Bittersweet


Alunan musik klasik dan gemerlap cahaya lampu malam hari kota Paris begitu memanjakan indra pendengaran dan penglihatan Radit.
Malam ini, ia masih menikmati pemandangan kota Paris hingga hampir tengah malam, dari kamarnya. Pantulan dirinya dari jendela kaca besar diruangan itu menjadi saksi bisu seberapa lama ia berdiri.
Tangan nya memegang erat kaleng minuman bersoda. Pikirannya kembali melayang pada beberapa saat yang lalu. Ia merindukan Raya. Kekasihnya yang tak bisa ia miliki.

***

''Kau tidak bisa menikahiku Radit, aku saudara kembarmu.'' Tutur Raya pada Radit yang terlihat begitu frustasi.
Radit terdiam. Pertahanan nya runtuh ia terduduk di samping sofa apartemen Raya saat itu.
Pernyataan Raya seperti tamparan kedua baginya. Selama beberapa tahun ia menjalin hubungan bersama Raya, ia mengenal Raya sebagai model yang di kontrak oleh butik Ibunya untuk memeragakan design dari butik Ibunya tersebut. Tak pernah sedikitpun ia berfikir kalau Raya memiliki hubungan kekeluargaan dengan dirinya bahkan hingga sedekat saudara kembar.
''Naluri seorang Ibu tak akan pernah bohong, Dit. Hasil tes DNA juga menyatakan 99,99 % kau anak dari Ayahku dan aku anak dari Ibumu. Dan Ayahku, maksudku Ayah kita mengatakan kalau Ibumu adalah mantan istrinya, dan ketika mereka bercerai mereka sepakat untuk saling merawat salah satu diantara kita. Kau mendengar semua itu, dan kau sudah melihat hasil tes DNA nya.''
''Tapi aku mencintaimu, Raya.''


“Aku tidak memintamu untuk berhenti mencintaiku Dit, kau harus tetap mencintainku. Kita harus tetap saling mencintai dan menyayangi Dit, tapi sebagai saudara kembar, sebagai kakak dan adik.'' Raya menangis. Tangan nya meraih kepala Radit, memeluknya.
Radit hanya diam. Hatinya hancur. Mimpinya untuk bahagia bersama Raya sebagai sepasang suami istri seperti hilang tak berbekas bak kepulan asap rokok membumbung ke udara.

***

Radit mulai menyesap sedikit minuman bersoda tersebut.
Ia tersenyum pahit, teringat saat bagaimana terkejutnya sang Ibu saat bertemu calon besan nya yang ternyata sang mantan suami dan berarti Ayah kandung Radit. Pun teringat penjelasan-penjelasan dari kedua orangtuanya yang seperti sebuah cerita horor bagi Radit.

***

''Kau Ayahnya Raya?'' Ibu Radit menangis seketika saat bertemu dengan Ayah Raya saat akan melamarkan Raya untuk Radit.
''Ibu kenapa menangis?'' Tanya Radit bingung.
Ayah Raya juga tak menampilkan ekspresi yang berbeda jauh dari Ibu Radit. Terkejut.
''Aku tak menyetujui kalian menikah.'' Kata Ibu Radit tiba-tiba.
Sontak. Radit dan Raya terkejut. Bahkan Raya sampai menitikkan air mata.
''Dia mantan istri Ayah, dia Ibu kandungmu.'' kata Ayah Raya sambil menatap nanar kearah putrinya.
Batin Raya dan Radit begitu diguncang mendengar pernyataan demi pernyataan dari Ayah dan Ibu mereka. Kedua insan yang saling jatuh cinta ini sempat tak percaya. Akhirnya Ayah Raya memutuskan untuk melakukan tes DNA yang ternyata hasilnya diketahui akurat kecocokan nya. Saat itu Radit seperti tertampar dengan sangat keras. Sakit dan perih.

***

Radit kembali menyesap minuman di kalengnya, saat ponselnya berdering.
Terpampang nama Raya dilayar.
Radit menerima panggilan itu tanpa berucap sepatah katapun.
''Apapun yang terjadi, percayalah ini semua kehendak Tuhan. Dengan begini kau bisa kembali bertemu Ayah, dan aku bisa kembali bertemu Ibu,'' Kata Raya tanpa berbasa-basi sebelumnya.
Terdengar tarikan dan hembusan nafas dari seberang telepon.
''Aku selalu mencintai dan menyayangimu, Kak Radit.'' Kata Raya melanjutkan.
Radit hanya diam, ia menutup matanya mendengar kalimat terakhir dari Raya, buliran bening air mata mengalir di kedua pipinya.


Selesai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Daily] 1

Jomblo Prinsip

Rapuh