Novel Cinta Navel



Pesta dan keramaian.

Dua hal yang sangat tidak aku sukai. Entah kenapa. Tapi aku sangat tidak menyukai dua hal itu. Bahkan sejak aku kecil. Perayaan ulang tahun semasa kecilpun hanya pernah kualami duakali seumur hidupku yang sudah kepala dua ini. Saat aku berusia 8 tahun dan 17 tahun. Itupun karena permintaan orangtuaku. Sungguh aku sangat tidak menyukai dua hal itu.

Dan sekarang aku harus berada dalam keadaan itu. Perayaan pesta dan keramaian. Aku bungsu dari dua bersaudara. Hari ini dia merayakan pesta ulang tahun ke duapuluhtiga nya. Orangtua ku sengaja menyewa salah satu lobby hotel di kota ini, demi ulang tahunnya. 

Suasana di dalam sangat meriah dan tentunya ramai. Aku bukan tidak senang dihari bahagia kakak ku. Atau iri? Tentu saja tidak. Orangtua ku tidak pernah memperlakukan kami dengan berbeda. Tidak alasan untukku iri pada nya. Aku hanya tidak suka pesta dan keramaian. Sudah.

Saat ini aku di taman hotel. Duduk menyendiri dengan segelas sirup ditanganku. Gemerlap lampu serta lantunan musik yang tidak memekakan telinga dari lobby terasa samar samar menemani kesendirian ku. Aku suka sepi, sendiri dan malam hari. Entah kenapa aku justru merasakan duniaku hidup jika aku berada di kesunyian dan kegelapan malam.

Mataku masih fokus memperhatikan riak air mancur di taman ini. Telinga ku juga tak kalah fokus mendengar gemricik suara air mancur itu. Indra peraba ku dimanjakan dengan hembusan lembut angin malam. Aku suka seperti ini. Tenang.

"Boleh aku temani?"

Tiba-tiba suara bass menyentuh gendang telingaku mengalahkan suara gemircik yang dari tadi memanjakannya, aku pun menoleh menelusuri asal suara.

Dia tersenyum. Si pemilik suara itu. Aku membalas senyuman nya. "Silahkan." Kataku yang langsung berangsut sedikit memberikan isyarat kepadanya untuk duduk.

"Kamu ngapain disini sendirian?" Tanya laki-laki itu.

"Cuma duduk." Jawabku cuek dengan tidak menolehkan kepalaku. Aku tak mempedulikan bahkan jika dia menganggap aku sombong. Aku... Ya seperti ini, selalu cuek.

"Iya tahu. Maksudku, kenapa ngga di dalam?" Tanyanya yang mulai terdengar canggung.

"Ngapain? Nemenin Kak Rana? Kan udah ada Kak Tio." Kataku lagi mulai menoleh dan sedikit tersenyum. Namun kembali memperhatikan air mancur detik berikutnya.

"Ya.. ngga gitu juga, maksudku.." Suara laki-laki itu semakin terdengar canggung.

Aku menahan tawa ku mendengar ucapan Navel, laki-laki itu yang terbata-bata karena kejudesanku. Aku pun memotong ucapan nya.

"Aku ngga suka pesta dan keramaian." Kataku sambil tersenyum kearahnya.

"Sama." Katanya.

"O Ya?" Kataku menoleh sedikit tertarik dengan pernyataan nya.

Dia hanya mengangguk. "Navel." Katanya mengulurkan tangan berusaha memperkenalkan dirinya.

"Sudah tahu." Kataku sambil tersenyum mengejek.

Dia tampak bingung dengan tangan masih mengulur kearahku. "Maksudnya?" Tanyanya.

"Kamu Navel adik nya Kak Tio kan?" Kataku. Dia semakin bingung sambil terus menatapku dan uluran tangan yang masih di posisi yang sama.

Aku tersenyum lebih lebar kemudian menerima uluran tangan nya. "Arista. Panggil saja aku Riris."

Dia tersenyum lagi, dan menyebutkan namanya sekali lagi, aku merespon nya dengan anggukan dan senyuman kecil.

"Kamu tahu nama aku Navel? Dan Tio, Kakak ku? Siapa yang kasih tahu kamu?"

"Kak Rana. Dia Kakak ku. Dia sering banget cerita soal Kak Tio, soal kamu juga. Dia juga pernah nunjukin foto-foto kedekatan kalian saat liburan akhir minggu lalu."

"O ya? Kenapa kamu ngga ikut pergi liburan?" Tanya Navel menyambungkan topik kami saat itu.

"Aku sibuk baca novel." Jawabku kembali cuek.

"Baca novel?"

"Iya. Kamu ngga tahu novel?"

"Tahu kok, tahu.."

Hanya anggukan dan senyuman dari ku sebagai respon nya. Bukan aku sombong, hanya saja, aku tidak terbiasa harus berbasa-basi dengan orang baru. Itulah, kenapa aku sulit mendapatkan teman. Aku sulit beradaptasi. Ditambah sifat aneh ku yang menyukai kesunyian dan kesendirian.

                                                                            ***

Pagi ini, sama seperti pagi biasanya. Aku berangkat kuliah dan Kak Rana pergi kerja. Walaupun semalam kami berpesta. Pesta hanya berlangsung sampai pukul 10 malam. Itu sudah perjanjian antara Kak Rana dengan Ayah. Seperti biasa juga aku pergi ke kampus dengan menumpang mobil Kak Rana.

"Kak semalam Navel datang ya?" Tanyaku saat di tengah perjalanan.

"Iya. Tapi ngga tahu setelah kasih kado ke aku, dia pergi kemana. Kenapa Dek?"

"Jelaslah dia ngga di ruangan. Dia di taman sama aku."

"Oh jadi kalian udah ketemu? Baguslah."

"Maksudnya?"

"Udah turun sana Dek, Kakak takut telat." Kata Kak Rana sedikit mengusirku karena memang mobil Kak Rana sudah berada di depan gerbang kampusku.

Baguslah.

Well, aku mungkin bisa menangkap makna dari kata itu. Mungkin Kak Rana berniat  mendekatkan aku dengan Navel. Ya. Sepertinya begitu. Padahal jujur saja. Walaupun semalam aku cukup lama berbincang berdua bersama Navel, tapi aku tidak merasa tertarik dengan pria tinggi itu. Meskipun tidak munafik ku katakan, dia memang manis.

                                                                           ***

Saat ini aku tengah di suatu toko buku di dekat kampus. Ya. Sudah ku bilang bukan, aku suka sunyi. Dan kurasa toko buku ini tempat hang out yang sangat cocok untuk aku menyendiri. Aku berada di suatu lorong yang berisikan berbagai macam novel. Well, aku sangat suka membaca novel, cerpen, dan cerita apapun itu yang bersifat fiksi dan bertema cinta. 

Di tanganku sudah ada beberapa novel yang menjadi pilihan ku. Dan aku masih ingin mencari beberapa lagi untuk koleksi bacaan ku. 

"Riris?" Suara bass itu lagi. 

Aku menoleh kearah suara. "Hai Navel, suka novel juga?" Sudah bisa kutebak itu suara Navel.

"Ngga, cuma liat-liat aja, aku sukanya ini." Katanya sambil menunjukkan buku-buku komik di tangan nya.

"Wow. Banyak. Komik maniak yah?" Kataku sedikit bergurau.

Dia tertawa. "Sama siapa Ris?"

"Sendirian nih."

"Aku temenin yah?" Katanya menawarkan dari.

Aku menatapnya sekilas kemudian mengangguk dan tersenyum. Dia pun ikut tersenyum sekilas. Aku aneh? Iya. Akupun merasakan itu. Terkadang aku bisa sangat cuek dipertemuan pertama, namun merasa biasa saja dipertemuan selanjutnya. Selalu seperti itu.

Kami mulai larut dalam obrolan. Ternyata Navel cukup cerewet untuk ukuran seorang laki-laki yang terlihat cool –setidaknya menurut penilaian malam itu Navel terlihat sangat cool-. Dia terlihat sangat excited bercerita soal hobi membaca komiknya. Dia juga menyebutkan satu per satu komik yang pernah di baca nya dan yang menjadi favorit nya, mulai dari yang terdengar familiar di telingaku seperti Naruto, One Piece, Detective Conan, Doraemon sampai komik komik dengan judul yang sangat asing ditelingaku. Yang tentu saja, semuanya tidak aku kenal dan tidak aku tahu bagaimana kisah nya. Well, aku berusaha menjadi pendengar yang baik untuk teman baru ku ini.

                                                                            ***

Malam ini selesai makan malam bersama keluarga, aku segera masuk kedalam kamar ku untuk segera membaca novel yang baru ku beli tadi siang. Saat tengah asik-asiknya membaca novel, pintu kamarku di buka seseorang. Ya, aku memang belum mengunci kamarku.

"Boleh masuk Dek?"

"Bukan nya Kakak sudah didalam kamarku? Bahkan sebelum aku mempersilahkan masuk." Kataku mencibir nya.

Kak Rana tertawa sambil menutup pintu kamarku, kemudian segera berhambur keatas ranjang ku memposisikan dirinya duduk di sampingku.

"Novel baru lagi?"

"Hem.."

"Dek Kakak mau curhat, dengerin yah.."

"Hem.."

"Dek kamu tahu ngga, Navel itu refleksi dari kamu versi cowok loh."

"Wait?!" Kataku mengehentikan aktivitas membaca ku. "Navel?" Tanyaku.

"Iya Dek."

"Kakak nih kenapa? Mau ngedeketin aku sama Navel yah? Kak, aku ngga suka sama dia."

"Ih ke ge er an kamu nih, orang Kakak mau bilang kalau Navel itu refleksi dari kamu versi cowok dan Tio refleksi aku versi cowok, aku kan belum selesai ngomong, kamu udah motong sih." Kata Kak Rana sambil menoyor kepalaku ringan. 

"Kenapa? Kamu naksir Navel yah?" Kata Kak Rana menggodaku.

Sungguh. Aku sangat malu dengan ledekan Kak Rana. Tapi memang aku benar-benar tidak suka Navel. Tidak.

                                                                          ***

Saat ini sudah bulan ke empat setelah ulang tahun Kak Rana, dan berarti sudah bulan ke empat juga setelah pertemuan pertama ku dengan Navel malam itu. Entah sengaja atau tidak, sejak malam itu aku dan Navel jadi sering bertemu dan mau tidak mau kami sering menghabiskan waktu bersama. Entah itu pergi ke bioskop, makan, atau sekedar datang ke toko buku langganan kami. Aku dan Navel masih sama sejak empat bulan lalu. Arista pecinta novel sejati dan Navel komik maniak. Namun ada yang beda tentang sikap Navel, kurasa Navel semakin perhatian dari empat bulan lalu. Atau hanya perasaanku saja? Entahlah. O satu lagi, aku mulai merasa ada sesuatu yang hilang jika terlalu lama tidak bertemu Navel. Perasaan kehilangan sama dengan cinta bukan? Entahlah. Pikiran apa itu Arista?!

Well, selama empat bulan terahir kedekatanku dengan Navel, tidak satupun dari kakak-kakak kami, Kak Rana dan Kak Tio, mengetahui nya. Jelas. Karena aku tak pernah bercerita apapun pada Kak Rana jika kami habis pergi. Aku jadi malu sendiri untuk sekedar menanyakan kabar Navel dari Kak Rana, setidaknya dia dan Kak Tio sudah sangat dekat. Kupikir Kak Rana tahu soal Navel sedikit. Tapi, aku malu. Sepertinya aku sudah termakan kalimatku sendiri. Aku mulai menyukai Navel. Tapi itu tidak mungkin. Aku tidak mau menjadi orang ketiga. Karena sepengetahuan ku Navel sudah mempunyai kekeasih. Walaupun Navel bilang itu mantan kekasihnya dan bukan kekasihnya.

                                                                          ***

 Beberapa hari kemudian..

Sudah sekitar lima belas menit aku menunggu Navel di kampusku. Setengah jam lalu, Navel memintaku untuk menunggunya di kampus. Karena dia akan menjemputku. Ada yang ingin ia kenalkan padaku. Begitu katanya memberitahuku lewat pesan singkat. Untuk membunuh waktu, aku pun mulai membaca novel yang belum selesai ku baca.

"Ris, sorry yah lama. Macet." Kata Navel sambil menyentuh pundak ku. 

Segera ku tutup novel ku. "Ngga apa-apa Vel."

"Langsung yuk?" Ajaknya.

Aku mengangguk kemudian kami berjalan kearah mobil dimana Navel memarkirkan mobilnya.

"Mau dikenalin sama siapa sih?" Tanyaku. Jujur, aku sedikit penasaran dan gugup. Sejak aku membaca kalimatnya di pesan singkat, pikiran ku melayang terlalu jauh. Siapa yang akan dia kenalkan padaku menjadi satu-satunya pertanyaan di otakku saat itu sampai detik ini. Orangtua kah? Aku ge er? Sepertinya.

Sambil pelan-pelan menginjak gas mobil nya, Navel balik bertanya. "Kalau aku minta tolong sesuatu boleh ngga Ris?"

Aku sedikit bingung, tapi dengan segera aku mengangguk tanpa suara.

"Nanti setelah kita sampai di tempat dimana aku mau kenalin kamu sama orang itu, kamu mau yah ngaku sebagai tunangan aku?"

Aku terkejut. Hanya memandang kearahnya tanpa bersuara.

"Mau kan Ris?"

"Tapi.. Emangnya siapa orang itu?"

"Dia mantan aku, aku udah memutuskan hubungan kami sejak dua tahun lalu, tapi dia masih menganggap kita masih berstatus pacaran."

Sedikit terkejut aku mendengar permintaan Navel. "Oh.. Yang pernah nelpon kamu waktu kita lagi nonton yah? Terus soal tunangan? Ah.. Maksudku, apa kamu memang sudah bertunangan?" Pertanyaan itu entah bagaimana bisa meluncur begitu saja dari mulutku. Aku terlalu penasaran.

"Sudah.. Aku juga akan segera melamarnya menjadi istriku Ris."

Keterkejutan ku semakin menjadi. Mataku mulai panas. Entah kenapa aku ingin menangis saat mendengar kalimatnya barusan. Tapi sekuat mungkin aku bertahan. Sedikit sakit hati. Karena Navel menjadikan aku objek kambing hitamnya. Aku menatap kesisi luar jendela. Mataku semakin panas. Tapi aku tidak bisa menangis. Lebih tepatnya tidak boleh menangis. Apa yang harus aku tangisi? Toh bukankah sudah kubilang, aku tidak menyukai Navel. Jadi mengapa aku harus cemburu dan sakit hati mendengar soal kabar pertunangan itu.

Setelah percakapan itu, aku lebih banyak diam. Navel pun demikian. Dia hanya fokus menyetir sesekali melirik kearah ponselnya yang beberapa kali berbunyi. Pasti itu tunangan nya. Aku sangat kesal pada Navel saat ini. Bagaimana mungkin dia akan mengatakan pada mantan nya itu kalau aku ini tunangan nya. Sementara dia saja akan melamar wanita lain. Navel keterlaluan. 

                                                                         ***

Kami sampai di sebuah kafe, Navel menggandengku saat mulai memasuki kafe. Aku pun menepisnya. Namun berkali-kali Navel meraihnya lagi, dan saat aku akan melepaskannya lagi dia membisikan padaku, "Kamu harus mau aku gandeng Ris, biar mantan aku percaya." 

Aku hanya menuruti saja. Aku malas melawan. Tapi sebenarnya aku kesal. Kesal bukan hanya pada Navel. Tapi juga pada diriku sendiri. Kenapa aku bisa sampai sebegini sakit hatinya. Padahal dulu, jelas ku katakan, aku tidak menyukai Navel.

Sampai di dalam kafe, Navel masih menggandeng tanganku. Kemudian dia mengajakku duduk disebuah meja di sudut kafe. 

"Kamu mau minum apa Ris?"

"Ngga usah Vel, makasih." Jawabku singkat. Malas. Aku sangat malas saat ini.

"Kamu suka stroberi kan? Aku pesankan jus stroberi aja yah."

Tanpa ku beri respon, dia memanggil pelayan dan memesankan jus stroberi untuk ku, dan dia sendiri memesan ice cappucino. Sebenarnya, aku penasaran juga dari mana dia tahu aku suka jus stroberi, padahal aku belum pernah menceritakan apa apa saja kesukaan ku. Well, mungkin sebegitu kuatnya ingatan dia. Aku memang pernah makan bersama dia sejak empat bulan terakhir dan jus stroberi menjadi salah satu yang beberapa kali aku minum. Mungkin dari situ. Entahlah. Aku tidak peduli. Aku sibuk menata emosiku agar tidak meledak bahkan atau sampai menitikkan air mata. Tidak. Itu tidak boleh.

"Ris, kamu sakit?" Katanya sambil menangkupan punggung tangan nya ke keningku.

Aku hanya sedikit menghindari dan tersenyum masam kearahnya, sebagai jawaban aku tidak apa-apa. Dia menatap ku dengan raut kecewa.

"Kalau kamu sakit, aku antar kamu pulang aja sekarang yah." Tawarnya.

"Ngga usah Vel, kamu kan mau temuin mantan kamu. Nanti kalau ngga sekarang kamu kasih tau, mungkin mantan kamu bakal menggagalkan rencana pernikahan kamu." Kataku dengan nada menyindir.

"Oh iya kamu bener Ris." Katanya santai sambil tersenyum kearahku. Senyuman yang biasanya terlihat manis, entah kenapa saat ini terlihat sangat memuakkan.

Hell. Aku sangat benci sikap Navel yang seperti ini. Kenapa dia menampakkan sikap tulalitnya disaat yang tidak tepat. Dia tidak merasakan kalau aku cemburu?

Aku menghela nafasku berat. Menyadari betapa tulalitnya juga aku. Tentu Navel tidak tahu bagaimana yang aku rasakan saat ini. Karena, aku memang tidak menampakkan kalau aku menyukai dia selama empat bulan terahir ini. Aku lebih cuek sedangkan dia agresif. Lagipula dia juga tidak kunjung menyatakan perasaan nya. Kuanggap dia hanya main-main denganku. Dan aku tidak mau dimain-mainkan dengan lelaki. Itulah kenapa. Aku cuek. Prinsipku, yang serius pasti tidak akan mudah menyerah hanya keran sikap cuek ku.
Tak lama setelah itu, pelayan datang mengantarkan pesanan kami. Tanpa ijin dari Navel, aku langsung menyesap jus itu hingga tersisa seperempat gelas. Navel hanya tersenyum sambil menatapku. Aku balik tersenyum. Tapi dengan senyuman masam beberapa detik kemudian membuang tatapanku darinya.

"Hai sayang." 

Tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang Navel dan menyentuh pundaknya. Navel bangkit dan mempersilahkan gadis itu duduk di tempatnya, dia sendiri berpindah duduk di sampingku. Aku bergeser sedikit saat Navel mulai duduk.

"To the point yah Sin." Kata Navel kemudian menarik nafas pelan.

"Satu, kamu jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi. Karena kita udah putus sejak dua tahun lalu." Navel berhenti sejenak kemudian mengisyaratkan gadis itu untuk tidak berkomentar dengan sedikit mendorongkan kelima jarinya kearah gadis itu ketika gadis itu terlihat menarik nafas untuk berkomentar. "Dua, aku mau kasih tahu kamu, kalau sekarang aku sudah bertunangan dengan Arista. Jadi, berhenti mengganggu aku dengan pesan singkat ataupun telepon dari kamu,oke Sindi."

Plak!!

Sepersekian detik setelah suara itu, aku merasakan pipiku perih dan panas. Gadis bernama Sindi itu menamparku. Dan Saat ini Navel memelukku. Gadis itu mencaci ku dan akan kembali mencapkan telapak tangan nya di atas pipi tembem ku, namun ditahan oleh tangan kekar Navel.

Aku menangis. Andai gadis itu tahu, kalau aku hanyalah korban dari sikap kekanakan Navel. Aku juga sakit hati, mendengar Navel akan bertunangan. Dan sekarang aku harus merasakan perihnya tamparan gadis mungil itu di pipiku. Aku Menangis dalam dekapan Navel yang menggiringku kembali ke mobil.

Pertahananku yang ku bangun sejak di perjalanan tadi runtuh, aku terluka. Fisik dan hatiku terluka. Karena Navel. Karena Cinta.

"Maaf ya Ris." Kata Navel sambil terus melajukan mobilnya.

Aku hanya mengangguk. Sesak didadaku terlalu menghimpit. Aku tidak mampu berkata-kata.

"Kita ke dokter dulu yah? Sakit banget yah sampai kamu ngga berhenti nangis."

Aku hanya diam masih terus meneteskan air mata dan menunduk. Dasar tulalit, makiku dalam hati kepadaNavel. Aku bisa tahan sakit tamparan ini. Yang tidak bisa kutahan adalah sakit hati ku. Sakit hati karena sikap kamu yang seenaknya menjadikan aku kambing hitam atas amukan mantanmu. Aku kesal. Sangat kesal.

"Maaf yah Ris." Katanya, sambil menggenggam tangan ku yang terbebas di atas paha ku.
Aku menepisnya. Lalu mengusap tangis ku. Aku tidak boleh lemah. Aku tidak boleh menangisi laki-laki seperti Navel. Pikirku tiba-tiba saat sentuhan itu kurasakan.

                                                                         ***

Sejak kejadian di kafe itu. Aku tidak pernah lagi membalas pesan singkat Navel. Juga, tidak pernah lagi mengangkat telepon Navel. Aku terluka. Benar benar terluka. Walaupun terkadang aku juga merasakan rindu saat-saat kebersaam kami selama empat bulan belakangan. Tapi setiap aku teringat hal manis itu, aku juga kembali memunculkan kejadian di kafe itu. Soal ini, aku sudah menceritakan nya pada Kak Rana. Aku juga mulai jujur, kalau aku begitu menyayangi Navel entah sejak kapan. Tapi aku juga meminta Kak Rana untuk tidak memberitahukan hal ini kepada Kak Tio. Aku benar-benar tidak mau menjadi orang ketiga diantara Navel dan tunangan nya itu yang akan segera navel nikahi.

Untuk membunuh keresahanku. Aku membuka laptop ku, dan menjelajahi dunia maya. Seperti biasa, aku selalu mengecek email ku setiap hari. Lagi-lagi, ku temukan sebuah email tanpa pengirim yang jelas. Dengan judul yang sama ' Novel Cinta ' sudah kali ke tiga si pengirim misterius ini mengirimiku novel dengan judul yang sama namun berbeda di setiap bab nya. Hari ini kali ke empat dan berarti dia mngirimiku bab ke empatnya dan menjadi ending dari ceritanya. Akupun dengan antusias membaca bab akhir novel itu. Tak lupa mengucapkan terimakasihku juga kepada si pengirim.

Sebenarnya, sejak aku mulai berkenalan dengan Navel, tiba-tiba saja si pengirim email ini rajin mengirimiku novel. Aku sempat bingung dan pensaran dengan pengirim novel ini. Isi novel nya hampir mirip dengan kisah ku bersama Navel. Namun berbeda di endingnya. Ending cerita di novel itu sangat bahagia. Sedangkan aku dan Navel? 

Sempat juga terfikirkan mungkin dia fans ku yang memata-matai ku sehingga tahu semua aktivitas kami? Huh! Memangnya aku siapa, hingga ada orang yang rela mengintai ku. Bahkan sampai harus mengefanskan aku?

Aku tersenyum menertawakan pemikiranku sendiri.

Biarlah, toh si pengirim novel ini sama sekali tidak pernah menggangguku apalagi sampai menerorku. Dia justru menghiburku dengan novel-novel nya.

                                                                         ***

Besok hari ulang tahun ku yang ke duapuluhsatu. Hari ini Navel mengirimiku pesan singkat. 

Hai Ris? Apa kabar? Aku ngga ngerti kenapa kamu tiba-tiba menghindari aku. Aku punya salah yah sama kamu? Maafin aku yah. Oh iya. Besok kamu ulang tahun kan? Happy Birhtday Arista sayang. Kayanya aku jadi yang pertama mengucapkan yah? Doaku yang terbaik selalu menyertaimu. Oh iya satu lagi, aku mau kasih kabar, besok aku mau melamar wanita yang aku cintai itu. Doakan aku semoga besok dia menerima lamaranku yah. Salam rindu, Navel.

Cih! Apa-apaan Navel ini. Bukan pertama, tapi terlalu cepat. Dan... sayang?? Dia memanggil aku dengan sebutan itu, bahkan tepat sehari sebelum dia melamar tunangan nya? Gila Navel! Aku benci Navel!!

                                                                        ***

Petang ini hari minggu, dan hari duapuluhsatu ku. Ayah, Ibu dan Kak Rana sudah mengucapkan selamat ulang tahun dan memberiku kado padaku pagi-pagi sekali, tapi, Kak Rana masih berhutang satu kado untuk ku, katanya surprise istimewa dan aku pasti suka. Baiklah aku percaya dia, Kak Rana bisa diandalkan.
O ya, Navel juga memberiku satu bucket mawar merah dengan ucapan ' sayang ' nya lagi. Yang dia titipkan pada Kak Rana. Entah kapan dia datang kerumah. Aku tidak menanyakan soal itu dan aku tidak peduli. Lebih tepatnya berusaha untuk tidak peduli. Aku menatap lekat mawar itu, kuhirup harumnya. Aku bergumam, hanya bunganya. Navelnya tidak datang. Tentu. Dia sedang melamar tunangannya. Huh.

Malam ini, malam perayaan nya. Seperti biasa, tidak ada pesta. Tidak ada keramaian. Hanya sekedar berkumpul dan makan malam namun dengan pakaian rapih, karena setelah itu akan berfoto keluarga. Itu kemauanku. Dan itu yang aku suka.

Aku tengah menyisir rambut sebahuku ketika Kak Rana masuk kekamarku.

"Dek udah siap? Ayo turun keruang tamu, tamunya udah datang."

"Tamu? Tamu siapa? Aku ngga ngundang temen-temenku kok Kak."

"Tamunya Ayah sama Ibu, ayo."

Akupun turun menuju ruang tamu bersama Kak Rana. Betapa terkejutnya aku ketika aku melihat Navel dan keluarganya tengah duduk di ruang tamu. Navel yang melihat keberadaanku ditangga tersenyum manis kearahku. Aku hanya memalingkan pandangan ku ke arah Kak Rana.

"Mereka tamunya?" Bisikku pada Kak Rana.

Kak Rana hanya tersenyum dan mengangguk.

"Maksudnya apa sih Kak?"

"Tio akan melamarku malam ini." Bisik Kak Rana lagi.

"Hah? Kok ngga bilang sama aku Kak?"

"Ini surprise ku buat kamu, kamu seneng kan?"

Aku tersenyum sambil merangkul pinggang Kak Rana. Tentu aku sangat bahagia, kalau Kak Rana bisa bersatu dengan Kak Tio. Dia pria yang baik. Sangat berbeda dengan adiknya.

                                                                        ***

Obrolan kedua orang tua pun mengalir, acara lamaran Kak Tio untuk Kak Rana juga sudah berlangsung. Syukurlah, kedua keluarga menerima. Sampai kemudian. Ayah dari Kak Tio dan Navel memulai obrolan serius kembali.

"...Jadi, sebenarnya, kami juga akan melakukan kewajiban kami untuk putra bungsu kami Pak, saya ingin melamarkan Riris untuk Navel."

Aku yang dari tadi tidak mau melihat kearah Navel dengan sangat terkejut menatap kearah Navel saat kalimat itu menyentuh gendang telingaku dengan sangat jelas. Navel pun tersenyum tulus kearahku. Tidak nampak sedikit pun kebohongan dari matanya.

Dengan logat Jawa yang masih samar-samar terdengar dari mulut Ayah ku, beliau menjawab dengan sangat bijaksana. "Saya memberikan keputusan sepenuhnya kepada Arista, karena nanti mereka juga yang akan menjalankan."

Saat ini, semua mata mengarah kepadaku. Aku menatap Navel penuh tanya, apa maksud dari semua ini? tapi Navel hanya tersenyum sambil menatapku lekat. Sejujurrnya, Aku ingin menerima lamaran itu. Tapi, bukankah Navel bilang dia akan melamar tunangan nya hari ini. Apa mungkin aku yang dia sebut sebagai tunangan nya? Tapi aku belum bertunangan dengan dia dan tidak bertunangan dengan nya. Aku meremas tanganku sendiri karena gugup. Cincin. Jariku menyentuh cincin di jari manisku yang lain. Ini cincin yang diberikan Navel.



"Rista, pakai ini yah.." Kata Navel sambil menyerahkan kotak kecil yang sudah bisa kutebak pasti berisi cincin.

"Sudah kutebak. Mainstream kamu." Kataku sambil tertawa.

"Kamu ngga suka yah?"

"Emang ini beneran buat aku?"

"Iya."

"Atas dasar apa kamu kasih cincin ini Vel?"

"Lambang pertemanan. Lambang pertunangan juga boleh."

"Tunangan?" Kataku sedikit canggung. "Ini baru sebulan setelah kita ketemu loh, bahkan status kita aja masih sebatas teman. Kamu suka ngawur nih."

Navel tertawa. "Ya sudah, aku melamar kamu barusan, jadi mulai hari ini kamu tunangan aku."

Aku pun ikut tertawa tak menanggapi ucapan nya.



Kejadian beberapa bulan lalu terlintas di pikiranku. Saat itu navel bilang dia melamar ku, tapi aku tidak serius menanggapinya. Mungkinkah?

Aku menatap Navel masih dengan bingung.

"Emm.. Pah, Om semuanya. Navel mau menjelaskan semuanya dulu sama Arista. Boleh?" Tiba-tiba Navel bersuara. Akhirnya dia mengerti maksudku.

"Ris, sebelumnya, selamat ulang tahun sekali lagi. Buat Kak Rana dan Kak Tio terimakasih."

"Kak Tio? Kak Rana?" Aku semakin bingung menanggapi kalimat Navel.

"Iya. Kak Rana yang cerita semua tentang kamu ke aku, sejak empat bulan lalu awal pertemuan kita, diam-diam aku menanyakan nya pada Kak Rana, setiap kegiatan kamu di tempat manapun Kak Rana selalu kasih tahu aku. Termasuk saat pertama kali ketemu di toko buku, soal jus stroberi, soal novel, semuanya. Aku dapatkan informasi itu dari Kak Rana dan Kak Tio sebagai umpanku kalau-kalau Kak Rana sedang badmood."

"Soal setelah kejadian di kafe juga termasuk?"

"Iya. Setelah pulang dari kafe, bahkan kamu nangis ngga berhenti-henti karena aku, aku tau dari Kak Rana. Dia juga yang bilang kalau kamu cemburu dan sebenernya sayang juga sama aku, dan ' Novel Cinta ' aku mengarangnya sendiri. Tentang kita, dan happy ending bukan? Aku berharap yang dikehidupan nyata juga berakhir seperti itu. Seperti Ata menerima lamaran Valen."

"Rista, aku minta maaf, untuk semua yang sudah terjadi terutama kejadian di kafe itu dengan Sindi. Yang aku maksud dengan tunangan ku ya memang kamu. Sebulan pertemuan kita, aku pernah bilang bukan, saat akan menyematkan cincin itu, kalau aku melamarmu? Itu lamaran ku secara pribadi.”

Aku hanya bengong mendengar penjelasan nya.

“Dan pesan singkatku kemaren soal melamar. Aku juga ingin melamar kamu dengan kedatangan kedua orangtuaku, aku menyatakan kalau aku serius sama kamu Ris. Aku memang ngga berani mengungkapkan perasaan aku ke kamu. Karena memang niatku dari awal, aku ingin menjalani hubungan yang serius bersama kamu. Dan Papa ku sudah menyampaikan maksud kedatangan ku malam ini. Jadi bagaimana jawabanmu?"
Sepanjang Navel menjelaskan semuanya. Aku hanya bisa menangis, Kak Rana dan Ibu mengelus pundak dan punggungku. Aku menangis bukan karena sedih. Aku terharu. Sekaligus bahagia. ternyata apa yang aku rasakan selama ini di rasakan juga oleh Navel. Soal ending, aku juga ingin mempunyai ending seperti Valen dan Ata dalam ' Novel Cinta '.

Dengan mantap, aku pun menganggukan kepalaku sambil menatap kearah Navel.
Semua anggota keluarga terlihat lega dan tersenyum sumringah. Kemudian Ayah mempersilahkan untuk menuju keruang makan untuk makan malam bersama, merayakan hari duapuluhsatu ku dan merayakan pelamaran Kak Tio dan Kak Rana, juga Navel dan aku.


                                                                              End

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Daily] 1

Jomblo Prinsip

Rapuh