Salah Jatuh Cinta


Hampir setahun, aku tak mendengar suara lembut mu. Hampir setahun juga aku menyimpan rindu padamu. Beberapa foto yang tersimpan di galeri ponselku menjadi obat nya. Walau terkadang itu sama sekali tak mengobati, justru membuat rindunya semakin besar dan membuat luka yang hampir kering kembali sobek dan berdarah. Perih. Sakit. Jika sudah seperti itu.
Padahal waktu itu, aku yang membuat keputusan untuk berakhir tapi sekarang justru aku juga yang merasa kehilangan. Aku ingat, waktu itu kamu setengah memohon untuk terus melanjutkan, “kamu tidak mau mencoba untuk terus memperjuangkannya?” begitu tanyamu, tapi aku mantap mengatakan, ‘tidak’ saat itu. Aku seolah tak mau peduli rasa perih dan sakit yang kau rasakan. Atau mungkin aku terlalu merasakan perih dan sakit juga? Sehingga mengabaikan rasa sakit yang kau terima? Entahlah. Yang pasti, aku merindukan mu saat ini. Sangat rindu.
''Seberapa persen kau yakin kita bisa bersama?'' Tanyaku saat itu.
Kau menghela napas berat, ''tidak satu persen pun. Bagaimana denganmu?''
Aku menoleh kearahmu sekilas, ''tidak satu persen pun?'', aku mengangguk setuju. ''Lalu untuk apa kita masih menjalaninya?'' Tanyaku.
Kau hanya menatapku, dapat kulihat matamu mulai berkaca-kaca dan pucuk hidungmu mulai memerah.
Kau menggeleng beberapa kali, ''entahlah..'' katamu sambil tersenyum.
Senyuman itu palsu. Bahkan kau sama sekali tidak bisa tersenyum, itu hanya kamuflasemu untuk menenangkan hati.
Aku masih menatapmu lekat yang kini mulai menunduk, memperhatikan wajahmu. Matamu semakin merah, selaras dengan pucuk hidungmu, dan bibirmu mulai bergetar tak lama air mata pun mulai menetes satu per satu di pipimu.
Aku terluka melihat pemandangan itu. Ku hapus buliran bening hangat dari pipimu. Kau mulai menarik nafas beberapa kali menstabilkan dirimu. Kemudian kembali menatapku dengan kembali tesenyum. Lagi-lagi senyuman palsu. Matamu memerah, begitu pula hidungmu.
''Bagaimana menurutmu?'' Tanyamu dengan bibir yang masih sedikit bergetar.
Aku terdiam. Pertanyaan itu terdengar ringan, tapi aku benar-benar sulit mengatakan nya. Rasanya tenggorokanku tecekat, aku tak sanggup berkata-kata. Apalagi dengan melihatmu dalam keadaan seperti ini. Aku seperti menjadi laki-laki yang sangat tak berguna membuat orang yang ku cinta menangis karena aku.
''Kita akhiri saja,'' jawabku.
Sungguh berat ku katakan itu sebenarnya. Tapi apa dayaku. Hubungan ini di tentang.
Aku tak mampu melewati bentengnya untuk sampai kedalam istanamu. Benteng itu terlalu kokoh. Dan sebenarnya kau tahu itu.
Kau terdiam beberapa detik.
“Kamu tidak mau mencoba untuk terus memperjuangkannya?” Tanyamu.
Kutarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, sebenarnya aku ingin, tapi aku tak bisa. Aku pun menggeleng dengan diirngi permintaan maaf.
Kau terdiam, senyuman palsumu kembali terukir di bibirmu seiring dengan getaran bibirmu dan matamu yang kembali berembun.
Kau mengangguk beberapa kali, ''aku mengerti,'' katamu, air mata mu kembali mengalir dan itu membuat ku sangat terluka.
''Terimakasih, kau sudah menjadi yang terbaik selama ini, dan memperlakukan aku seperti seorang putri,'' katamu menambahkan dengan sesekali menarik hembuskan nafas mengatur nada bicaramu.
Dan aku terluka setiap kali mengingat itu. Maafkan aku, aku tak bisa melewati benteng perbedaan itu. Bagaimanapun aku mencobanya dengan segala kemampuan ku, perbedaan itu jelas sekali menjadi penghalang, aku tak mau kau menjadi musuh Tuhanmu, dan aku menjadi musuh Tuhan ku. Hanya karena, kita salah jatuh cinta.

SELESAI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Daily] 1

Jomblo Prinsip

Rapuh