Salah Jatuh Cinta
Padahal waktu itu, aku yang membuat keputusan untuk
berakhir tapi sekarang justru aku juga yang merasa kehilangan. Aku ingat, waktu
itu kamu setengah memohon untuk terus melanjutkan, “kamu tidak mau mencoba untuk terus memperjuangkannya?” begitu
tanyamu, tapi aku mantap mengatakan, ‘tidak’ saat itu. Aku seolah tak mau
peduli rasa perih dan sakit yang kau rasakan. Atau mungkin aku terlalu
merasakan perih dan sakit juga? Sehingga mengabaikan rasa sakit yang kau
terima? Entahlah. Yang pasti, aku merindukan mu saat ini. Sangat rindu.
''Seberapa persen kau yakin kita bisa bersama?''
Tanyaku saat itu.
Kau
menghela napas berat, ''tidak satu persen pun. Bagaimana denganmu?''
Aku menoleh kearahmu sekilas, ''tidak satu persen pun?'', aku mengangguk setuju.
''Lalu untuk apa kita masih menjalaninya?'' Tanyaku.
Kau hanya menatapku, dapat kulihat matamu mulai
berkaca-kaca dan pucuk hidungmu mulai memerah.
Kau menggeleng beberapa kali, ''entahlah..'' katamu
sambil tersenyum.
Senyuman itu palsu. Bahkan kau sama sekali tidak
bisa tersenyum, itu hanya kamuflasemu untuk menenangkan hati.
Aku masih menatapmu lekat yang kini mulai menunduk,
memperhatikan wajahmu. Matamu semakin merah, selaras dengan pucuk hidungmu, dan
bibirmu mulai bergetar tak lama air mata pun mulai menetes satu per satu di
pipimu.
Aku terluka melihat pemandangan itu. Ku hapus
buliran bening hangat dari pipimu. Kau mulai menarik nafas beberapa kali
menstabilkan dirimu. Kemudian kembali menatapku dengan kembali tesenyum.
Lagi-lagi senyuman palsu. Matamu memerah, begitu pula hidungmu.
''Bagaimana menurutmu?'' Tanyamu dengan bibir yang
masih sedikit bergetar.
Aku terdiam. Pertanyaan itu terdengar ringan, tapi
aku benar-benar sulit mengatakan nya. Rasanya tenggorokanku tecekat, aku tak
sanggup berkata-kata. Apalagi dengan melihatmu dalam keadaan seperti ini. Aku
seperti menjadi laki-laki yang sangat tak berguna membuat orang yang ku cinta
menangis karena aku.
''Kita akhiri saja,'' jawabku.
Sungguh berat ku katakan itu sebenarnya. Tapi apa
dayaku. Hubungan ini di tentang.
Aku tak mampu melewati bentengnya untuk sampai
kedalam istanamu. Benteng itu terlalu kokoh. Dan sebenarnya kau tahu itu.
Kau terdiam beberapa detik.
“Kamu tidak mau mencoba untuk terus memperjuangkannya?” Tanyamu.
Kutarik
napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, sebenarnya aku ingin, tapi
aku tak bisa. Aku pun menggeleng dengan diirngi permintaan maaf.
Kau terdiam, senyuman palsumu kembali
terukir di bibirmu seiring dengan getaran bibirmu dan matamu yang kembali
berembun.
Kau mengangguk beberapa kali, ''aku mengerti,''
katamu, air mata mu kembali mengalir dan itu membuat ku sangat terluka.
''Terimakasih, kau sudah menjadi
yang terbaik selama ini, dan memperlakukan aku seperti seorang putri,'' katamu menambahkan dengan sesekali menarik hembuskan
nafas mengatur nada bicaramu.
Dan aku terluka setiap kali mengingat itu. Maafkan
aku, aku tak bisa melewati benteng perbedaan itu. Bagaimanapun aku mencobanya
dengan segala kemampuan ku, perbedaan itu jelas sekali menjadi penghalang, aku
tak mau kau menjadi musuh Tuhanmu, dan aku menjadi musuh Tuhan ku. Hanya karena,
kita salah jatuh cinta.
SELESAI
Komentar