Sahabat Yang Berulah
“Imel, lagi ngapain sih kamu? Kok ngendap-ngendap didepan ruangan Pak Mahmud?” Kata Rio yang tiba-tiba muncul di belakang Imel entah sejak kapan.
“Astaga, Kakak bikin kaget aja sih.” Kata Imel yang terkejut dan sedikit salah tingkah di depan Kakak senior yang kabarnya menaruh hati pada Imel.
“Ya lagian kamu ini ngintip-ngintip ruangan Pak Mahmud, mau apa sih?” Rio bertanya dan sekarang malah ikut-ikutan mengintip kedalam ruangan.
“Aku mau ketemu sama beliau Kak, mau ada yang aku bicarakan.”
“Tentang apa? Mau ngumpulin tugas yah? Masuk aja, ngapain pake ngintip-ngintip dulu sih?”
“Aduh ssssttt!! Kakak berisik banget sih.” Kata Imel yang mulai risih dengan kalimat-kalimat yang Rio ucapkan.
“Beliau sedang menikmati Sup nya yang tadi baru diantar sama abang dari kantin, aku takut mengganggu Kak.” Imel menjelaskan dengan ekspresi dan gerakan tangan yang terlihat lucu menurut Rio, membuat Rio tersenyum melihat ekspresi Imel.
“Duh ribet banget sih kamu Mel, masuk aja, atau mau Kakak antar?”
“Hiiii gak usah, gak usah, nanti Kakak bawel di dalem bikin malu aku, tahu?” Imel sedikit ketus dan bersiap untuk masuk menemui dosen pembimbingnya itu. Tapi Rio tahu, Imel tidak bermaksud ketus seperti tadi pada Rio. Imel tipe orang yang terlalu mudah nerveous, dan kalau sudah nerveous Imel akan panik. Jadi ekspresi yang tadi di berikan pada Rio adalah salah satu bentuk kepanikan Imel, dan Rio mengetahui itu.
***
Imel sudah di dalam ruangan Pak Mahmud, sementara Rio tidak berniat pergi dari tempat itu, ia lebih memilih menunggu Imel di depan ruangan Pak Mahmud.
“Kak, lagi ngapain berdiri bengong di depan ruangan Pak Mahmud?” Tegur Ata, sahabat Imel yang sudah delapan bulan selalu menemani Imel kemanapun pergi yang tiba-tiba muncul.
“Ih miss kepo nongol darimana sih lo?” Rio sedikit ketus, tapi itu hanya bercandaan, Rio dan Ata memang lebih terlihat akrab dibandingkan dengan Rio dan Imel yang dikabarkan saling menyukai itu.
“Ih kebiasaan banget sih, gue bukan miss kepo!” Ata tidak terima dengan statement Rio. Melupakan pertengakaran itu, Ata teringat tujuan utamanya yaitu, ingin menjemput Imel. “Eh Kak, lo liat Imel?”
Rio menunjuk kearah pintu ruangan Pak Mahmud tanpa menjawab pertanyaan Ata dan dia malah balik bertanya, “Ada apa sih? Dia mau ngapain ketemu sama Pak Mahmud?”
“Oh dia belum cerita sama Kakak?” Dengan ekspresi datar Ata balik bertanya, dan di balas ekspresi penuh tanya dari Rio.
“Dia kan mau cuti dari kampus Kak.” Ata menjawab sambil tangan nya terus mengelus-elus lengan Rio, seolah memberi kekuatan pada Rio bahwa Imel akan meninggalkannya, sementara Rio hanya menampakan ekspresi tidak mengerti, “Gimana sih lo, katanya naksir sahabat gue, masa gak tahu beritanya, norak lu Kak!”
“Serius lo?” Ekspresi Rio berubah seratus delapan puluh derajat, setelah mendengar penjelasan Ata. Ata menjawab dengan anggukan dengan ekspresi yang tetap datar.
“Cuti kenapa? Mau ngapain sih dia cuti?” Rio kembali penasaran.
“Dia itu mau mencoba mewujudkan mimpinya menjadi seorang polwan, keren kan sahabat gue, bangga dong lu punya gebetan calon polwan, ya kan?” Ata dengan gaya konyolnya menjawab pertanyaan Rio.
“Dia itu mau mencoba mewujudkan mimpinya menjadi seorang polwan, keren kan sahabat gue, bangga dong lu punya gebetan calon polwan, ya kan?” Ata dengan gaya konyolnya menjawab pertanyaan Rio.
“Polwan? Dia mau sekolah polisi?"
“Iya, kenapa sih ekspresi lo? Kaya gak suka gitu..”
“Iyalah, gue jadi gak punya kesempatan buat lebih deket sama Imel.”
“Makanya tembak dong, delapan bulan lo naksir, tujuh bulan kalian deket masih gak berani buat nembak? Masa, senior yang katanya kece ini, gak berani nembak sahabat gue yang kalem gitu? Huuu cupu!” Ata semena-mena mengatai Kakak seniornya yang sudah berekspresi bingung seolah memikirkan ada benarnya juga ucapan Ata.
“Eh iya, dan asal Kakak tahu dia cuti mulai besok, nanti malem jam satu dia on the way bandara, dia mau balik ke Sulawesi.” Ata menambahkan dengan sangat meyakinkan.
***
Tak berapa lama setelah percakapan itu Imel pun keluar dari ruangan dosen.
“Mel, dikasih ijin sama Pak Mahmud? ” Tanpa basa basi Rio langsung menanyakan maksudnya. Imel hanya menjawab dengan senyuman dan anggukan. Sementara ekspresi Rio berubah sedikit muram.
“Gimana udah dikasih ijin sama Pak Mahmud?” Ata menanyakan lagi pertanyaan yang sama, dan dijawab dengan anggukan dan rangkulan dibahu dari Imel, dan mereka pun melompat kegirangan tanpa memperdulikan ekspresi Rio yang tidak enak untuk dilihat itu.
Mereka bertigapun berjalan keluar lorong, dengan Rio yang sudah mulai terlihat santai.
“Imel, kamu udah makan siang?” Rio memulai percakapan di perjalanan mereka.
“Belum Kak.” Kata Imel menjawab dengan senyum manis yang tak lepas dari bibirnya, mungkin itulah salah satu alasan Rio begitu tertarik dengan Imel.
“Makan yuk, tapi berdua aja jangan ajak miss kepo, berisik nanti.” Kata Rio sambil memandang kearah Ata.
“Heh! Udah berapa kali gue bilang, gue bukan miss kepo!" Ata memukul lengan Rio karena tidak terima statement Rio.
Sedangkan Imel hanya tersenyum geli melihat dua orang yang selalu berdebat ini seolah memperebutkan dirinya.
“Yuk Mel..” Rio hendak menggandeng tangan Imel, namun dia tersadar mereka belum ada status jadi dia mengurungkan niatnya dan hanya mempersilahkan Imel berjalan mendahuluinya, tapi Imel masih diposisi sempurnanya, disamping Ata.
“Ehm.. Kak, Sorry bukan nya aku gak mau, tapi aku belum Shalat lagian tadi pagi aku masak jadi aku makan di kost-an aja deh, lain kali aja ya kita makan sama-sama, gimana?”
“Oh gitu.. Tapi kan kamu mau cu..” Belum selesai Rio menjawab statement Imel, Ata sudah memotong pembicaraan nya.
“Kasian!!! Ditolak lunch bareng sama sahabat gue hahaha..” Ata meledek Rio dengan umpatan-umpatan kecil. “Songong sih lu sama junior hahaha..” Rio tidak membalas umpatan Ata, hanya menunjukkan ekspresi tidak suka saja.
“Yaudah nanti sore kita ketemu yah, kamu ada UKM kan?” Rio mencoba penawaran lain.
“Ehm.. Iya insyaAllah Kak, kita duluan ya Kak.” Kata Imel berlalu sambil menggandeng tangan sahabatnya yang sedang tertawa penuh kemenangan.
“Ok, Kakak tunggu di kampus nanti sore.” Rio sekali lagi mengingatkan dengan nada yang lebih kencang, karena Imel sudah mulai menjauh.
***
Petangnya, Imel dan Ata baru saja menunaikan Shalat Maghrib, kemudian ponsel Imel berdering, dan tertera nama si penelepon yaitu Rio.
“Hallo, iya Kak..” sapa Imel kepada Rio.
“Hah? Nunggu dikampus? Serius? Ku kira cuma bercanda Kak, aku minta maaf yah..”
“Apa? Ada di depan Kost ku?”
Mendengar kalimat terakhir dari Imel, dengan penuh semangat Ata pun mengintip dari jendela, dan tidak lama dia berteriak kegirangan karena melihat sosok Rio di depan gerbang kost mereka, tapi sayang kegirangan itu tidak bertahan lama, karena Imel membekap mulut Ata dengan seketika karena Ata yang berisik.
“Iya Kak, tunggu sebentar, aku akan turun..”
Tut tut tut.. Telepon pun terputus.
“Udah sana turun, jangan bikin dia nunggu lama, kasian kan.. Good luck! Mwah!!” Kata Ata girang dan mendorong Imel untuk segera turun menemui Rio, tak lupa membubuhkan kecupannya pada pipi Imel.
***
Ditemani dengan aroma bakso yang menggugah selera dan suara kendaraan yang berlalu lalang tiada henti, dan lagi diterangi dengan lampu di ujung jalan yang samar-samar Rio dan Imel duduk berdua sambil menikmati semangkuk bakso pesanan mereka.
“Kak, maaf ya, tadi sore aku gak temui Kakak di kampus, ku kira Kakak hanya main-main.” Kata Imel setelah selesai menelan kunyahan butiran bakso terakhirnya.
“Oh, iya gak apa-apa ko Mel, santai aja.” Rio juga baru saja selesai menelan kunyahan butiran bakso terakhirnya, “Ehm.. Mel, nanti malem siapa yang antar kamu ke bandara?”
“Bandara? Mau ngapain Imel ke bandara?” Kata Imel sambil menyeruput sedikit es jeruk pesanan nya.
“Kamu mau balik kan ke Sulawesi?” Kata Rio berusaha mencari kebohongan dari nada bicara Imel, tapi dia tidak menemukan itu.
“Hah? Siapa yang bilang?” Imel menunjukkan ekspresi terkejutnya. Sekali lagi Rio mencoba mencari nada kebohongan, tapi tidak juga ditemukan.
“Kamu mau ambil cuti kan?”
“Cuti? Kakak kenapa sih? Kok jadi aneh gini? Ngomongin aku mau cuti segala?” Kata Imel bingung.
“Terus tadi siang, Pak Mahmud kasih ijin apa sama kamu?”
“Oh itu ijin pengajuan proposal buat minta dana tambahan, UKM kita tiga bulan lagi mau ada acara Kak, aku kan sekretaris di UKM ku, jadi aku yang mengurusi tentang pengajuan proposal ini, lagian mau ngapain aku cuti? Hahaha..”
“Apa? Astaga.. Hahaha.. Hahaha..” Rio tertawa terbahak-bahak. Sementara Imel bingung dengan ekspresi Rio yang berubah secara tiba-tiba.
“Kak? Kenapa sih?” Kata imel dengan penuh tanya dan sedikit takut.
“Imel, kamu beruntung banget punya sahabat kaya Ata si miss kepo itu, tahu?” Kata Rio mulai bisa mengendalikan dirinya dan mulai menjelaskan.
Sementara Imel dengan ekspresi polos mencoba mendengarkan penjelasan Rio, “Mel, aku kaget banget waktu Ata bilang kamu mau cuti kuliah mulai besok dan on the way bandara nanti malem karena jam empat pesawat kamu take off..”
“Oh? Jadi? Ini semua rencana Ata? Astaga, anak itu.. bikin ulah lagi.. ” Imel dan Rio pun tertawa atas semua kejadian yang terjadi hari ini.
Mulai dari Ata yang berbohong soal cutinya Imel pada Rio, Ata yang mengompor-ngompori Rio untuk segera menyatakan perasaan nya hingga mau tak mau Rio mengambil keputusan untuk mengajak makan bersama Imel.
***
Rio dan Imel sekarang sudah berada di depan teras kost-an Imel. Mereka duduk berdua sambil menikmati udara malam yang sejuk.
“Mel, aku mau ngomong sesuatu.. Ehm.. Gak tau kenapa, dari awal aku lihat kamu rasanya tuh beda, bukan cuma sekilas pandang terus suka, bukan gitu. Ada rasa ingin memiliki, ada rasa sayang juga, tapi pas aku mau menyatakan, aku didahului sama junior ku sendiri kan?”
“Reza maksudnya?” Dengan hati-hati Imel bertanya.
Reza, teman Imel dan Ata, teman angkatannya. Awal pertemuannya dengan Reza saat pertama kali yaitu ketika Imel dan Reza ditunjuk untuk menjadi simbolis penerima sertifikat OSPEK, setelah perkenalan saat itu tidak pernah ada komunikasi lanjut antara Reza dan Imel, namun suatu hari Reza meminta kontak Imel melalui salah satu teman Imel yang lain, setelah itu barulah mereka kembali mulai tegur sapa sampai akhirnya Reza menyatakan perasaannya. Imel menerima pernyataan Reza karena ia mendengar kabar kedekatan Rio dan Raya, secara tidak langsung Imel menerima Reza karena patah hati dengan Rio. Kemudian mereka menjalin hubungan beberapa minggu sebelum akhirnya Reza memutuskannya juga.
“Iya gitu deh, semenjak aku tahu kamu sama junior itu, rasanya sakit banget Mel, sempet kepikiran buat ngelupain kamu tapi makin dicoba makin susah dan makin bikin sakit, akhirnya aku mutusin buat cari pelarian, yaitu ke Raya."
Raya, mantan kekasih Rio sekaligus teman angkatan Imel yang dulu dikabarkan cukup dekat dengan Reza, makanya Imel sempat bingung saat Reza justru mengungkapkan perasaan pada dirinya bukan pada Raya, sedangkan yang Imel tahu saat itu Reza cukup dekat dengan Raya.
Hingga akhirnya Imel mendengar kabar kalau Rio dan Raya menjalin hubungan. Imel yang mengetahui kabar itu sempat juga merasakan sakit hati. Sebenarnya apa yang dirasakan Rio, dirasakan juga oleh Imel. Perasaan nyaman itu.
Sebagaimana harusnya wanita bersikap, bukan tidak boleh jika wanita menyatakan duluan. Hanya saja, Imel yang memang berkarakter kalem tidak pernah terbersit sedikitpun untuk menyatakan terlebih dahulu, ia juga tidak menyalahkan Rio yang seolah tidak bernyali karena tidak kunjung menyatakan perasaan nya, walaupun Imel sudah sering mendengar kabar burung kalau Rio menaruh hati padanya dan Rio Imel memang sudah cukup dekat, walaupun mereka tidak pernah terlihat bersama di kampus.
“Ehm.. asal Kakak tahu, ketika aku dengar Kakak dekat dengan Raya, status aku dan Reza masih sebagai teman, tapi karena sakit hatiku, aku berusaha lepas dari bayang-bayang Kakak dan aku memutuskan untuk menerima Reza.”
“Jadi, intinya kita ini salah paham? Dan sekarang, kamu udah gak sama dia, begitupun aku. Dan kita juga udah tahu perasaan masing-masing.”
Rio menarik nafas panjang mencoba menenangkan dirinya, “Imel, gak tau kenapa, aku susah banget buat lepas dari bayang bayang kamu, mungkin aku terlihat cuek di kampus sama kamu, tapi ngga pernah aku bisa lepas dari bayang bayang kamu, gak ngerti juga kenapa aku merasa yakin sama kamu, kamu mau gak jalanin hari-hari selanjutnya sama aku? Susah seneng kita jalanin sama-sama, apapun yang terjadi kita bakal tetap sama-sama, kamu mau?”
“Ehm.. maksud Kakak?"
"Aku gak bilang kita terikat dalam suatu hubugan, aku kasih kebebasan sama Imel berteman sama siapapun, tapi aku mau kita saling jaga hati. Aku jaga hati buat Imel, begitupun sebaliknya. Imel mau?"
Dngan senyum manis Imel menjawab dengan tatapan mata yang meyakinkan "Iya Kak, Imel mau, Insyaallah Imel jaga hati ini buat Kakak."
Kemudian Rio mengeluarkan selembar uang kembalian pada saat membayar bakso tadi, menyobek sedikit bagian tengah uang kertas itu pada Imel.
Dengan sedikit bingung Imel menerima nya. "Ini maksudnya apa Kak?"
"Kamu pegang yah bagian kecil itu, aku titip jaga yah.."
"Maksudnya? Ini simbol untuk menjaga hati?"
Rio pun menautkan jemari tangan nya dengan jemari tangan Imel dan mereka saling bertatapan, "Apapun terserah Imel mau menganggap potingan uang itu sebagai apa, tapi aku harap Imel mau jaga, kalaupun suatu hari kita pisah jarak, aku harap Imel akan tetep ngejaganya sampai kita dipertemukan lagi."
Imel tersenyum haru sambil menatap dalam mata Rio.
***
“Ciyee yang baru jadian udah balik..” Kata Ata yang tiba-tiba muncul dari balik selimut, Yap! Imel sekarang sudah berada diatas kasurnya. Setelah beberapa menit lalu, Rio pamit pulang.
“Ih apaan deh, kami gak jadian." Kata Imel masih dengan senyum yang tersungging tipis di sudut bibinya.
"Bohong!!" Kata Ata meledak.
"Beneran deh, kami cuma saling menjaga hati aja Ta, anyway kamu jahil banget sih, pake bilang aku mau cuti segala, berulah aja terus..”
“Ah! Gak apa-apa kalo ulah ku kali ini jadi menyatukan kalian, aku ikut seneng tahu, selamat ya sayang.. mwah..” Kata Ata yang memeluk sahabatnya erat dan mencium pipi Imel sekilas.
Ya, karena Ata yang berulah Rio dan Imel pun saling mengetahui perasaan masing-masing dan berkomitmen untuk saling menjaga hati juga karena ulah Ata, sahabat Imel. Begitulah sahabat, terkadang dia berulah dan rela melakukan apapun meski harus mengorbankan nama baiknya demi kebahagiaan sahabatnya. Seperti Ata, yang rela disebut miss kepo karena terkesan selalu ingin tahu soal perasaan Rio pada sahabat nya, Imel. Namun, ia melakukan hal-hal diluar dugaan Imel dan Rio karena untuk kebahagian Imel dan Rio.
Sahabat adalah mereka yang selalu mengerti tanpa harus diberitahu, mereka yang selalu rela berkorban untuk kebahagian sahabat nya. Jagalah hubungan baik dengan sahabat. Karena satu sahabat lebih berarti daripada seribu teman.
End
Komentar