Incest Love [1]




“Nes, jadi kapan aku dikenalin sama orangtua kamu?” tanya Adit pada Ines, kekasihnya.

Adit, seorang pemuda yang sudah matang baik dalam usia maupun dalam karir. Hidup sebatang kara sejak usianya lima belas tahun membuat Adit harus berjuang sendiri membiayai kehidupan dan pendidikan nya, namun karena keuletan, kegigihan dan kecerdasan yang dimiliknya dia selalu mendapat beasiswa di sekolahnya dan saat itu dia baru menginjak pendidikan menengah atas. Karena keuletan dan kegigihan nya jugalah ia bisa menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. 

“Ayah masih ada tugas diluar kota Dit dan Bunda mendampingi Ayah, kalau udah datang, aku pasti kenalin kamu sama Ayah sama Bunda, yah?” Kata Ines.

Ines adalah gadis yang telah mengisi hari-hari Adit sejak dua tahun lalu. Selain cantik, Ines juga gadis yang cerdas, aktif, ekspresif dan lembut. Dia juga penuh pengertian dan perhatian pada Adit, Adit yang tidak pernah merasakan perhatian dari sosok Ibu sejak kecil pun seolah bisa merasakan perhatian itu setelah Ines menjadi bagian hidupnya selama dua tahun ini. 

Sebelum bersama Ines, Adit tidak pernah menjalin hubungan dengan gadis lain, entah kenapa saat pertama melihat Ines langsung tertarik dan setelah menjadi sepasang kekasih Adit tidak pernah sekalipun berniat untuk meninggalkan Ines.

“Emang berapa lama Ayah sama Bunda kamu diluar kota?”

“Mungkin tiga hari lagi mereka udah sampai Jakarta,”

Adit mengangguk mengerti, kemudian menyuapkan sesendok pasta milik nya ke mulut Ines dan Ines terima dengan sedikit senyuman simpul tergurat di bibirnya yang mungil. Sungguh terlihat sangat manis. Senyuman manis dari gadis termanis. Mereka berdua memang sedang makan siang bersama saat ini.

***

“Hari ini kamu ada lembur?” tanya Adit pada Ines saat mobil Adit sudah tiba di parkiran kantor mereka.

Ines dan Adit memang satu kantor. Adit seorang CEO disebuah perusahaan percetakan majalah remaja yang didirikan nya, dan Ines adalah tim editor di perusahaan Adit. Tapi mereka bersikap profesional, di kantor mereka saling bekerja sama untuk kemajuan perusahaan dan diluar kantor mereka bekerja sama untuk saling menjaga keutuhan hubungan mereka.

Sebenarnya, Adit dan Ines sudah lama saling mengenal, karena Ines adalah junior Adit sewaktu mereka sama-sama menjadi mahasiswa disalah satu Perguruan Tinggi. 

“Iya, ada beberapa artikel revisi yang baru masuk ke email ku, kamu ada lembur juga?”

“Nggak sih, tapi malem ini aku mau ketemu teman lama ku, dia itu supervisor salah satu produk kecantikan remaja mau bikin iklan di majalh kita,”

“Oooo,” kata Ines manggut-manggut sambil sedikit re-touch up.
Adit memperhatikan Ines yang tengah sibuk memperbaiki make up nya, bedak tipis dan sedikit lip ice berwarna merah muda yang membuat nya kembali terlihat segar. 

Dengan genit Adit mencolek dagu Ines yang tidak terlalu panjang itu. Ines pun menoleh sambil tersenyum kemudian kembali memasukkan alat riasnya kedalam pouch berwarna biru metalik kesukaan nya.

“Kenapa sih sayang, genit deh colek-colek,” katanya sambil memandang Adit kemudian tersenyum.

“Nggak, aku cuma gemes aja liat kamu, aku bersyukur Tuhan mempertemukan kita,”

Ines tersenyum dengan memandang haru kearah Adit, “Aku juga bersyukur Tuhan mempertemukan aku sama kamu,”

“Aku sayang kamu Nes,” kata Adit lembut kemudian mengecup kening Ines.

Ines kembali manatap Adit dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya yang mungil, “I love you too Adit,” katanya sambil menggenggam erat jemari Adit.

“Ya udah, aku masuk duluan yah, see you sayang,”

“See you, kabarin yah kalo Ayah sama Bunda kamu udah datang,”

“Siap bos!” katanya, kemudian keluar dari mobil.

bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Daily] 1

Jomblo Prinsip

Rapuh