Sekotak Roti Mustard
Sore ini mahasiswa Fakultas Seni kembali melakukan
latihan di aula kampus. Wajar. Seminggu lagi pertunjukan drama musikal akan
diselenggarakan. Pertunjukan ini rutin diselenggarakan sebagai agenda ketgiatan tahunan Fakultas Seni.
Meski pertunjukan ini diselenggarakan oleh Fakultas Seni,
tapi tidak semua mahasiswa fakultas seni bisa bergabung. Untuk menjadi bagian
dalam tim drama musikal para mahasiswa harus melewati audisi yang dinilai
langsung oleh senat dan alumni dari Fakultas Seni yang sudah sangat berpengalaman beberapa bulan sebelumnya.
Hari mulai petang, para pelatih pun memberi jeda untuk
istirahat kepada tim drama musikal. Suasana aula riuh ramai saat jeda
istirahat. Faldi segera berlari keluar aula sesaat setelah pemimpin tim
musiknya memberikan waktu istirahat.
Megan melihat Faldi yang tengah berlari keluar aula,
tanpa sadar kepala dan pandangannya mengikuti arah larinya Faldi. Ia
bertanya-tanya kemana Faldi akan pergi. Tapi ia juga tak berniat mengejarnya.
Faldi, teman satu fakultas Megan. Tapi mereka baru saling
mengenal sejak tiga bulan lalu, atau tepatnya saat mereka sama-sama terpilih
menjadi pengisi dalam pementasan drama musikal tahun ini. Faldi mahasiswa musik
dan Megan mahasiswa tari. Wajar mereka tidak saling mengenal, mengingat begitu
banyaknya mahasiswa dalam satu fakultas bahkan dalam satu jurusan.
Megan tengah meneguk air mineral dari botol di tangan
nya. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan seseorang yang duduk di samping nya.
''Nih buat kamu,'' kata seseorang tersebut.
Faldi dengan senyum khasnya memberikan sekotak roti
kepada Megan.
“Roti lagi?” Megan menerima kotak
roti tersebut dengan ekspresi bingung.
Faldi mengangguk dengan seulas senyum.
Megan tersenyum memperhatikan Faldi.
Kening nya masih basah karena keringat, nafasnya sedikit memburu. Sepertinya
dia habis berlari lagi.
Merasa diperhatikan, Faldi pun tertawa kecil sambil
mengusap keningnya yang berkeringat.
''Kamu keluar aula sambil lari-lari tadi buat ini?''
Tanya Megan matanya menatap kearah kotak yang di pegangnya.
Faldi terdiam beberapa detik mengatur napasnya, seulas
senyuman mengembang di wajahnya, ''oh kamu lihat yah tadi aku lari-lari?''
Faldi balik bertanya.
Megan tersenyum malu-malu.
Faldi menatap Megan sambil tersenyum.
''Makan gih,'' titah Faldi.
''Makasih yah,'' kata Megan tersenyum. Hatinya
berbunga-bunga bahagia.
Faldi mengangguk dengan senyuman.
''Tapi kenapa lari-lari buat beli roti ini?''
''Kamu belum makan sejak siang kan? Aku takut maag mu
kambuh jika telat makan,''
Lagi-lagi Megan tersenyum malu. Bukan soal rotinya, tapi
soal perhatian Faldi yang membuat Megan begitu tersipu malu. Ia tak menyangka
Faldi masih mengingat soal kejadian pingsan nya beberapa waktu lalu karena
maagnya kambuh.
***
Megan membuka kotak berisi lima buah roti berukuran
sedang. Pikiran nya melayang pada saat beberapa waktu lalu, saat Megan jatuh
pingsan ketika berlatih koreo karena maagnya yang kambuh dan saat tersadar dia
berada di ruang perawatan fakultas ditemani Faldi.
Dan mulai saat itu mereka semakin dekat dan akrab, mereka
mulai bertukar nomor ponsel dan alamat sosial media. Faldi juga sering
mendekati Megan saat istirahat latihan untuk sekedar menawarkan minum atau
membawakan snack untuk Megan sambil ngobrol-ngobrol santai.
Bahkan beberapa kali Faldi mengantarkan Megan pulang
seusai latihan jika sudah sangat larut dan Megan tidak kunjung mendapatkan bus.
***
''Tapi maaf ya,
setiap kali aku ke toko roti cuma tersisa rasa
mustard,'' kata Faldi saat Megan mengambil salah satu rotinya.
Megan tersenyum, ''ngga apa-apa, aku suka kok rasa
mustard,''
Megan mulai menggigit sedikit pada roti pertamanya. Faldi
masih duduk didepan nya dengan tersenyum.
''Ini buat kamu,'' kata Megan mengambil satu lagi roti
dari kotak dan langsung menyuapkan nya ke mulut Faldi. Faldi pun menerima nya
dengan senyuman.
Mereka memakan sekotak roti mustard itu berdua dengan
perbincangan kecil dan candaan-candaan.
Sekotak roti mustard menjadi saksi bisu kedekatan Faldi
dan Megan sejak beberapa waktu lalu. Memang bukan rasa mustard sebagai rasa
favorit Megan tapi sejak Faldi mengenalkan rasa mustard, Megan jadi menggemari
roti dengan krim mustard di dalamnya.
Setiap gigitan roti yang ia makan jantungnya berdegup
cepat tak seperti biasanya. Telapak tangannya pun mulai berkeringat dingin
karena gugup. Setiap sapaan lembut dari bola mata milik Faldi menyentuh
korneanya, Megan semakin gugup, nafasnya seperti memburu. Tapi Megan menyukai
sensasi itu.
SELESAI
Komentar