Novel Cinta Navel
Pesta dan keramaian.
Dua hal yang sangat tidak aku sukai. Entah
kenapa. Tapi aku sangat tidak menyukai dua hal itu. Bahkan sejak aku kecil.
Perayaan ulang tahun semasa kecilpun hanya pernah kualami duakali seumur
hidupku yang sudah kepala dua ini. Saat aku berusia 8 tahun dan 17 tahun.
Itupun karena permintaan orangtuaku. Sungguh aku sangat tidak menyukai dua hal
itu.
Dan sekarang aku harus berada dalam keadaan itu.
Perayaan pesta dan keramaian. Aku bungsu dari dua bersaudara. Hari ini dia
merayakan pesta ulang tahun ke duapuluhtiga nya. Orangtua ku sengaja menyewa
salah satu lobby hotel di kota ini, demi ulang tahunnya.
Suasana di dalam sangat meriah dan tentunya
ramai. Aku bukan tidak senang dihari bahagia kakak ku. Atau iri? Tentu saja
tidak. Orangtua ku tidak pernah memperlakukan kami dengan berbeda. Tidak alasan
untukku iri pada nya. Aku hanya tidak suka pesta dan keramaian. Sudah.
Saat ini aku di taman hotel. Duduk menyendiri
dengan segelas sirup ditanganku. Gemerlap lampu serta lantunan musik yang tidak
memekakan telinga dari lobby terasa samar samar menemani kesendirian ku. Aku
suka sepi, sendiri dan malam hari. Entah kenapa aku justru merasakan duniaku
hidup jika aku berada di kesunyian dan kegelapan malam.
Mataku masih fokus memperhatikan riak air mancur
di taman ini. Telinga ku juga tak kalah fokus mendengar gemricik suara air
mancur itu. Indra peraba ku dimanjakan dengan hembusan lembut angin malam. Aku
suka seperti ini. Tenang.
"Boleh aku temani?"
Tiba-tiba suara bass menyentuh gendang telingaku
mengalahkan suara gemircik yang dari tadi memanjakannya, aku pun menoleh
menelusuri asal suara.
Dia tersenyum. Si pemilik suara itu. Aku membalas
senyuman nya. "Silahkan." Kataku yang langsung berangsut sedikit
memberikan isyarat kepadanya untuk duduk.
"Kamu ngapain disini sendirian?" Tanya
laki-laki itu.
"Cuma duduk." Jawabku cuek dengan tidak
menolehkan kepalaku. Aku tak mempedulikan bahkan jika dia menganggap aku
sombong. Aku... Ya seperti ini, selalu cuek.
"Iya tahu. Maksudku, kenapa ngga di
dalam?" Tanyanya yang mulai terdengar canggung.
"Ngapain? Nemenin Kak Rana? Kan udah ada Kak
Tio." Kataku lagi mulai menoleh dan sedikit tersenyum. Namun kembali
memperhatikan air mancur detik berikutnya.
"Ya.. ngga gitu juga, maksudku.." Suara
laki-laki itu semakin terdengar canggung.
Aku menahan tawa ku mendengar ucapan Navel,
laki-laki itu yang terbata-bata karena kejudesanku. Aku pun memotong ucapan
nya.
"Aku ngga suka pesta dan keramaian."
Kataku sambil tersenyum kearahnya.
"Sama." Katanya.
"O Ya?" Kataku menoleh sedikit tertarik
dengan pernyataan nya.
Dia hanya mengangguk. "Navel." Katanya
mengulurkan tangan berusaha memperkenalkan dirinya.
"Sudah tahu." Kataku sambil tersenyum
mengejek.
Dia tampak bingung dengan tangan masih mengulur
kearahku. "Maksudnya?" Tanyanya.
"Kamu Navel adik nya Kak Tio kan?"
Kataku. Dia semakin bingung sambil terus menatapku dan uluran tangan yang masih
di posisi yang sama.
Aku tersenyum lebih lebar kemudian menerima
uluran tangan nya. "Arista. Panggil saja aku Riris."
Dia tersenyum lagi, dan menyebutkan namanya
sekali lagi, aku merespon nya dengan anggukan dan senyuman kecil.
"Kamu tahu nama aku Navel? Dan Tio, Kakak
ku? Siapa yang kasih tahu kamu?"
"Kak Rana. Dia Kakak ku. Dia sering banget
cerita soal Kak Tio, soal kamu juga. Dia juga pernah nunjukin foto-foto
kedekatan kalian saat liburan akhir minggu lalu."
"O ya? Kenapa kamu ngga ikut pergi
liburan?" Tanya Navel menyambungkan topik kami saat itu.
"Aku sibuk baca novel." Jawabku kembali
cuek.
"Baca novel?"
"Iya. Kamu ngga tahu novel?"
"Tahu kok, tahu.."
Hanya anggukan dan senyuman dari ku sebagai
respon nya. Bukan aku sombong, hanya saja, aku tidak terbiasa harus
berbasa-basi dengan orang baru. Itulah, kenapa aku sulit mendapatkan teman. Aku
sulit beradaptasi. Ditambah sifat aneh ku yang menyukai kesunyian dan kesendirian.
***
Pagi ini, sama seperti pagi biasanya. Aku
berangkat kuliah dan Kak Rana pergi kerja. Walaupun semalam kami berpesta.
Pesta hanya berlangsung sampai pukul 10 malam. Itu sudah perjanjian antara Kak
Rana dengan Ayah. Seperti biasa juga aku pergi ke kampus dengan menumpang mobil
Kak Rana.
"Kak semalam Navel datang ya?" Tanyaku
saat di tengah perjalanan.
"Iya. Tapi ngga tahu setelah kasih kado ke
aku, dia pergi kemana. Kenapa Dek?"
"Jelaslah dia ngga di ruangan. Dia di taman
sama aku."
"Oh jadi kalian udah ketemu? Baguslah."
"Maksudnya?"
"Udah turun sana Dek, Kakak takut
telat." Kata Kak Rana sedikit mengusirku karena memang mobil Kak Rana
sudah berada di depan gerbang kampusku.
Baguslah.
Well, aku mungkin bisa menangkap makna dari kata
itu. Mungkin Kak Rana berniat mendekatkan aku dengan Navel. Ya.
Sepertinya begitu. Padahal jujur saja. Walaupun semalam aku cukup lama
berbincang berdua bersama Navel, tapi aku tidak merasa tertarik dengan pria
tinggi itu. Meskipun tidak munafik ku katakan, dia memang manis.
***
Saat ini aku tengah di suatu toko buku di dekat
kampus. Ya. Sudah ku bilang bukan, aku suka sunyi. Dan kurasa toko buku ini
tempat hang out yang sangat cocok untuk aku menyendiri. Aku berada di suatu
lorong yang berisikan berbagai macam novel. Well, aku sangat suka membaca
novel, cerpen, dan cerita apapun itu yang bersifat fiksi dan bertema
cinta.
Di tanganku sudah ada beberapa novel yang menjadi
pilihan ku. Dan aku masih ingin mencari beberapa lagi untuk koleksi bacaan
ku.
"Riris?" Suara bass itu lagi.
Aku menoleh kearah suara. "Hai Navel, suka
novel juga?" Sudah bisa kutebak itu suara Navel.
"Ngga, cuma liat-liat aja, aku sukanya
ini." Katanya sambil menunjukkan buku-buku komik di tangan nya.
"Wow. Banyak. Komik maniak yah?" Kataku
sedikit bergurau.
Dia tertawa. "Sama siapa Ris?"
"Sendirian nih."
"Aku temenin yah?" Katanya menawarkan
dari.
Aku menatapnya sekilas kemudian mengangguk dan
tersenyum. Dia pun ikut tersenyum sekilas. Aku aneh? Iya. Akupun merasakan itu.
Terkadang aku bisa sangat cuek dipertemuan pertama, namun merasa biasa saja
dipertemuan selanjutnya. Selalu seperti itu.
Kami mulai larut dalam obrolan. Ternyata Navel
cukup cerewet untuk ukuran seorang laki-laki yang terlihat cool –setidaknya
menurut penilaian malam itu Navel terlihat sangat cool-. Dia terlihat sangat
excited bercerita soal hobi membaca komiknya. Dia juga menyebutkan satu per
satu komik yang pernah di baca nya dan yang menjadi favorit nya, mulai dari
yang terdengar familiar di telingaku seperti Naruto, One Piece, Detective
Conan, Doraemon sampai komik komik dengan judul yang sangat asing ditelingaku.
Yang tentu saja, semuanya tidak aku kenal dan tidak aku tahu bagaimana kisah
nya. Well, aku berusaha menjadi pendengar yang baik untuk teman baru ku ini.
***
Malam ini selesai makan malam bersama keluarga,
aku segera masuk kedalam kamar ku untuk segera membaca novel yang baru ku beli
tadi siang. Saat tengah asik-asiknya membaca novel, pintu kamarku di buka
seseorang. Ya, aku memang belum mengunci kamarku.
"Boleh masuk Dek?"
"Bukan nya Kakak sudah didalam kamarku?
Bahkan sebelum aku mempersilahkan masuk." Kataku mencibir nya.
Kak Rana tertawa sambil menutup pintu kamarku,
kemudian segera berhambur keatas ranjang ku memposisikan dirinya duduk di
sampingku.
"Novel baru lagi?"
"Hem.."
"Dek Kakak mau curhat, dengerin yah.."
"Hem.."
"Dek kamu tahu ngga, Navel itu refleksi dari
kamu versi cowok loh."
"Wait?!" Kataku mengehentikan aktivitas
membaca ku. "Navel?" Tanyaku.
"Iya Dek."
"Kakak nih kenapa? Mau ngedeketin aku sama
Navel yah? Kak, aku ngga suka sama dia."
"Ih ke ge er an kamu nih, orang Kakak mau
bilang kalau Navel itu refleksi dari kamu versi cowok dan Tio refleksi aku
versi cowok, aku kan belum selesai ngomong, kamu udah motong sih." Kata
Kak Rana sambil menoyor kepalaku ringan.
"Kenapa? Kamu naksir Navel yah?" Kata
Kak Rana menggodaku.
Sungguh. Aku sangat malu dengan ledekan Kak Rana.
Tapi memang aku benar-benar tidak suka Navel. Tidak.
***
Saat ini sudah bulan ke empat setelah ulang tahun
Kak Rana, dan berarti sudah bulan ke empat juga setelah pertemuan pertama ku
dengan Navel malam itu. Entah sengaja atau tidak, sejak malam itu aku dan Navel
jadi sering bertemu dan mau tidak mau kami sering menghabiskan waktu bersama.
Entah itu pergi ke bioskop, makan, atau sekedar datang ke toko buku langganan
kami. Aku dan Navel masih sama sejak empat bulan lalu. Arista pecinta novel
sejati dan Navel komik maniak. Namun ada yang beda tentang sikap Navel, kurasa
Navel semakin perhatian dari empat bulan lalu. Atau hanya perasaanku saja?
Entahlah. O satu lagi, aku mulai merasa ada sesuatu yang hilang jika terlalu
lama tidak bertemu Navel. Perasaan kehilangan sama dengan cinta bukan?
Entahlah. Pikiran apa itu Arista?!
Well, selama empat bulan terahir kedekatanku
dengan Navel, tidak satupun dari kakak-kakak kami, Kak Rana dan Kak Tio,
mengetahui nya. Jelas. Karena aku tak pernah bercerita apapun pada Kak Rana
jika kami habis pergi. Aku jadi malu sendiri untuk sekedar menanyakan kabar
Navel dari Kak Rana, setidaknya dia dan Kak Tio sudah sangat dekat. Kupikir Kak
Rana tahu soal Navel sedikit. Tapi, aku malu. Sepertinya aku sudah termakan
kalimatku sendiri. Aku mulai menyukai Navel. Tapi itu tidak mungkin. Aku tidak
mau menjadi orang ketiga. Karena sepengetahuan ku Navel sudah mempunyai
kekeasih. Walaupun Navel bilang itu mantan kekasihnya dan bukan kekasihnya.
***
Beberapa hari kemudian..
Sudah sekitar lima belas menit aku menunggu Navel di kampusku. Setengah jam lalu, Navel memintaku untuk menunggunya di kampus. Karena dia akan menjemputku. Ada yang ingin ia kenalkan padaku. Begitu katanya memberitahuku lewat pesan singkat. Untuk membunuh waktu, aku pun mulai membaca novel yang belum selesai ku baca.
"Ris, sorry yah lama. Macet." Kata
Navel sambil menyentuh pundak ku.
Segera ku tutup novel ku. "Ngga apa-apa Vel."
"Langsung yuk?" Ajaknya.
Aku mengangguk kemudian kami berjalan kearah
mobil dimana Navel memarkirkan mobilnya.
"Mau dikenalin sama siapa sih?"
Tanyaku. Jujur, aku sedikit penasaran dan gugup. Sejak aku membaca kalimatnya
di pesan singkat, pikiran ku melayang terlalu jauh. Siapa yang akan dia
kenalkan padaku menjadi satu-satunya pertanyaan di otakku saat itu sampai detik
ini. Orangtua kah? Aku ge er? Sepertinya.
Sambil pelan-pelan menginjak gas mobil nya, Navel
balik bertanya. "Kalau aku minta tolong sesuatu boleh ngga Ris?"
Aku sedikit bingung, tapi dengan segera aku
mengangguk tanpa suara.
"Nanti setelah kita sampai di tempat dimana
aku mau kenalin kamu sama orang itu, kamu mau yah ngaku sebagai tunangan
aku?"
Aku terkejut. Hanya memandang kearahnya tanpa
bersuara.
"Mau kan Ris?"
"Tapi.. Emangnya siapa orang itu?"
"Dia mantan aku, aku udah memutuskan
hubungan kami sejak dua tahun lalu, tapi dia masih menganggap kita masih
berstatus pacaran."
Sedikit terkejut aku mendengar permintaan Navel.
"Oh.. Yang pernah nelpon kamu waktu kita lagi nonton yah? Terus soal
tunangan? Ah.. Maksudku, apa kamu memang sudah bertunangan?" Pertanyaan
itu entah bagaimana bisa meluncur begitu saja dari mulutku. Aku terlalu penasaran.
"Sudah.. Aku juga akan segera melamarnya
menjadi istriku Ris."
Keterkejutan ku semakin menjadi. Mataku mulai
panas. Entah kenapa aku ingin menangis saat mendengar kalimatnya barusan. Tapi
sekuat mungkin aku bertahan. Sedikit sakit hati. Karena Navel menjadikan aku
objek kambing hitamnya. Aku menatap kesisi luar jendela. Mataku semakin panas.
Tapi aku tidak bisa menangis. Lebih tepatnya tidak boleh menangis. Apa yang
harus aku tangisi? Toh bukankah sudah kubilang, aku tidak menyukai Navel. Jadi
mengapa aku harus cemburu dan sakit hati mendengar soal kabar pertunangan itu.
Setelah percakapan itu, aku lebih banyak diam.
Navel pun demikian. Dia hanya fokus menyetir sesekali melirik kearah ponselnya
yang beberapa kali berbunyi. Pasti itu tunangan nya. Aku sangat kesal pada
Navel saat ini. Bagaimana mungkin dia akan mengatakan pada mantan nya itu kalau
aku ini tunangan nya. Sementara dia saja akan melamar wanita lain. Navel
keterlaluan.
***
Kami sampai di sebuah kafe, Navel menggandengku saat
mulai memasuki kafe. Aku pun menepisnya. Namun berkali-kali Navel meraihnya
lagi, dan saat aku akan melepaskannya lagi dia membisikan padaku, "Kamu
harus mau aku gandeng Ris, biar mantan aku percaya."
Aku hanya menuruti saja. Aku malas melawan. Tapi sebenarnya
aku kesal. Kesal bukan hanya pada Navel. Tapi juga pada diriku sendiri. Kenapa
aku bisa sampai sebegini sakit hatinya. Padahal dulu, jelas ku katakan, aku
tidak menyukai Navel.
Sampai di dalam kafe, Navel masih menggandeng
tanganku. Kemudian dia mengajakku duduk disebuah meja di sudut kafe.
"Kamu mau minum apa Ris?"
"Ngga usah Vel, makasih." Jawabku
singkat. Malas. Aku sangat malas saat ini.
"Kamu suka stroberi kan? Aku pesankan jus
stroberi aja yah."
Tanpa ku beri respon, dia memanggil pelayan dan
memesankan jus stroberi untuk ku, dan dia sendiri memesan ice cappucino.
Sebenarnya, aku penasaran juga dari mana dia tahu aku suka jus stroberi,
padahal aku belum pernah menceritakan apa apa saja kesukaan ku. Well, mungkin
sebegitu kuatnya ingatan dia. Aku memang pernah makan bersama dia sejak empat
bulan terakhir dan jus stroberi menjadi salah satu yang beberapa kali aku
minum. Mungkin dari situ. Entahlah. Aku tidak peduli. Aku sibuk menata emosiku
agar tidak meledak bahkan atau sampai menitikkan air mata. Tidak. Itu tidak
boleh.
"Ris, kamu sakit?" Katanya sambil
menangkupan punggung tangan nya ke keningku.
Aku hanya sedikit menghindari dan tersenyum masam
kearahnya, sebagai jawaban aku tidak apa-apa. Dia menatap ku dengan raut
kecewa.
"Kalau kamu sakit, aku antar kamu pulang aja
sekarang yah." Tawarnya.
"Ngga usah Vel, kamu kan mau temuin mantan
kamu. Nanti kalau ngga sekarang kamu kasih tau, mungkin mantan kamu bakal
menggagalkan rencana pernikahan kamu." Kataku dengan nada menyindir.
"Oh iya kamu bener Ris." Katanya santai
sambil tersenyum kearahku. Senyuman yang biasanya terlihat manis, entah kenapa
saat ini terlihat sangat memuakkan.
Hell. Aku sangat benci sikap Navel yang seperti
ini. Kenapa dia menampakkan sikap tulalitnya disaat yang tidak tepat. Dia tidak
merasakan kalau aku cemburu?
Aku menghela nafasku berat. Menyadari betapa
tulalitnya juga aku. Tentu Navel tidak tahu bagaimana yang aku rasakan saat
ini. Karena, aku memang tidak menampakkan kalau aku menyukai dia selama empat
bulan terahir ini. Aku lebih cuek sedangkan dia agresif. Lagipula dia juga
tidak kunjung menyatakan perasaan nya. Kuanggap dia hanya main-main denganku.
Dan aku tidak mau dimain-mainkan dengan lelaki. Itulah kenapa. Aku cuek.
Prinsipku, yang serius pasti tidak akan mudah menyerah hanya keran sikap cuek
ku.
Tak lama setelah itu, pelayan datang mengantarkan
pesanan kami. Tanpa ijin dari Navel, aku langsung menyesap jus itu hingga
tersisa seperempat gelas. Navel hanya tersenyum sambil menatapku. Aku balik
tersenyum. Tapi dengan senyuman masam beberapa detik kemudian membuang
tatapanku darinya.
"Hai sayang."
Tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang
Navel dan menyentuh pundaknya. Navel bangkit dan mempersilahkan gadis itu duduk
di tempatnya, dia sendiri berpindah duduk di sampingku. Aku bergeser sedikit
saat Navel mulai duduk.
"To the point yah Sin." Kata Navel
kemudian menarik nafas pelan.
"Satu, kamu jangan panggil aku dengan
sebutan itu lagi. Karena kita udah putus sejak dua tahun lalu." Navel
berhenti sejenak kemudian mengisyaratkan gadis itu untuk tidak berkomentar
dengan sedikit mendorongkan kelima jarinya kearah gadis itu ketika gadis itu
terlihat menarik nafas untuk berkomentar. "Dua, aku mau kasih tahu kamu,
kalau sekarang aku sudah bertunangan dengan Arista. Jadi, berhenti mengganggu
aku dengan pesan singkat ataupun telepon dari kamu,oke Sindi."
Plak!!
Sepersekian detik setelah suara itu, aku
merasakan pipiku perih dan panas. Gadis bernama Sindi itu menamparku. Dan Saat
ini Navel memelukku. Gadis itu mencaci ku dan akan kembali mencapkan telapak
tangan nya di atas pipi tembem ku, namun ditahan oleh tangan kekar Navel.
Aku menangis. Andai gadis itu tahu, kalau aku
hanyalah korban dari sikap kekanakan Navel. Aku juga sakit hati, mendengar
Navel akan bertunangan. Dan sekarang aku harus merasakan perihnya tamparan
gadis mungil itu di pipiku. Aku Menangis dalam dekapan Navel yang menggiringku
kembali ke mobil.
Pertahananku yang ku bangun sejak di perjalanan
tadi runtuh, aku terluka. Fisik dan hatiku terluka. Karena Navel. Karena Cinta.
"Maaf ya Ris." Kata Navel sambil terus
melajukan mobilnya.
Aku hanya mengangguk. Sesak didadaku terlalu
menghimpit. Aku tidak mampu berkata-kata.
"Kita ke dokter dulu yah? Sakit banget yah
sampai kamu ngga berhenti nangis."
Aku hanya diam masih terus meneteskan air mata
dan menunduk. Dasar tulalit, makiku dalam hati kepadaNavel. Aku bisa tahan
sakit tamparan ini. Yang tidak bisa kutahan adalah sakit hati ku. Sakit hati
karena sikap kamu yang seenaknya menjadikan aku kambing hitam atas amukan mantanmu.
Aku kesal. Sangat kesal.
"Maaf yah Ris." Katanya, sambil
menggenggam tangan ku yang terbebas di atas paha ku.
Aku menepisnya. Lalu mengusap tangis ku. Aku
tidak boleh lemah. Aku tidak boleh menangisi laki-laki seperti Navel. Pikirku
tiba-tiba saat sentuhan itu kurasakan.
***
Sejak kejadian di kafe itu. Aku tidak pernah lagi
membalas pesan singkat Navel. Juga, tidak pernah lagi mengangkat telepon Navel.
Aku terluka. Benar benar terluka. Walaupun terkadang aku juga merasakan rindu
saat-saat kebersaam kami selama empat bulan belakangan. Tapi setiap aku
teringat hal manis itu, aku juga kembali memunculkan kejadian di kafe itu. Soal
ini, aku sudah menceritakan nya pada Kak Rana. Aku juga mulai jujur, kalau aku
begitu menyayangi Navel entah sejak kapan. Tapi aku juga meminta Kak Rana untuk
tidak memberitahukan hal ini kepada Kak Tio. Aku benar-benar tidak mau menjadi
orang ketiga diantara Navel dan tunangan nya itu yang akan segera navel nikahi.
Untuk membunuh keresahanku. Aku membuka laptop
ku, dan menjelajahi dunia maya. Seperti biasa, aku selalu mengecek email ku
setiap hari. Lagi-lagi, ku temukan sebuah email tanpa pengirim yang jelas.
Dengan judul yang sama ' Novel Cinta ' sudah kali ke tiga si pengirim misterius
ini mengirimiku novel dengan judul yang sama namun berbeda di setiap bab nya.
Hari ini kali ke empat dan berarti dia mngirimiku bab ke empatnya dan menjadi
ending dari ceritanya. Akupun dengan antusias membaca bab akhir novel itu. Tak
lupa mengucapkan terimakasihku juga kepada si pengirim.
Sebenarnya, sejak aku mulai berkenalan dengan
Navel, tiba-tiba saja si pengirim email ini rajin mengirimiku novel. Aku sempat
bingung dan pensaran dengan pengirim novel ini. Isi novel nya hampir mirip
dengan kisah ku bersama Navel. Namun berbeda di endingnya. Ending cerita di
novel itu sangat bahagia. Sedangkan aku dan Navel?
Sempat juga terfikirkan mungkin dia fans ku yang
memata-matai ku sehingga tahu semua aktivitas kami? Huh! Memangnya aku siapa, hingga
ada orang yang rela mengintai ku. Bahkan sampai harus mengefanskan aku?
Aku tersenyum menertawakan pemikiranku sendiri.
Biarlah, toh si pengirim novel ini sama sekali
tidak pernah menggangguku apalagi sampai menerorku. Dia justru menghiburku
dengan novel-novel nya.
***
Besok hari ulang tahun ku yang ke duapuluhsatu.
Hari ini Navel mengirimiku pesan singkat.
Hai Ris? Apa kabar? Aku ngga ngerti kenapa
kamu tiba-tiba menghindari aku. Aku punya salah yah sama kamu? Maafin
aku yah. Oh iya. Besok kamu ulang tahun kan? Happy Birhtday Arista sayang.
Kayanya aku jadi yang pertama mengucapkan yah? Doaku yang terbaik selalu
menyertaimu. Oh iya satu lagi, aku mau kasih kabar, besok aku mau melamar
wanita yang aku cintai itu. Doakan aku semoga besok dia menerima lamaranku yah.
Salam rindu, Navel.
Cih! Apa-apaan Navel ini. Bukan pertama, tapi
terlalu cepat. Dan... sayang?? Dia memanggil aku dengan sebutan itu,
bahkan tepat sehari sebelum dia melamar tunangan nya? Gila Navel! Aku benci
Navel!!
***
Petang ini hari minggu, dan hari duapuluhsatu ku.
Ayah, Ibu dan Kak Rana sudah mengucapkan selamat ulang tahun dan memberiku kado
padaku pagi-pagi sekali, tapi, Kak Rana masih berhutang satu kado untuk ku,
katanya surprise istimewa dan aku pasti suka. Baiklah aku percaya dia, Kak Rana
bisa diandalkan.
O ya, Navel juga memberiku satu bucket mawar
merah dengan ucapan ' sayang ' nya lagi. Yang dia titipkan pada Kak Rana. Entah
kapan dia datang kerumah. Aku tidak menanyakan soal itu dan aku tidak peduli.
Lebih tepatnya berusaha untuk tidak peduli. Aku menatap lekat mawar itu,
kuhirup harumnya. Aku bergumam, hanya bunganya. Navelnya tidak datang. Tentu.
Dia sedang melamar tunangannya. Huh.
Malam ini, malam perayaan nya. Seperti biasa,
tidak ada pesta. Tidak ada keramaian. Hanya sekedar berkumpul dan makan malam
namun dengan pakaian rapih, karena setelah itu akan berfoto keluarga. Itu
kemauanku. Dan itu yang aku suka.
Aku tengah menyisir rambut sebahuku ketika Kak
Rana masuk kekamarku.
"Dek udah siap? Ayo turun keruang tamu,
tamunya udah datang."
"Tamu? Tamu siapa? Aku ngga ngundang
temen-temenku kok Kak."
"Tamunya Ayah sama Ibu, ayo."
Akupun turun menuju ruang tamu bersama Kak Rana.
Betapa terkejutnya aku ketika aku melihat Navel dan keluarganya tengah duduk di
ruang tamu. Navel yang melihat keberadaanku ditangga tersenyum manis kearahku.
Aku hanya memalingkan pandangan ku ke arah Kak Rana.
"Mereka tamunya?" Bisikku pada Kak
Rana.
Kak Rana hanya tersenyum dan mengangguk.
"Maksudnya apa sih Kak?"
"Tio akan melamarku malam ini." Bisik
Kak Rana lagi.
"Hah? Kok ngga bilang sama aku Kak?"
"Ini surprise ku buat kamu, kamu seneng
kan?"
Aku tersenyum sambil merangkul pinggang Kak Rana.
Tentu aku sangat bahagia, kalau Kak Rana bisa bersatu dengan Kak Tio. Dia pria
yang baik. Sangat berbeda dengan adiknya.
***
Obrolan kedua orang tua pun mengalir, acara
lamaran Kak Tio untuk Kak Rana juga sudah berlangsung. Syukurlah, kedua
keluarga menerima. Sampai kemudian. Ayah dari Kak Tio dan Navel memulai obrolan
serius kembali.
"...Jadi, sebenarnya, kami juga akan
melakukan kewajiban kami untuk putra bungsu kami Pak, saya ingin melamarkan
Riris untuk Navel."
Aku yang dari tadi tidak mau melihat kearah Navel
dengan sangat terkejut menatap kearah Navel saat kalimat itu menyentuh gendang
telingaku dengan sangat jelas. Navel pun tersenyum tulus kearahku. Tidak nampak
sedikit pun kebohongan dari matanya.
Dengan logat Jawa yang masih samar-samar
terdengar dari mulut Ayah ku, beliau menjawab dengan sangat bijaksana.
"Saya memberikan keputusan sepenuhnya kepada Arista, karena nanti mereka
juga yang akan menjalankan."
Saat ini, semua mata mengarah kepadaku. Aku
menatap Navel penuh tanya, apa maksud
dari semua ini? tapi Navel hanya tersenyum sambil menatapku lekat.
Sejujurrnya, Aku ingin menerima lamaran itu. Tapi, bukankah Navel bilang dia
akan melamar tunangan nya hari ini. Apa mungkin aku yang dia sebut sebagai
tunangan nya? Tapi aku belum bertunangan dengan dia dan tidak bertunangan
dengan nya. Aku meremas tanganku sendiri karena gugup. Cincin. Jariku menyentuh
cincin di jari manisku yang lain. Ini cincin yang diberikan Navel.
"Rista, pakai ini yah.." Kata Navel
sambil menyerahkan kotak kecil yang sudah bisa kutebak pasti berisi cincin.
"Sudah kutebak. Mainstream kamu."
Kataku sambil tertawa.
"Kamu ngga suka yah?"
"Emang ini beneran buat aku?"
"Iya."
"Atas dasar apa kamu kasih cincin ini
Vel?"
"Lambang pertemanan. Lambang pertunangan
juga boleh."
"Tunangan?" Kataku sedikit canggung.
"Ini baru sebulan setelah kita ketemu loh, bahkan status kita aja masih sebatas teman. Kamu suka ngawur nih."
Navel tertawa. "Ya sudah, aku melamar kamu
barusan, jadi mulai hari ini kamu tunangan aku."
Aku pun ikut tertawa tak menanggapi ucapan nya.
Kejadian beberapa bulan lalu terlintas di
pikiranku. Saat itu navel bilang dia melamar ku, tapi aku tidak serius
menanggapinya. Mungkinkah?
Aku menatap Navel masih dengan bingung.
"Emm.. Pah, Om semuanya. Navel mau
menjelaskan semuanya dulu sama Arista. Boleh?" Tiba-tiba Navel bersuara.
Akhirnya dia mengerti maksudku.
"Ris, sebelumnya, selamat ulang tahun sekali
lagi. Buat Kak Rana dan Kak Tio terimakasih."
"Kak Tio? Kak Rana?" Aku semakin
bingung menanggapi kalimat Navel.
"Iya. Kak Rana yang cerita semua tentang
kamu ke aku, sejak empat bulan lalu awal pertemuan kita, diam-diam aku
menanyakan nya pada Kak Rana, setiap kegiatan kamu di tempat manapun Kak Rana
selalu kasih tahu aku. Termasuk saat pertama kali ketemu di toko buku, soal jus
stroberi, soal novel, semuanya. Aku dapatkan informasi itu dari Kak Rana dan
Kak Tio sebagai umpanku kalau-kalau Kak Rana sedang badmood."
"Soal setelah kejadian di kafe juga
termasuk?"
"Iya. Setelah pulang dari kafe, bahkan kamu
nangis ngga berhenti-henti karena aku, aku tau dari Kak Rana. Dia juga yang
bilang kalau kamu cemburu dan sebenernya sayang juga sama aku, dan ' Novel Cinta
' aku mengarangnya sendiri. Tentang kita, dan happy ending bukan? Aku berharap
yang dikehidupan nyata juga berakhir seperti itu. Seperti Ata menerima lamaran
Valen."
"Rista, aku minta maaf, untuk semua yang
sudah terjadi terutama kejadian di kafe itu dengan Sindi. Yang aku maksud
dengan tunangan ku ya memang kamu. Sebulan pertemuan kita, aku pernah bilang
bukan, saat akan menyematkan cincin itu, kalau aku melamarmu? Itu lamaran ku
secara pribadi.”
Aku hanya bengong mendengar penjelasan nya.
“Dan pesan singkatku kemaren soal melamar. Aku
juga ingin melamar kamu dengan kedatangan kedua orangtuaku, aku menyatakan
kalau aku serius sama kamu Ris. Aku memang ngga berani mengungkapkan perasaan
aku ke kamu. Karena memang niatku dari awal, aku ingin menjalani hubungan yang
serius bersama kamu. Dan Papa ku sudah menyampaikan maksud kedatangan ku malam
ini. Jadi bagaimana jawabanmu?"
Sepanjang Navel menjelaskan semuanya. Aku hanya
bisa menangis, Kak Rana dan Ibu mengelus pundak dan punggungku. Aku menangis
bukan karena sedih. Aku terharu. Sekaligus bahagia. ternyata apa yang aku
rasakan selama ini di rasakan juga oleh Navel. Soal ending, aku juga ingin
mempunyai ending seperti Valen dan Ata dalam ' Novel Cinta '.
Dengan mantap, aku pun menganggukan kepalaku
sambil menatap kearah Navel.
Semua anggota keluarga terlihat lega dan
tersenyum sumringah. Kemudian Ayah mempersilahkan untuk menuju keruang makan
untuk makan malam bersama, merayakan hari duapuluhsatu ku dan merayakan
pelamaran Kak Tio dan Kak Rana, juga Navel dan aku.
End

Komentar