Suami Pilihan Ayah
Lantunan
ayat Alquran begitu merdu terdengar diruang tengah, Arif tengah membacakan
ayat-ayat Alquran di telinga putra mungilnya yang baru berusia 1 tahun. Naura
tersenyum bahagia melihat pemandangan di depan nya sambil melipat mukenah dan
sajadah selepas solat isya bersama sang suami. Naura begitu bahagia hidup
bersama keluarga kecilnya. Ia bersyukur memiliki suami yang sholeh dan
senantiasa menanamkan nilai-nilai agama dalam rumah tangganya. Kebahagian itu
bertambah tatkala si buah hati lahir, Raffa namanya. Benar adanya sebuah
kalimat dalam alquran, ''Allah lebih
mengetahui mana yang terbaik bagi hambanya,’’. Padahal dulu, Naura sangat
menentang perjodohan nya dengan Arif, suaminya yang begitu ia sayangi sekarang.
***
3
tahun sebelumnya...
Arif
masih berdiri di depan pintu masuk yayasan menunggu hujan reda, matanya
beberapa kali melihat jam di pergelangan tangannya. Ia sudah berjanji akan
datang kerumah Pak Mus sepulang mengajar. Tiba-tiba sebuah motor berhenti
dihadapan nya, matanya terkejut saat melihat Khansa berlari kecil kearah pintu
masuk.
“Khansa?
Naura?”
“Ini
ustadz,” kata Khansa menyerahkan jas hujan kepada Arif.
Arif
tersenyum kearah Khansa dan Naura setelah menerima jas hujan itu.
“Terima..”
“Kak
Arif jangan salah paham, ini bukan kemauanku, ini perintah Ayah.” Naura
memotong kalimat lawan bicaranya, emosi semakin tidak stabil ketika matanya melihat
senyuman tak bersalah Arif. Naura sangat kesal dengan Arif saat itu.
“Kamu
habis menangis?” tanya Arif.
Naura
tak memperdulikan pertanyaan Arif, kemudian Naura menarik tangan Khansa untuk
segera kembali kerumah. Arif masih membuka satu per satu kancing jas hujan
untuk dikenakannya.
***
Setelah
kejadian sore hari ditengah hujan lebat itu, Arif merasa kalau Naura sedikit
berbeda, Naura bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat kesal jika sudah melihat
Arif dan Arif merasa Naura sangat menghindari Arif akhir-akhir ini baik di
yayasan maupun ketika bertemu di musola.
Beberapa
hari yang lalu setelah selesai solat isya berjamaah, Pak Mus, seseorang yang
sudah seperti Ayahnya sendiri sejak kedua orangtuanya meninggal karena
kecelakaan, sekaligus ketua yayasan tempatnya mengajar mengajak Arif datang
kerumah, awalnya ia bingung karena begitu tiba-tiba Pak Mus memintanya datang
kerumah, saat itu Arif berfikir kalau Pak Mus akan membicarakan sesuatu
mengenai yayasan, tapi ternyata dugaan nya salah.
Arif
merasa sangat terkejut manakala Pak Mus menyampaikan keinginan nya agar Arif
mengkhitbah Naura, bukannya Arif tak menyukai Naura, tapi ia hanya tak
menyangka kalau Pak Mus mempercayakan putrinya kepada Arif, beliau mengatakan
kalau Almarhum Ayahnya menitipkan Arif kepada Pak Mus dan meminta agar Arif
dinikahkan dengan salah satu putri Pak Mus. Ayah Arif yang seorang ustadz
komplek memang bersahabat dengan Pak Mus sejak lama. Karena mereka sama-sama
menjadi ustadz dikomplek tersebut dan bisa disebut juga sebagai sesepuh.
***
“Naura,
kamu kan sudah cukup umur untuk menikah, kamu belum kepikiran untuk menikah
begitu?” tanya Pak Mus dengan hati-hati.
Naura
melihat kearah Ibunya sekilas, “Angga berencana menyelesaikan sidang
disertasinya dulu yah, setelah itu Angga akan mengkhitbah Naura.”
“Naura,
kamu tahu kan pernikahan tanpa restu orangtua itu tidak berkah? Ayah ngga
setuju kalau kamu menikah sama Angga, Ayah berencana menikahkan kamu dengan
Arif,”
Naura
mulai menangis, ia tak bisa berkata-kata hanya menggelengkan kepalanya yang ia
dapat lakukan.
“Tapi,
Naura ngga cinta sama Kak Arif.. Naura cintanya sama..”
“Jangan
bantah kata Ayah! Ayah sama Ibu lebih tau siapa yang terbaik buat kamu,” Pak
Mus mulai meninggikan nada bicaranya.
Naura
makin tak kuasa menahan tangis, ia beranjak dari ruang keluarga dan memasuki
kamarnya. Ia menangis begitu sedih dikamarnya.
***
Tiga
minggu kemudian..
Pukul 3 sore, handphone
Naura berbunyi, panggilan masuk dari Angga, kekasihnya. Dengan mata
berkaca-kaca Naura mereject panggilan tersebut.
Kemudian
sebuah pesan singkat pun masuk, masih dari Angga.
Apa kabar sayang? Maaf yah akhir-akhir ini aku sibuk dikantor ditambah juga harus nyusun disertasi. Ketemu yuk, aku rindu. Minggu depan aku sidang, kamu datang yah??
Naura
tak membalasnya, ia hanya membaca kemudian menutup flip ponselnya.
***
Angga
sudah menunggu Naura disebuah taman yang dijanjikan Naura via telpon beberapa
menit lalu. Tak lama menunggu, Angga melihat Naura tengah berjalan kearahnya.
“Hai
sayang, apa kabar?” Kata Angga menyentuh tangan Naura.
Naura
mengabaikan Angga, dia tetap melangkah maju menuju sebuah bangku.
Angga
sempat bingung, namun ia tetap mengikuti langkah Naura.
“Beberapa hari lalu aku
hubungi susah banget, sibuk yah?” kata Angga masih bertanya.
Naura
duduk disebuah bangku kemudian air matanya mulai berlinangan.
“Kok
nangis? Kamu kenapa sayang?” kata Angga mengahpus air mata Naura.
“Aku
dijodohin sama Ayah..” kata Naura secara tiba-tiba.
Angga
terdiam, ia menatap Naura kaget. Sementara Naura hanya menunduk sambil terisak
semakin menjadi.
Angga
meraih kepala Naura dan memeluknya mencoba membagi beban yang sedang Naura
rasakan, walaupun sebenarnya dirinya juga terluka.
Mereka
lama berpelukan, seolah berbagi kesedihan berdua. Kemudian Angga melepas
pelukannya dan menghapus air mata Naura dengan jari-jarinya.
“Jangan
nangis, nanti cantikmu hilang, kamu ikutin aja apa maunya Ayah, aku cuma bisa
doain semoga orang yang sudah Ayah pilihkan itu yang terbaik untuk kamu..” kata
Angga kemudian mencium kening Naura dan bangkit dari bangku taman.
***
Seminggu
kemudian, hari yang direncanakan pun tiba, seharusnya ini menjadi hari bahagia
para calon pengantin, tapi tidak bagi Naura. Naura terus saja menangis sejak
semalam sebelumnya, bahkan saat akad nikah hingga malam pertamanya Naura pun
masih menangis dikamar pengantin.
“Kamu
ngga bahagia dek?” tanya Arif kepada istrinya. Arif duduk disamping Naura
sedikit menjaga jarak.
“Saya
kira Kak Arif beneran orang baik, ternyata Kak Arif jauh dari predikat orang
baik, kenapa Kak Arif tega sama Naura?!”
“Maafkan
kakak dek, ini permintaan terakhir Almarhum Ayah Kakak..”
Naura
diam, seolah tak peduli apapun alasan Arif.
Arif
menghembuskan nafasnya berat, “mandilah, ganti pakaianmu, lalu kamu tidur,
kakak akan tidur diruang tengah,”
Naura
masih tak bergeming ditempatnya, ia hanya menangis. Arif meraih bantal di
kasurnya kemudian keluar kamar meninggalkan Naura sendirian.
***
Enam
bulan setelah pernikahannya dengan Arif, Arif tak pernah menyentuhnya
sedikitpun, bahkan selama itu pula, Arif tak pernah tidur dikamar bersama
Naura. Sebaliknya dengan Naura, enam bulan pernikahannya ia mulai membuka
hatinya untuk Arif, Arif begitu bijaksana memperlakukan dirinya sebagai seorang
istri.
Malam
hari yang sunyi, Naura terbangun saat mendengar suara batuk seseorang dari luar
kamar. Ia bangkit dari kasurnya dan perlahan-lahan membuka pintu kamarnya, ia
melihat Arif tengah menunaikan solat malamnya dengan terbatuk-batuk, lalu
kemudian Arif pun jatuh pingsan. Naura sangat terkejut, dengan segera dia
menghampiri Arif mencoba menyadarkan kembali.
***
Arif
tersadar dengan kepala yang begitu berat, ia mengingat kejadian sebelumnya.
Kemudian lamunan nya tersadar ketika mendengar isakan tangis Naura.
“Ya
Allah, maafkan aku yang sudah menjadi istri durhaka bagi suamiku, bahkan selama
enam bulan pernikahan kami, aku tak pernah memperlakukan Kak Arif sebagai
suamiku,”
“Naura..”
panggil Arif lirih.
Naura
menoleh kearah ranjang, air matanya berlinangan, ia bangkit mendekati Arif dan
mencium tangan suaminya, seraya memohon maaf masih berbalutkan mukenah. Arif
menangis, dia mengelus lembut kepala Naura, “Tidak apa-apa dek, kakak bisa
mengerti waktu itu, Alhamdulillah, kakak bersyukur kalau kamu sudah bisa
menerima Kakak,”
***
Diawal
tahun kedua pernikahan Arif dan Naura, Allah menitipkan janin di rahim Naura,
kebahagiaan dan keharmonisan keluarga itupun semakin bertambah, Naura dan Arif
sudah bisa menjalani kehidupan sebagaimana layaknya sepasang suami istri yang saling
mencintai dan menyayangi, Arif begitu baik membimbing Naura menjadi seorang
istri, Naura mulai semakin merapatkan pakaian nya, Naura juga dengan keinginan nya sendiri
memutuskan untuk berhenti dari kegiatan nya diluar rumah, selesai dari keulusan
S2 nya Naura sempat mengajar juga di sebuah universitas yang sama dengan Arif,
tapi ai rela melepas karirnya dan melayani Arif dengan sangat baik dirumah, hingga
di awal tahun ketiga pernikahan mereka, seorang bayi laki-laki lahir dari rahim
Naura dan diberi nama Raffa.
SELESAI
Komentar