Secret Admirer
“Aku mendapatkan beberapa fotonya!”
“Kau bercanda? Bagikan padaku!”
“Aaah.. sungguh mempesona!”
“Ini. Bagaimana? Tampan bukan?”
“Bagaimanapun dia akan selalu terlihat tampan!”
“Kau benar!”
Segelintir percakapan itu terdengar jelas ditelingaku
selepas pertandingan basket antar kelas selesai. Aku seolah tidak peduli dengan
apa yang mereka katakan. Dia memang tampan, tak ku pungkiri aku juga
menyukainya. Hanya sebatas suka. Mengaguminya. Mengagumi ketampanannya. Tidak
lebih.
Kakiku melangkah meninggalkan lapangan basket dan
beranjak menuju ruang kelas. Aku memikirkan kejadian tadi pagi. Sesaat setelah
aku kembali dari perpustakaan aku membawa banyak buku, aku pun memeluk beberapa
buku yang ada di tanganku dan meletakannya di depan dada. Tiba-tiba, BRUK!
Seseorang menabrak ku. Buku-buku yang ku bawa terjatuh, berserakan di lantai
koridor sekolah.
“Maaf,” katanya singkat.
Aku mendongakan kepalaku menatap si pemilik suara.
Setelah aku melihatnya entah kenapa jantungku berdegup kencang dan darahku
berdesir tak seperti biasanya.
“Ka Sean..” Kata ku lirih sambil menelan liur ku dan
tatapan mata ku tak lepas dari bola mata hitamnya yang begitu lekat menatapku
juga.
Kami saling bertatapan untuk beberapa saat.
Tatapannya yang tenang namun tajam.
“Sekali lagi maaf ya, ini buku-bukunya,” Ujar Kak
Sean kemudian berlari meninggalkan ku.
Entah kenapa aku jadi gugup seperti ini, padahal
biasanya aku selalu cuek jika temn-teman membicarakan soal Kak Sean. Tapi,
setelah aku menatap matanya secara langsung seperti tadi aku seperti
terhipnotis. Tampan sudah pasti, tapi ini perasaan yang berbeda.
Ah! Tidak mungkin! Aku hanya sekedar mengaguminya,
lagipula dia sama sekali bukan tipe ku, laki-laki dingin seperti dia mana
mungkin bisa tahan terhadap aku yang cerewet dan manja ini.
Kulihat ke sekelilingku, beberapa pasang mata
memperhatikan ku saat ini. Aku menyadari itu, mungkin mereka melihat adegan
dramatis ku dengan Kak Sean beberapa menit detik yang lalu. Maka dengan segera
kulangkahkan kaki pergi dari koridor itu dan segera berjalan menuju ruang
kelasku.
***
“Donna!” Panggil Ratna sahabatku ketika aku sampai
dikelas.
“Ada apa?” Tanyaku sambil berjalan mendekatinya.
“Ada surat lagi di mejamu,” kata Ratna sambil
mengacungkan surat beramplopkan warna biru tua, warna favoritku.
“Dari siapa?” Tanyaku.
“The secret admirer, again,” kata Ratna sambil
sedikit terkekeh.
Aku tersenyum kemudian meraih amplop itu dari tangan
Ratna. Ku buka amplop itu, dan ku baca suratnya dalam hati.
Apa kabar? Apa
kau sehat? Lalu sekarang apa kau sudah mempunyai kekasih? Hem, tetaplah
tersenyum, Donna. Secret Admirer.
Kuhela nafasku, kemudian tersenyum.
“Jika saja ia gentle, akan ku paksa kau menerima
cintanya,” celetuk Ratna. Aku hanya terkekeh pelan mendengar celetukannya.
Kemudian kuletakkan tasku di mejaku.
“Memang seperti apa sih tipemu?” Ratna menjeda
ucapan nya, menghisap lolipop kesukaan nya, “Jangan jangan kau menyukai kapten
basket itu ya?” kata Ratna menebak nebak.
“Dia hanya menang tampan. Sikapnya terlalu dingin. Aku
tidak suka.” Balasku santai.
Aku tidak berniat menceritakan kejadian tadi di
salah satu koridor sekolah dan tentang apa yang aku rasakan tadi saat bertemu
dengan Kak Sean, karena ku yakin Ratna akan cerewet membahas soal ini.
***
Aku melangkahkan kakiku menuju loker. Mengembalikan
beberapa buku yang tadi kupakai dan mengambil beberapa buku untuk pelajaran
selanjutnya. Ku buka lokerku dan segera meletakkan buku buku yang ada
ditanganku. Saat ku meletakkan bukuku, sesuatu terjatuh dari sana. Sebuah pin
kecil bertuliskan sebuah huruf S.
“S?” Gumamku sembari mengerutkan dahi. Seketika
pikiranku kembali mengingat Kak Sean.
“Sean bukan tipeku, dia terlalu dingin,” ujarku
pelan berusaha menenangkan diri.
“Tunjukan padaku bagaimana tipe lelaki idaman mu,”
aku tersentak kaget mendengar seseorang berbicara di balik tutup loker ku.
Kulongokkan kepalaku ke balik penutup loker, mataku
sedikit terbelalak. Kak Sean. Lagi lagi jantungku berdegup cepat.
“Kak Sean? Apa yang Kakak lakukan disini?” Tanyaku
sambil berusaha menghilangkan kegugupanku.
“Mengambil buku. Apakah itu terlihat salah?” kata
Kak Sean bali bertanya sembari melangkah mengambil buku di loker miliknya. Aku
menggeleng pelan, lalu meninggalkan nya.
Baru beberapa langkah aku berjalan, Kak Sean
mencegahku.
“Tunggu!” Katanya berseru. Kuhentikan langkah ku, lalu
menoleh kearahnya.
“Tunjukan padaku, Donna.” Katanya sambil menutup
lokernya. Aku terkejut, bagaimana dia bisa mengetahui namaku.
“Tunjukan apa?” Tanyaku sambil berusaha menutupi
kegugupanku.
“Tipe pria mu?”
“Kak, aku harus pergi sekarang,” kataku kemudian
langsung pergi meninggalkannya.
“Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku,” teriaknya
agak keras, tapi aku pura-puta tak menghiraukan nya, jujur aku sangat malu saat
Kak Sean berteriak mengatakan seperti itu.
***
Keesokan harinya, sama seperti kemarin, si pengagum
rahasia itu mengirimiku surat bahkan sekarang ia menyelipkan surat itu disebuah
kotak berisi coklat.
“Secret admirer lagi?” Tanya Ratna, yang baru saja datang.
“Iya..” Kataku sambil membaca suratnya, isinya
selalu sama, menanyakan kabar, menanyakan statusku apakah masih seperti dulu
atau sudah memiliki kekasih, dan diakhirnya pasti tertulis tetaplah tersenyum
Donna.
“Kau tidak bosan membaca surat yang sama setiap hari
Donna?” Tanya Ratna, lalu mengambil kotak berisi coklat itu.
“Tidak, biarlah, ini haknya, lagipula dia tidak
mengganggu ku,” jelasku pada Ratna.
Ratna mengangguk-angguk, “Yaaah, kau masih sama
seperti dulu, terlalu polos. Tidak! Tidak! terlalu baik menurutku,” katanya,
yang sudah melahap beberapa potong coklat itu.
“Coklatnya enak, kreasi baru dari Ibumu?” Tanya nya,
sambil menunjukkan bagian coklat sisa gigitan nya.
“Bukan, itu pemberian si secret admirer Na,”
“Oh jadi sekarang dia menambahkan coklat di
suratnya?”
“Yaa, begitulah.”
“Aku semakin penasaran, siapa sih si secret admirer
ini,”
“Aku juga,” kataku.
“Oh ya, bagaimana kau dengan si kapten basket itu?”
“Bagaimana apanya?” Kata ku bingung.
“Yaa, bagaimana, apakah kau masih menyukainya? Atau
sekarang kau justru mencintainya?!”
“Sekedar menyukai, tidak mencintai! Lagi pula dia
terlalu dingin.”
“Iya, kau benar, memang sulit mendekati lelaki
seperti Kak Sean.”
***
Aku berjalan melangkahkan kakiku melewati koridor koridor
sekolah seperti biasa. Namun apakah yang berbeda dengan ku siang ini, mengapa
semua orang menatapku aneh dan bahkan sinis seperti itu. Akupun masuk kedalam
sebuah ruangan, dimana ruangan khusus loker siswa, aku terkejut ketika melihat
di depan lokerku terlihat ada sebuah kotak yang berisi beberapa tangkai mawar,
begitupun di luar kotak itu berjejer beberapa mawar. Dan tertulis ‘Secret
Admirer’ di setiap tangkai mawar itu.
Ketika aku sedang frustasi memikirkan harus diapakan
mawar-mawar ini, Kak Sean datang mengagetkan ku.
“Banyak sekali mawarnya, dari siapa?” Tanyanya
mengagetkanku. Aku menatap matanya, tatapan yang sama, tatapan yang tenang
namun tajam. Lagi lagi jantungku berdegup melebihi normal. Aku benar-benar
gugup.
“Iya Kak, aku tidak tahu, hanya bertuliskan secret
admirer di tangkai-tangkai mawar itu.” Kataku sedkit terbata-bata karena gugup.
“Lalu akan kau apakan mawar-mawar ini?” Tanya nya
lembut, suaranya begitu lembut menyentuh gendang telingaku, jauh dari kesan
‘cowok dingin’ suaranya tidak se dingin sikapnya -yang dulu-.
“Emm, aku tidak tahu Kak, jika aku membuangnya sama
saja aku menyakiti si pemberi mawar ini, tapi jika aku menyimpan nya mawar ini
terlalu banyak, jika harus ditaruh di dalam loker mungkin hanya masuk beberapa
mawar, dan sisanya tidak mungkin aku membawanya ke kelas.” Terangku mulai bisa
mengendalikan diri.
“Jika kau tidak keberatan, aku mau meminjamkan
lokerku untuk menyimpan mawar-mawar ini.” Tawarnya padaku, sebenarnya tawaran
nya bagus, tapi aku berfikir, bagaimana perasaan si secret admier ini, jika
mengetahui aku menitipkan mawar ini pada loker orang lain, apalagi loker pria
lain. Jadi ku tolak tawaran nya dengan lembut.
“Oh, terimakasih Kak sudah menawariku, tapi
sebaiknya aku letakkan mawar ini disini saja, nanti pulang sekolah akan aku
bawa semua nya.” Kataku menjelaskan.
“Oh baiklah.”
***
Seperti biasa setiap hari si secret admirer itu
memberiku sepucuk surat, dengan isi yang sama namun dengan benda yang berbeda,
mulai dari coklat, mawar, boneka, bahkan sebuah kotak tempat kacamata berwarna
biru yang sangat lucu, dan entah mengapa sekarang Kak Sean jadi lebih sering
menampakan dirinya dihadapanku, ia mulai tak segan berbicara denganku, dan
entah kenapa juga aku mulai merasa senang mendapat perhatian dari Kak Sean, namun pikiran ku tentang Kak Sean si cowo dingin,
belum hilang.
Sebenarnya apa
yang dia inginkan dariku, pikirku mengira-ngira. Setiap kali Sean
mendekatiku, hampir bersamaan dengan barang-barang dari si secret admirer itu.
Hubungan kami semakin dekat, Kak Sean sering mngajakku untuk pergi ke
perpustakaan bersama, atau pergi ke kantin bersama, aku senang bisa dekat
dengan Kak Sean. Namun, ini seperti beban, karena gadis-gadis lain disekolah
yang menyukai Sean jadi bersikap acuh padaku.
Hari ini aku menunggu Kak Sean berlatih basket di
sekolah.
“Hei, sudah lama menunggu?” Tanya nya mengahmpiriku dengan
keringat bercucuran di wajahnya dan tentu bola basket di tangannya.
“Aku baru datang Kak. Bagaimana latihannya?” Tanyaku
dengan senyum mengembang di wajahku.
“Lancar. Seperti biasa.”
Kemudian kami pulang, Sean mengantarku pulang
kerumah, ini kali keduanya aku diantar pulang olehnya, dan menemaninya berlatih
basket.
“Terimakasih Kak,” kataku sambil tersenyum
kepadanya.
“Iya, tidak usah sungkan,” katanya membalas dengan
senyuman manisnya.
“Baiklah aku pulang ya.” Tambahnya.
“Iya, hati-hati Kak,”
***
Apa kabar? Apa
kau sehat? Lalu sekarang apa kau sudah mempunyai kekasih? Hem, tetaplah tersenyum,
Donna. Secret Admirer.
Aku tersenyum membaca surat dari si secret admirer
itu, kali ini gelang yang dia berikan untuk ku, masih dengan warna yang sama,
biru tua, gelang bertuliskan namaku ini sangat lucu ditanganku.
“Hei kenapa kau tersenyum sipu begitu.” Tiba-tiba
suara Sean mengaggetkan ku.
“Lucu kan?” Tanya ku padanya sambil menunjukkan
gelang pemberian si secret admirer itu.
“Sangat lucu.” Katanya memegang tanganku melihat
gelang itu.
Dadaku bergemuruh, jantungku berdegup tak karuan
ketika tangan nya, memegang tanganku, dan kini aku mulai berkeringat dingin. Aku
yakin Sean pasti bisa merasakan betapa dinginnya tanganku. Kemudian dia
terkekeh melihatku.
“Ada apa?” Tanyaku seolah tak terjadi apa-apa dengan
ku.
“Kau lucu.” Katanya masih dengan terkekeh.
“Maksudnya?” Tanyaku bingung dengan ekspresi yang ku
yakini panik seperti orang yang dikejar hantu.
“Wajahmu memerah seperti udang rebus baru saja
matang.”
Aku memegang pipiku menutupinya dengan tangan ku.
“Oh iya, aku ingin memberi tahumu, aku akan
bertanding antar kelas.”
“Benarkah? Kapan?” Secepat mungkin aku berusaha
menguasai rasa gugup ku.
“Besok, datang ya.” Pintanya dengan senyum lebar.
“Oh, iya, tentu.” Jawab ku lalu tersenyum ke
arahnya.
***
Hari ini aku sengaja datang pagi, karena harus
mempelajari beberapa materi yang belum kupelajari untuk kuis siang nanti,
karena bukuku tertinggal di loker. Dengan santainya aku melangkahkan kaki ku
menuju ruang loker, suasana masih sangat sepi karena masih agak pagi, tiba-tiba
ku lihat Sean tengah mengendap-endap di ekat lokerku, kulihat dia meletakkan
kotak kecil di depan lokerku, dan menempelkan sepucuk surat dengan beramplopkan
biru tua.
“Kak Sean?” Aku terkejut dengan apa yang ku lihat
saat ini.
“Apakah selama ini dia yang menjadi si secret
admirer?” Kataku lirih.
Perasaan kecewa, kesal, marah semua bercampur jadi satu,
aku merasa bodoh, sudah dibohongi sejauh ini. Aku sangat kecewa pada nya, sosok
yang sangat ku kagumi ternyata melakukan hal yang membuatku sangat kecewa.
“Kak Sean?” Panggil ku.
Dia menolehkan kepalanya, dia menatapku dengan
tatapan yang sangat terkejut.
“Donna, aku tak bermaksud membohongimu.” Dia
berusaha memberi penjelasan seolah mengerti kalau aku sangat marah karena di
bohongi olehnya.
“Tak kusangka, Kakak berbuat seperti ini, asal Kakak
tahu, aku mengagumi Kakak sejak lama,
dan belum lama ini aku mulai menyukai Kakak, aku melihat kakak sosok
yang sangat baik dan bahkan aku menepis pikiran ku kalau Kakak orang yang
sangat dingin dan menyebalkan, tapi tak kusangka Kakak membohongiku sejauh
ini.” Kuluapkan kekecewaanku saat itu juga, dan akupun pergi meninggalkan nya.
Air mata mulai berkumpul di pelupuk mataku. Rasanya
aku sangat ingin menangis.
***
Siang ini pertandingan basket tim Kak Sean sedang
berlangsung, aku ingin sekali melihatnya, memberi dukungan padanya, namun aku
sudah sangat kecewa padanya, rasanya berat, melangkahkan kaki kearah lapangan.
Tapi aku mencoba nya. Lalu perlahan aku
melangkahkan kakiku menuju lapangan. Belum sampai pagar lapangan pun
sudah jelas terlihat banyak siswa siswi yang datang ke sana. Apa lagi yang
mereka lakukan jika tidak menyaksikan Kak Sean.
“Donna! Mengapa baru datang?! Kak Sean cedera! Ia
sedang di ruang perawatan!” Seru seorang siswa teman satu angkatan Kak Sean
yang menonton, memberitahuku.
Akupun panik, aku segera berlari menuju ruang
perwatan tanpa mengucapkan terimakasih terlebih dahulu pada Kakak itu.
Sampai diruang perawatan aku melihat seorang siswa
anggota kesehatan sekolah tengah melilitkan perban ke kaki kiri Kak Sean. Aku
segera berlari menghampirinya.
“Kak, Kakak baik-baik saja? Maafkan aku. Jangan
terlalu memaksakan diri.” Ujarku sambil menggenggam tangan nya. Tak adalagi
rasa kecewa, tak ada lagi rasa kesal yang ada saat itu hanya kasihan, khawatir
dan berharap Kak Sean baik-baik saja.
“Tenanglah aku baik-baik saja. Kau minta maaf? Untuk
apa? Kau tidak salah aku yang salah.” Katanya sambil tersenyum.
“Tidak seharusnya aku mengatakan hal itu tadi pagi,
karena kau.. sudah berhasil membuatku jatuh cinta padamu.” Kataku mengungkapn
perasaan ku.
“Ya memang, akhirnya aku berhasil.”
“Maaf.” Ucapnya beberapa saat kemudian.
“Untuk apa lagi?”
“Aku terlalu pengecut. Selama ini aku juga meyukaimu
tapi aku tak berani mengungkapkannya. Surat surat itu, kotak kacamat, gelang,
boneka, coklat, bunga mawar itu semua dari ku, aku adalah si secret admirer
itu. Maafkan aku Donna.”
Aku menangis terharu atas pengakuan nya, tanpa
menghiraukan sekitarku aku pun refleks memeluk Kak Sean, dan begitupun Sean.
End

Komentar