Apa?” Sora seolah melupakan hal
tadi.
“Tadi..” Kata Sean sedikit canggung.
“Oh.. lupakanlah” Kata Sora terlihat
santai dengan senyum khas nya. Ini yang tidak bisa Sean lepas dari Sora,
kebaikan hatinya dan senyumnya yang manis. Secepat itu Sora melupakan hal gila yang
baru saja Sean lakukan padanya.
Flasback end.
“Ya ampun Se, aku kan sudah bilang,
lupakanlah.” Kata Sora menjawab dengan tenang sambil tersenyum.
“Tapi sikapmu padaku akhir-akhir ini
seperti menjauh..”
“Emm begini Se, sejujurnya aku sudah
memaafkan mu, hanya saja aku sedikit kesal padamu dan merasa canggung, setelah
kau hampir melakukan hal gila itu.”
“Maafkan aku ya..” Kata Sean
menyesal. Sora tersenyum tulus.
“Emm.. aku ingin mengatakan sesuatu,
boleh?” Kata Sean. Sora menoleh seolah mengatakan iya.
“Sebenarnya.. aku..” Kata Sean dengan
hati-hati tak mau membuat Sora salah paham. Sean ingin mengungkapkan perasaan
nya pada Sora saat itu. Tapi rupanya Sora mengerti maksud Sean, ia megalihkan
pembicaraan Sean.
“Se! Bagaimana kalo kita ke pulang
Indonesia minggu depan? Sebentar lagi kita kan tingkat empat, kita pasti di
sibukkan dengan tugas dan skripsi, sebelum bertemu dengan semua hal yang
membuat pusing kepala itu, ada baiknya kita istirahat dulu lagian sudah tiga
tahun kita disini, Sammy juga pasti sangat merindukan kita, meskipun seminggu
sekali kita main skype tapi tetap saja rindunya tidak semua hilang.” Ajak Sora
dengan bersemangat.
Tergurat kekecewaan di wajah Sean
ketika Sora mengalihkan pembicaraan, Sora sebenarnya tak tega melihat Sean
seperti itu tapi menurutnya Sean adalah sahabatnya, sahabatnya yang sangat ia
sayangi, sahabat kecilnya hingga sekarang. Ia tak mungkin bisa mencintai Sean,
rasa sayang nya hanya rasa sayang sebatas sahabat, Kakak atau apapun itu
terkecuali pacar.
“Mau?” tanya Sora. Sean pun
mengangguk dengan sedikit ketidakpastian.
***
Seminggu kemudian, setelah meneyelesaikan
dan mengumpulkan beberapa tugas kepada dosen pembimbing untuk satu minggu
kedepan Sean dan Sora segera pulang ke rumah untuk mengecek barang bawaan
mereka mungkin ada yang tertinggal atau belum masuk ke dalam koper. Sore ini
mereka akan terbang ke Indonesia, hanya berdua tanpa Ayah, Ibu dan Kak Ahra.
“Kalian hati-hati ya, sampaikan salam
pada Ibumu.” Kata Ibu Sean sambil mencium kening Sora lalu berganti pada Sean.
“Iya Bu, akan ku sampaikan.” Kata
Sora.
Setibanya di bandara, “Kalian
hati-hati ya, sampaikan salam ku untuk om dan tante.” Kata Kak Ahra sambil
menggenggam tangan Sora. Sora mengangguk dan tersenyum.
Jakarta, Indonesia 2013,
Perjalanan panjang yang melelahkan
selama kurang lebih lima belas jam penerbangan dengan tiga kali transit itu
akhirnya terbayar setelah mereka sampai di depan sebuah rumah yang cukup besar
terletak di kawasan mewah di kota Jakarta. Ya! Itu Rumah Keluarga Sora. Selama
di Netherlands Sora tinggal bersama keluarga Sean.
Beberapa kali Sora menekan tombol
bel, tak lama seorang wanita paruh baya menyumbul dari balik pintu.
“Sora? Sean? Kalian pulang tidak
memberi kabar, tahu begini Ibu akan menyuruh sopir menjemput kalian.” Kata Ibu Sora
langsung memegang tangan Sean dan Sora.
“Kita ingin membuat surprise Bu” Kata
Sean. Kemudian di sambut sentuhan lembut di pipinya dari Ibu.
“Ayo masuk, masuk, kalian pasti lelah
sekali kan setelah perjalanan panjang, kalian pasti lapar yah Ibu akan buatkan
makanan spesial untuk kalian berdua.” Kata Ibu yang kemudian bergegas ke arah
dapur.
“Iya Ibu terimakasih, kami akan ke
kamar dan membersihkan tubuh dulu Bu.” Kata Sora.
Sean dan Sora pun menaiki anak tangga
rumah menuju kamar mereka masing-masing.
“Se, kau tidur di kamar itu yah.” Tunjuk
Sora kearah sebuah kamar yang berhadapan dengan kamar Sora.
“Iya, terimakasih So.”
Mereka masuk ke dalam kamar
masing-masing, membereskan barang bawaan dan kemudian mandi. Satu jam kemudian
Ibu Sora, mengetuk pintu kamar kedua anaknya itu, meskipun Sean bukanlah anak
kandungnya tapi keluarga ini sudah menganggap Sean sebagai anak nya dan sebagai
Kakak untuk Sora, karena persahabatan mereka sejak kecil yang membuat akrab
masing-masing keluarga.
“Sean, Sora kalian sudah selesai
bersih-bersih nak? Ayo turun Ibu sudah membuat makanan special untuk kalian.”
Seru Ibu dari balik pintu kamar.
“Iya Bu sebentar lagi Sean turun” Kata
Sean dari dalam kamar. Sementara Sora sudah membuka pintu kamarnya, dan bersiap
untuk turun.
***
Sammy mengambil handphone nya yang
bergetar tanda ada sebuah SMS. Ia membuka kunci otomatis I-phone nya.
‘Sammy aku merindukanmu’
Sammy tersenyum sipu melihat ternyata
SMS itu dari Sora. Dengan cepat ia segera membalas SMS itu.
‘Aku juga Sora, bagaimana kabarmu dan
Sean?’
‘Aku dan Sean baik, kau sendiri
bagaimana?’
‘Baguslah, aku juga baik. Eh tunggu,
bukan nya disana pukul 1 siang? Kau tidak ke kampus?’
‘Tidak, di jam rumah ini pukul 10
malam J’
‘Maksudmu?’
‘Masa tidak bisa menebaknya haha’
‘Kau di Indonesia??’
‘Iya!! Kami tunggu di bukit belakang
sekolah ya besok pukul 9, ok!’
‘Sora, seriuslah! kau tidak
membohongiku kan?’
‘Kau tidak percaya padaku lagi Sam?’
‘Bukan begitu, yasudah aku akan
datang ke bukit besok pukul 9.’
Bukit,
Sammy datang lebih cepat tiga puluh
menit sebelum Sean dan Sora datang, iya menyiapkan sedikit surpise untuk dua
sahabatnya itu, ia memasang sebuah banner bertuliskan ‘WELCOME BACK TO INDONESIA
MY DEAREST BESTFRIEND’ lengkap dengan beberapa foto mereka bertiga –Sammy,
Sora, dan Sean-. Banner itu memang sudah lama di buat, Sammy sengaja membuatnya
barangkali Sean dan Sora datang tiba-tiba tanpa mengabari sebelumnya, ternyata
feeling nya tidak salah.
Tepat pukul sembilan pagi Sean dan
Sora pun datang, Sammy melihat mereka berjalan dengan candaan ke arah bukit.
“Sora! Sean!” Panggil Sammy sambil
melambaikan tangan nya.
Sean dan Sora pun menoleh ke arah
suara dan membalas lambaian tangan Sammy. Sora sedikit berlari ke arah Sammy,
kemudian Sora memeluk Sammy dengan sangat erat, membuat Sean sedikit tak nyaman
dengan apa yang di lihatnya. Ia pun sengaja berdehem kecil. Sammy menyadari
keberadaan Sean, dia melepaskan pelukan Sora begitupun Sora. Kemudian Sammy
memeluk Sean, layaknya pelukan seorang pria.
“Aku sangat merindukan mu Sam.” Kata
Sora girang.
“Iya aku juga sangat merindukanmu Sora.”
“Aku tidak?” Protes Sean.
“Hei! Ya tentulah Se! Mana mungkin
aku tidak merindukan mu. Aku merindukan kalian.” Mereka tertawa bersama.
“Hei! Kapan kau membuat banner ini?
Aku baru memberitahumu semalam kan Sam?” Tanya Sora sambil menunjuk ke arah
banner yang di ikat ke pohon disisi kanan kirinya.
“Sudah lama, hanya saja aku menyimpan
nya barangkali kalian datang tiba-tiba tanpa mengabari sebelumnya, ternyata
feeling ku tidak meleset kan.” Kata Sammy dengan senyum yang tak pernah lepas
dari bibirnya. Mereka kembali tertawa.
“By
the way sudah tiga tahun lebih yah kita tidak kesini, tempat ini tak banyak
berubah.” Kata Sean sambil mengarahkan pandangan nya ke segala arah.
“Iya seperti kamu, yang tak banyak
berubah, tetap tampan Se.” Celetuk Sammy yang membuat Sean geer.
“Huh! Makin besar saja kepala manusia
ini!” Kata Sora menepuk kepala Sean pelan.
“Aduh! What the hell! Akui sajalah
So!” Kata Sean mengacak rambut Sora.
“Ih! Rambutku berantakan tahu!” Kata
Sora dengan ekspresi ngambek. Tanpa diperintah, Sammy merapihkan rambut Sora.
“Permisi dong, mau lewat!” Kata Sean
sambil berjalan menerobos di antara Sammy dan Sora.
“Eh! Bisa lewat situ kan bung!” Kata
Sora menunjuk kearah belakangnya yang memang masih kosong, sambil menendang
pantat Sean pelan. Sammy dan Sean pun tertawa melihat tingkah Sora.
“Woy! Duduk sini tidak capek berdiri
terus?” Panggil Sean pada dua sahabatnya itu.
“Iya bawel!” kata Sora. Kemudian
berjalan mendekat ke arah Sean dengan Sammy disampingnya.
Diantara ketiga sahabat ini, Sean
memanglah yang paling ramai dan bisa dibilang agak ceplas ceplos, dan ia juga
terkenal yang paling menyebalkan di mata teman-teman mereka yang lain,
kata-katanya yang pedas, tatapan matanya yang tajam jika sedang marah membuat
dia di segani teman-teman kelasnya semasa sekolah, tapi di balik ‘kejelekan’
nya dia juga mempunyai sisi bagus. Dia yang lebih tampan dibandingkan Sammy
atau begitulah kata orang berpendapat, dia juga terpintar di antara dua
sahabatnya yang lain, IQ nya diatas rata-rata dan dia ini sangat dewasa dalam
menghadapi permasalahan.
***
Hening. Tak ada suara, tak ada
percakapan setelah perdebatan tadi, mereka bertiga sibuk dengan aktivitas yang
sama menatapi langit yang terlihat begitu cerah, bayang-bayang semasa sekolah
muncul satu per satu di fikiran mereka. Sean dan Sammy memejamkan mata mereka.
Hanya Sora yang tidak. Dia bergantian melihat kearah sahabatnya.
“Kalian tidur?” Tanya Sora dengan
suara polos.
“Tidak.” Jawab Sean dan Sammy hampir
berbarengan.
“Lalu kenapa merem?”
“Mengenang masa masa sekolah dulu.” Kata
Sean.
“Aish! Aku juga..” Kata Sora yang
ikutan terbawa suasana.
“Kalian ingat tidak saat pertama
pertemuan kita di bukit ini?” Kata Sora mulai berceloteh.
“Ingat” Kata Sean.
“Saat itu hari pertama kita masuk
sekolah, masih dalam masa orientasi. Ada salah satu Kakak angkatan menyuruhmu
untuk menyatakan cinta pada Ketua OSIS, tapi kau malah menyatakan cinta pada
ketua gugus mu, karena kau tidak tahu yang mana ketua OSIS nya.” Lanjut Sean.
“Lalu Kakak itu memarahiku di depan
teman-teman kelas, akupun menangis, dia panik, dan meminta maaf, aku malah
berlari keluar kelas, lari lari lari dan terus berlari hingga menemukan bukit
ini.” Kata Sora melanjutkan kenangan Sean.
“Lalu Sean ikut berlari mengekorimu,
begitupun aku, aku mengekori Sean berlari sampai tiba di bukit ini, kau masih
menangis. Sean berusaha menenangkanmu, tapi kau justru malah membentaknya,
akupun kasihan pada Sean lalu aku mendekatimu dan mencoba menenangkanmu, kau
pun bersandar di bahuku sambil terus terisak.” Sekarang Sammy yang melanjutkan.
“Dan Sean melakukan hal gila berlaga
seperti seekor monyet di hadapan ku, haha aku pun kembali tertawa karena nya
seolah melupakan hal memalukan tadi, lalu kita berkenalan.” Kata Sora lagi.
“Dan tak disangka kita jadi sering
mengunjungi bukit ini dan saling bertemu meski pun tak direncanakan sebelumnya,
dan mulai saat itu kita semakin dekat, akrab, dan memulai janji kita disini,
janji untuk menjadi sahabat selamanya.” Kata Sean lagi.
“Sahabat selamanya!!” Kata Sora
dengan berteriak senang sambil menggenggam tangan Sean dan Sammy, lalu
mengangkatnya ke udara.
Tak terasa waktu pun mulai sore,
meski mereka hanya berbincang dan bermain-main di bukit dan danau berjam-jam
mereka tak merasakan jengah sedikitpun. Keesokan harinya, mereka pun bertemu
lagi, tapi sekarang bukan di bukit, mereka pergi ke Dunia Fantasi, salah satu
taman bermain cukup besar di Jakarta.
Dunia Fantasi (Dufan),
Sesampainya di Dufan mereka bermain
dengan sangat bahagia, tertawa dan mereka tak lupa untuk mengabadikan
kebahagiaan mereka dalam foto. Di Dufan tak hanya berbagai macam jenis
permainan yang di sediakan, tapi pengunjung juga di suguhkan dengan karnaval
kostum disana.
“Kita seperti melupakan waktu yah
jika sudah bersama.” Kata Sora dengan raut wajah bahagia, ketika mereka
beristirahat di sebuah kedai es krim.
“Haha iya ya, aku senang bisa bersama
kalian lagi.” Kata Sammy berbicara pada Sora dan Sean.
“Iya aku juga Sam haha.” Kata Sean
menimpali.
Rumah Sammy,
“Sean? Sora? Ya ampun semakin tampan
dan cantik saja kalian, ayo masuk Sammy ada di dalam.”
“Iya Tante terimakasih.” Kata Sean
dan Sora hampir berbarengan.
“Silahkan kalian naik saja, Sammy ada
di kamarnya, Tante mau melanjutkan mengurusi kebun belakang rumah.” Kata Ibu
Sammy sambil menunjuk ke arah tangga.
Setelah sampai di depan pintu kamar
Sammy, Sean hendak membuka langsung knop pintu kamar itu, namun di halangi
Sora.
“Ih! Tidak sopan tahu! Ketuk dulu!”
perintah Sora. Tanpa banyak ba bi bu Sean pun menuruti Sora.
Tak lama pintu pun terbuka, lebih
tepatnya dibukakan seseorang dari dalam.
“Hei, kalian sudah sampai, ayo
masuk.” Ajak Sammy.
Sean dan Sora pun memasuki kamar
Sammy, suasana serba pink terasa begitu kental di kamar ini, semua asesoris
atau hiasan yang berada di meja kecil maupun yang menempel di dinding berwarna
pink.
“Kamarmu tak berubah Sam.” Kata Sora
sambil mengalihkan pandangan nya ke berbagai sisi kamar.
“Semuanya serba pink.” Celetuk Sean.
“Dan kau serba black and white.”
Celetuk Sammy menimpali.
“Dan aku serba kuning dan biru.”
Tiba-tiba Sora berceloteh.
“Tidak ada yang menanyakan warna
kamarmu.” Kata Sean sinis. Sora pun manyun dengan menggembungkan pipinya. Sean
tertawa geli melihat Sora.
“Sudah, sudah. Silahkan duduk, anggap
saja kamar kalian sendiri.” Kata Sammy.
Mereka pun melakukan apa pun yang
ingin mereka lakukan dikamar itu, Sammy melatih Sean bermain gitar, sementara
Sora menonton film favoritnya War of Lord. Sesekali Sora tertawa geli melihat Sean
yang fals memetik senar gitar. Setelah beberapa kali latihan Sean sudah bisa
dengan lancar memetik senar gitar. Mereka pun bernyanyi bersama dengan iringan
gitar dari Sean, ‘our love’ milik Super Junior terlantun begitu merdu dari
mulut mereka.
“Bagus kan permaianan gitarku?” Kata
Sean menyombong. Sammy dan Sora menjawab dengan anggukan dengan saling
berpandangan.
“Eh, aku ke toilet dulu ya sudah
tidak tahan ini.” Kata Sean.
“Poop?” tanya Sora asal.
“Iya, kenapa mau ikut?” Jawab Sean
tak kalah asal.
“Ih! Jijik! Sudah sana pergi, nanti
poopmu keluar lagi.” Kata Sora meledek, Sean pun tertawa ringan dan keluar
kamar Sammy menuju toilet.
Suasana di kamar Sammy pun sedikit
tenang, tiba-tiba Sammy memposisikan duduknya di samping Sora, menggenggam
tangan Sora dengan lembut dan sangat erat, Sora pun terlihat agak bingung
dengan sikap Sammy, Sammy memang sering menggenggam tangan nya, tapi kali ini
entah mengapa genggaman nya terasa beda dan tatapan mata Sammy begitu dalam.
“Sora..” Panggil Sammy lirih.
“Hem?” Kata Sora menoleh ke arah
Sammy, jarak mereka sekarang cukup dekat.
“Aku ingin mengatakan sesuatu
padamu.”
“Apa?”
“Aku tahu ini salah, tapi aku tidak
bisa menahan nya lagi.
“Maksudmu?”
“Maafkan aku, aku sudah menghianati
janji ku sendiri, janji kita bertiga bahkan.”
“Sam, apa maksudmu? Aku sungguh tidak
mengerti?”
“Aku.. mencintaimu Sora.”
“Apa?”
“Maafkan aku, aku sudah melanggarnya,
sebenarnya sejak pertama kali pertemuan di bukit kala itu, aku sudah
menyukaimu, ku kira ini hanya sesaat, tapi ternyata tidak, sampai kepergianmu
ke Netherlands pun, aku masih tetap mencintaimu, dan menunggumu untuk
mengatakan hal ini Sora, aku yakin sudah saat nya aku mengatakan ini.”
“Sam.. maafkan aku juga, sebenarnya
aku juga sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di bukit.”
“Sungguh?” kata Sammy meyakinkan,
Sora pun mengangguk.
Perlahan Sammy semakin mendekatkan
wajahnya ke arah Sora, semakin dekat, semakin dekat dan. Chu~. Sammy mencium
Sora. Entah apa yang ada di pikan Sora saat itu, merasa bersalah? Tentu, ia
sudah menghianati janjinya, janji mereka, dan khusunya pada Sean. Ia tiba-tiba
teringat akan kejadian malam itu, malam dimana Sean akan melakukan hal ini tapi
ia menolak nya dengan cara yang bisa dibilang tidak sopan, tapi ia memang tidak
mencintai Sean, ia hanya menganggapnya sebagai sahabat, Kakak, dan saudara,
tidak lebih.
“Terimakasih.” Kata Sammy lirih,
setelah mereka melepaskan tautan bibir mereka. Sora mengangguk dengan senyum
sipu.
Ternyata Sean mendengar pengakuan
Sammy dan Sora yang saling mencintai tak hanya itu, ia juga melihat perbuatan
gila yang dilakukan Sammy dan Sora. Hatinya begitu terluka, melihat orang yang
dia sayangi lebih dari sekedar sahabat ternyata mencintai pria lain, dan yang
paling menyakitkan adalah pria itu, sahabatnya sendiri. Dan yang membuat
hatinya sakit lagi yaitu dua orang sahabatnya menghianatinya di depan mata
kepalanya sendiri.
Rumah Sean,
Akhirnya Sora diantar pulang oleh
Sammy ke rumah Sean, setelah Sean meninggalkan nya begitu saja di rumah Sammy
tadi siang. Sora melangkah masuk ke dalam rumah, ada Ibu Sean bersama beberapa
teman nya di ruang keluarga bawah, rupanya Ibu sedang ada pertemuan dengan
teman-temannya. Sorapun sempat di kenalkan ke teman-teman Ibu, kemudian ia
pamit untuk menemui Sean ke kamarnya.
“Se? Kau didalam?” Kata Sora sambil
mengetuk pintu kamar Sean.
“Iya, kenapa?” Kata Sean menjawab.
“Bukalah pintu untukku se! Oh iya!
Dasar bocah iseng! Kenapa kau meninggalkanku di rumah Sammy hah?” Kata Sora
cerewet. Tak ada jawaban dari Sean.
“Se? Ka tidur?”
Tak ada jawaban lagi dari Sean.
“yasudah lah! Kalau begitu, tidurlah,
agar lelahmu hilang.”
Sora pun melangkah masuk ke dalam
kamarnya yang berhadapan dengan kamar Sean. Ia terus berfikir, apa yang terjadi
pada Sean, kenapa tiba-tiba sikapnya berubah.
Malam harinya,
“Se? Kau sudah bangun kah?” kata Sora
mengetuk kamar Sean.
“Aish! Bocah itu, masih tidur rupanya dia.”
Sora pun turun dan makan bersama
orangtua nya. Setelah apa yang dilihatnya tadi sore di kamar Sammy, membuat
Sean sangat terluka. Dirinya bagaikan tertindih langit yang seluas ini. Entah
apa yang ia rasakan, marah, kesal, kecewa bercampur menjadi satu.
Flashback
Kamar Sean,
“Ya Tuhan! Hal bodoh apa yang aku
lakukan tadi, aku hampir saja menghancurkan persahabatan ini, aku hampir saja
menghianati mereka, Sammy, Sora, maafkan aku.” Kata Sean setibanya di rumah setelah
pergi ke Efftaling bersama Sora malam itu.
“Bodoh kau Se! Bodoh!” Kata Sean
memukul-mukul kepalanya sendiri, menyesali perbuatan nya.
“Kau harus bisa menahan nya Se! Dia
itu sahabatmu! Dia itu adikmu! Kau harus menjaganya! Bukan menyakitinya! Bodoh
kau Se!” Kata Sean lagi masih dalam rasa bersalahnya.
“Ayolah Sean! Lupakan cinta ini!
Pendam! Jangan biarkan persahabatan ini hancur hanya karena keegoisanmu! Lupakan..
lupakan.. lupakan.. pasti bisa! Ayo se! Kau pasti bisa! Mereka sahabatmu! Dan
Sora adikmu! Pasti bisa Se!” kata Sean berjanji pada dirinya sendiri.
Flashback end.
Dan mulai saat itu, ia berniat untuk
mengubur cintanya pada Sora demi menjaga persahabatan mereka, tapi ternyata
usahanya yang begitu berat ini, di hancurkan oleh keegoisan dua orang
sahabatnya yang lain. Hancur. Hancur semua nya, perasaan nya, kepercayaan nya,
hancur semua.
Keesokan harinya,
“So?” kata Sean mengetuk pintu kamar
Sora.
“Iya. Sebentar.” Terdengar suara Sora
dari dalam. Tak lama pintu pun terbuka.
“Ada apa Se?” Tanya Sora dengan wajah
polosnya.
“Kita ke bukit yuk, ada yang ingin
aku bicarakan.”
“Ok, tunggulah sebentar aku ambil tas
ku dulu.” Kata Sora segera berlari kedalam kamar, kemudian segera keluar.
Bukit,
“Kau kenapa sih? Sikapmu ko berubah
sejak kemarin?” Tanya Sora dengan lembut.
“So, aku melihat pengakuan mu dan
Sammy kemarin?”
“Apa?!” Sora terkejut mendengar
ucapan Sean, dia merasa sangat bersalah pada Sean, Sean sudah menjadi sahabatnya
selama kurang lebih tiga belas tahun dan dengan seketika dia merusaknya.
“Dan bukan hanya itu, aku juga
melihat kau dan Sammy..”
“Se, maafkan aku, aku tahu aku salah,
tapi aku..” Kata Sora memotong ucapan Sean, dia mengerti maksdu Sean, sambil menangis
dia berusaha menjelaskan pada Sean, tapi Sean memotong ucapan nya.
“Aku juga mencintaimu So..”
“Apa?!” Sekali lagi Sora terkejut.
“Bahkan sejak kita masih berusia dua
belas tahun hingga saat ini.”
“Tapi Se, maafkan aku, aku sangat
mencintainya.” Kata Sora, kemudian pergi meninggalkan Sean.
Sementara Sean masih dalam posisinya
terduduk di bukit, ia tak sanggup untuk mengejar Sora, ia mengabaikan janjinya,
janji untuk melupakan cintanya pada Sora.
***
Setelah perbincangan nya dengan Sora
di bukit pagi tadi, dia memutuskan untuk kembali ke Holland, meninggalkan
kenyataan pahit yang ada dihadapan nya, ia tak sanggup terlalu lama melihat
kebersamaan Sora dan Sammy, dalam hubungan lain. Setelah mengemasi semua
barangnya dan siap untuk pulang besok, Sean mengunjungi bukit itu lagi seorang
diri. Ia mengenang kenangan-kenangan indah bersama kedua sahabatnya itu. Bahkan
kenangan selama di Indonesia yang belum sampai seminggu ini. Ternyata Sean tak
sendiri, selang satu jam keberadaan nya di bukit, Sora pun datang. Sora sengaja
menyusul Sean ke bukit, setelah melihat kamar Sean yang kosong tak ada
pemiliknya dan terlihat sebuah koper dan tas besar milik Sean sudah berada di
atas kasur.
“Se..” panggil Sora lirih. Sean pun
menolehkan kepalanya ke arah suara.
“Sora?” kata Sean yang sedikit
terkejut melihat Sora sudah berada di belakangnya.
“Kau mengikutiku?” Kata Sean
bertanya, sok tahu.
“Tidak, tadi aku ke kamarmu, tapi kau
tidak ada di kamar.” Kata Sora yang sekarang sudah duduk di bukit disamping
Sean.
“kau akan pulang ke Holland Se?” Tanya
Sora.
“Iya, aku ingin menenangkan diriku
So.” Jawab Sean dengan mata masih tertuju ke arah danau di depan bukit.
“Kapan?” tanya Sora seperti tidak
rela.
“Besok, aku sudah memesan tiket
pesawat untuk keberangkatan pertama pukul delapan pagi.”
“Maafkan aku Se..” Kata Sora yang
tiba-tiba menangis di lengan Sean. Sean terkejut, dengan refleks dia pun
membenarkan posisinya, sekarang Sora sudah dalam pelukan tangan Sean.
“Sudahlah So, lupakanlah. Aku sudah
merelakanmu bersama Sammy. Aku memang mencintaimu tapi sebisa mungkin aku kubur
perasaan ini So, lagipula niatku bersahabat denganmu untuk selalu membuatmu
bahagia, dan sekarang kau bahagiakan bersama Sammy, maka akupun begitu So, oh
iya mengenai kuliah, kau tak perlu khawatir karena merasa tak enak hati tinggal
bersama ku, aku akan memadatkan kuliahku, dan akan ujian mendahului jadwal dan
aku akan pindah ke German, untuk melanjutkan S2 ku.” Kata Sean, dengan sangat
bijaksana.
“Maafkan aku, aku benar-benar minta
maaf Se, aku bersalah besar padamu, aku juga sudah menceritakan pada Sammy
tentang hal ini, dia juga ingin meminta maaf padamu.” Kata Sora masih sambil
terisak dalam pelukan Sean. Sean menganggukan kepalanya sambil mengelus pundak
dan kepala Sora dengan lembut.
***
Malam ini, malam terahir Sean berada
di Indonesia sebelum ia kembali ke Holland besok pagi, ia pun mengunjungi rumah
Sammy untuk berpamitan. Sesampainya di rumah Sammy, setelah dipersilahkan untuk
masuk, Sean segera melangkahkan kakinya menuju kamar Sammy. Sesampainya di
depan pintu kamar Sammy, Sean mengambil napas dalam sejanak, kemudian membuka
knop pintu. Sammy yang menyadari pintu kamarnya terbuka menolehkan kepalanya
kearah pintu, emosinya membara melihat Sean begitupun Sean, emosinya tak
tertahankan ketika melihat Sammy di hadapan nya, dan teringat kejadian waktu
itu di kamar Sammy.
Tangan nya mengepal sekuat tenaga,
kemudian BUKK!! Ia mendaratkan tonjokan nya di pipi kanan Sammy, hingga Sammy
terhuyung kebalakang. Sammy membalasnya dengan lebih keras, hingga Sean pun
terjatuh.
“Sebenarnya aku tidak berniat
memukulmu, tapi saat melihat wajahmu aku teringat saat kalian menyatakan saling
cinta dan berciuman di kamar ini.” Sammy seperti tercekik mendengar ucapan
sahabatnya, tapi ia juga tidak bisa menerima bahwa Sean dan Sora bertemu
diam-diam di bukit dan dia mengatakan cinta pada Sora, meskipun Sora sudah
mengatakan kalau Sora mencintainya.
“Kau juga! Aku melihat kalian di
bukit tadi pagi, dan kau mengatakan cinta pada Sora.” Kata Sammy berteriak
kepada Sean. Ternyata saat Sean dan Sora berada di bukit tadi pagi, Sammy pun
berada di bukit.
“Tapi Sora sudah memilih kamu!” Kata
Sean tak kalah berteriak.
“Sudahlah, lagipula aku sudah
merelakan kalian berdua.” Kata Sean yang mulai menormalkan nada bicaranya.
Seperti menyadari yang di bicarakan
Sean tadi, Sammy pun mengulurkan tangan nya untuk membantu Sean berdiri, yang
terjatuh karena tonjokan Sammy tadi.
“Sebenarnya, tujuan utama ku datang
kesini untuk berpamitan pada mu, aku akan kembali ke Holland besok pagi pukul
delapan.” Kata Sean, dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Mendengar ucapan Sean, Sammy pun
menarik tubuh Sean kedalam pelukan nya, sekarang mereka berpelukan dan
menangis.
“Maafkan aku Se.” Kata Sammy, di
tengah-tengah tangisnya masih dalam posisi berpelukan.
“Iya, lupakanlah Sam. Jagalah Sora,
dia sahabatku dan dia juga adikku.” Kata Sean menjawab ucapan Sammy.
“Pasti Se, pasti akan ku jaga dia.”
The end
Komentar