Rindu Yang Tak Pernah Surut (Aurora)
Malam ini angin berhembus tak
begitu kuat, itu dapat kurasakan dari sapaan lembutnya di kulitku yang sudah
kelelahan terpapar matahari seharian ini. Dalam lelahku malam ini, aku kembali
merindukan dirinya. Wanita itu, wanita yang aku kenal setahun lalu dalam
ketidaksengajaan. Wanita yang telah berani-beraninya mencuri separuh dari
hatiku. Wanita yang sangat kucinta. Wanita yang ku kenal begitu imut, walaupun
tak jarang dia tidak mempercayainya. Wanita yang terlihat sangat pendiam, namun
justru akan sangat cerewet jika aku menghubunginya via telpon. Wanita yang
selalu berusaha terlihat dewasa, walaupun yang aku rasakan dia begitu manja.
Tapi aku cinta semua itu. Aku cinta keimutan nya, aku cinta cerewetnya, aku
cinta sikap manjanya. Aku cinta dia. Aurora. Kekasihku yang tidak mungkin ku
miliki karena sebuah pertentangan.
***
Malam ini Aurora kembali hadir
dalam pikiranku, sekuat apapun aku mencoba menghilangkan nya, membunuhnya,
menguburnya dalam ingatan ku, tetap saja aku tidak mampu. Rasa cintaku lebih
besar dari semua rasaku untuk berusaha menghilangkan nya. Dengan egoisnya, aku
memberanikan diri untuk menghubunginya malam ini.
"Hallo..." Suara imut
itu kembali menggema di gendang telingaku, menjalar hingga ke seluruh sel-sel
tubuh dan darah ku. Membuat aku sempat hilang konsentrasi untuk beberapa detik.
"Hai, gimana kabarmu?"
kataku berbasa basi.
"Baik kak, kakak
gimana?" Dia kembali bertanya tentang keadaanku. Aku begitu senang.
"Aku baik juga."
"Kenapa kak? Tumben telpon
malam-malam?" Tanyanya bingung.
Kurasa wajar, karena sudah
beberapa bulan sejak aku mengetahui bahwa dia mempunyai status dengan seseorang
yang dikenalkan orangtuanya, aku tidak menghubunginya lagi. Lebih tepatnya,
tidak berani menghubunginya. Aku takut tak bisa mengontrol rasa ku terhadapnya.
Dengan santainya aku menjawab pertanyaan itu. "Aku kangen kamu."
Terdengar senyuman malu-malu
khasnya. Tanpa berharap dia juga akan merindukanku, aku menganggap santai
senyuman itu. Namun tiba tiba.. "Aku juga kangen kakak." Katanya.
***
Kami terdiam untuk beberapa
saat, aku sibuk dengan perasaan ku saat ini, aku mencoba merangkaikan kalimat
ku agar tidak salah berucap, aku sama sekali tidak ingin membuatnya tersinggung
atau merasa bosan karena ucapanku. Jujur, aku sangat tidak ingin mengakhiri
percakapan jika sudah dengan nya.
"Kakak dimana? Masih
dikantor atau?" Tiba-tiba dia kembali membuka pertanyaan. Pertanyaan
menggantung khas Aurora. Aku suka itu.
"Aku di rumah dek, baru
pulang sih.."
Terdengar respon meng-oh-kan
darinya. Aku kembali membuka suaraku, aku menanyakan bagaimana hari nya hari
ini. Hal-hal apa saja yang membuatnya bahagia hari ini dan tidak lupa,
menanyakan soal hubungan nya dengan kekasihnya. Dia bilang hari nya hari ini
cukup baik, banyak hal yang membuatnya bahagia hari ini, dan dengan kekasihnya,
mereka baik-baik saja. Aku bahagia mendengar wanita yang ku cintai bahagia.
Tapi, aku tidak munafik, aku sakit hati mendengar ceritanya tentang lelaki itu,
tentang kekasihnya. Aku ingin diposisi itu. Diposisi kekasihnya, yang bisa
selalu melihat senyuman Aurora, bisa selalu mendengar cerita Aurora, dan
semuanya yang berhubungan dengan Aurora. Aku ingin. Andai orang tua kami
merestuinya.
***
Malam semakin larut, suara
parauku mulai terdengar. "Kakak ngantuk?" Tanyanya. Aku berbohong,
"Engga kok." Jawabku. Seperti yang sudah ku katakan, aku tidak pernah
ingin untuk mengakhiri percakapan dengan Aurora.
"Bohong." Jawabnya
tegas. "Udahan yah, nanti kita sambung lagi telpon nya, kakak udah kecapekan,
besok harus kerja pagi kan?" Walaupun aku tidak ingin mengakhirinya, tapi
aku juga tidak bisa menolak permintaan wanita itu. Dengan berat hati aku
mengiyakan ucapan nya. Tunggu. Aku lupa memuji satu lagi sifatnya, aku cinta
pengertian Aurora, wanita ini begitu mengerti aku. Ini juga menjadi salah satu
alasanku tidak pernah berhenti mencintainya.
“Aurora tunggu!!” Sela ku
beberapa detik kemudian.
“Iya?” Katanya memberi respon.
“Aku mencintaimu. Aku
menyayangimu. Sejak perjumpaan kita setahun lalu aku jatuh hati kepadamu.” Aku
mengatur nafasku. Rasa nya terlalu berat kukatakan semua itu. Aurora pun tak
memberi respon yang bsa ku tebak. Dia hanya diam di seberang telepon.
“Maafkan aku mengatakan ini
disaat hari bahagiamu akan segera tiba. Ku harap kamu selalu bahagia. Yakinlah
pilihan orangtuamu terbaik untukmu.”
Terdengar sedikit tarikan dan
desahan nafas berat dari ujung telepon. Aurora seperti menangis. "Makasih
buat telpon nya ya kak, jaga kesehatan, banyak minum air putih, makan yang
teratur, makin rajin ibadah yah, selamat malam, selamat istirahat kak."
Katanya. Aku tersenyum mendengarnya. Selalu seperti itu. Sejak setahun lalu,
selalu kalimat ini yang aku dengar. Aku bahkan hampir hafal dengan kalimat itu
di setiap ujung obrolan kami. Dia tegar, aku tahu dia wanita tegar. Syukurlah.
Sedikitnya aku lega karena dugaanku salah, dugaanku jika Aurora menangis.
Akupun membalas nasihat itu
dengan ucapan terimakasih. Dan kali ini, aku beranikan diri untuk mengucapkan “I Love You” meskipun itu salah dan terkesan
egois, sebelum aku menutup telpon ku. Aku laki laki bodoh yang
membiarkan diriku tersiksa kerana satu hal bernama cinta. Ini memang salahku
dari awal. Aku terlalu pengecut menahan rasa ku. Aku terlalu pengecut untuk
tidak segera mengatakan nya. Dia tersenyum sedikit setelah mendengar kata
terakhirku, begitulah yang aku dengar, dan kata “Bye..” menjadi akhir obralan kami malam ini.
Rindu yang tak pernah surut
kurasakan dari sosok wanita itu. Aurora.
SELESAI
Komentar