Blue Caramel

Nara masih sendiri, dan selalu sendiri. Duduk di salah satu bangku beratap rimbun dedaunan dengan meja berbentuk asimetris yang terbuat dari sisa potongan kayu di depannya. Laptopnya terbuka persis dihadapannya, masih kosong.
Matanya tertarik kepada seseorang disalah satu sudut taman yang tengah tertawa dan bercengkrama bersama teman-temannya, lalu beberapa gadis datang, bergabung dan mereka membaur.
Nara menatap layar laptopnya, menghela napas berat. Kelanjutan cerita dari cerbungnya sudah ditunggu editor sejak beberapa hari lalu. Ia kehabisan ide. Otaknya beku. Tak bisa berimajinasi. Referensi bacaan dari penulis favoritnya sudah habis ia baca, hanya satu buku terahir milik Nam Woohyun yang belum sempat ia baca. Ia kalah cepat, novel Nam Woohyun memang sangat laris dan ia kehabisan.
Nara menatap lagi kearah seseorang itu, kearah Nam Woohyun, novelist favoritnya Beberapa detik setelahnya ia menggeleng cukup keras.
Jangan menceburkan dirimu kedalam got, karena dirimu memang sudah hitam Nara-ya,”
Nara baru saja memikirkan, apakah sebaiknya ia mendatangi Nam Woohyun dan teman-temannya lalu berbaur? Siapa tahu dia bisa mendapatkan novel Woohyun. Atau setidaknya Woohyun mau meminjamkannya.
Jang Nara, gadis tinggi ini selalu sendiri. Teman-temannya tak ada yang mau mendekati. Mereka berfikir Nara gadis aneh dan misterius. Nara bisa tertawa geli dan menangis hanya karena membaca novel. Nara juga bisa menjadi sangat baik dan berubah menjadi sangat dingin dalam waktu yang hampir bersamaan. Banyak yang mengira Nara memiliki gangguan kejiwaan. Meskipun Nara sendiri kadang berpikir demikian.
Teman sejatinya hanya laptop dan novel-novel karya Nam Woohyun. Ia masih di depan laptop. Memandang ke layarnya. Pantulan dirinya terlukis jelas. Nara menopang dagu dengan telapak tangannya.
“Apa yang harus ku tulis?” Nara memejamkan mata berusaha berimajinasi.
“Oh Tuhan!! Pikiranku selalu saja terbang ke materi kuliah akuntansi pajak.”
“Nara, ku tahu matakuliah itu harus kau taklukan, tapi please. Lupakan sejenak untuk saat ini. Kau sudah tidak bertanggung jawab Nara-ya! Deadline mu molor! Wake up Nara-ya!" Nara bermonolog. Menepuk-nepuk pipinya. Menepuk pucuk kepalanya. Gemas.
“Berhenti bersikap seperti itu, atau orang lain akan semakin berfikir kalau kau memang aneh.
Suara seseorang mengagetkan Nara dari kegusarannya. Nara membuka matanya.

Woohyun POV
Aku melihatnya lagi, gadis blue caramel, si gadis laptop. Kupikir pasti bukan salah satu dari itu namanya, hana saja ia selalu membawa laptop kemanapun ia pergi, dan aku tidak mengetahui namanya. Kurasa ia juga bukan mahasiswi Sastra. Aku tak pernah melihat dia di fakultas sastra. Aku lebih sering menjumpainya di taman.
Entah sejak kapan tepatnya aku menjadi penasaran dengan gadis laptop itu. Tapi sudah hampir bulan keenam aku membaca tulisannya di blog pribadi dan akun sosial media miliknya. Aku mengetahui blog pribadi serta akun sosial medianya secara tidak sengaja.
Flashback on
Suatu waktu, di perpustakaan. Aku melihatnya tengah menggunakan komputer perpustakaan. Sedikit heran, karena biasanya ia akan membawa laptopnya. Entah kenapa, aku selalu merasa penasaran dengannya, dia menarik. Akupun mengamatinya tak jauh dari tempatnya duduk.
Tiga puluh menit berlalu, kemudian gadis laptop itu bangkit. Aku bernat mencari tahu apa yang telah ia kunjungi di dunia maya sana. Akupun mendekati komputer tersebut.
“Happy Land?” kataku, membaca judul blog miliknya. Ia belum me log outnya. Aku mencatat link addresnya kemudian segera me log outnya.
Flashback off
Sejak saat itu aku sering mengunjungi blognya, membaca tulisan-tulisan si gadis laptop. Ia lumayan berbakat, ceritanya menarik. Ia pintar memainkan emosi dalam ceritanya. Dan aku sempat dibuat terkejut karena salah satu tulisannya ia menceritakan tentang aku, Nam Woohyun sebgai salah satu novelist favoritnya. Satu fakta lagi, ternyata dia juniorku. Begitulah pengakuannya di dalam blog pribadinya. Dari blognya pulalah aku mengetahui beberapa akun sosial medianya, dan semuanya dengan id yang sama ‘bluecaramel’. Itulah mengapa aku menyebutnya gadis blue caramel, selain gadis laptop.
Siang ini dia sendiri lagi, disebuah bangku taman dengan laptopnya. Beberapa kali aku melihatnya tengah memperhatikan kearah ku. Aku berada di sisi lain taman tengah berkumpul bersama teman-teman fakultasku.
Gadis bluecaramel terlihat tak bersemangat hari ini, aku juga beberapa kali melihatnya hanya bengong di depan layar laptopnya untuk waktu yang lama. Lagi. Aku menggunakan alasan penasaran untuk mengetahui kondisinya. Aku membuka akun sosial medianya.
“Deadline molor, aku tak mendapat inspirasi. Karya NWH sudah habis di semua toko buku. *sad emoticon*” Tweeted satu hari yang lalu.
Aku melihat kearahnya lagi, ia terlihat begitu frustasi. Menampar-nampar pipinya. Aku menahan tawa geli melihat tingkahnya.
“Teman-teman, aku duluan yah?” kataku pamit kepada teman-temanku.
Aku berjalan mendekati si gadis blue caramel.
“Berhenti bersikap seperti itu, atau orang lain akan semakin berfikir kalau kau memang aneh.” Kataku.
Iya terdiam beberapa saat. Kemudian mendongak dan melihat kearah ku. Bengong.
Kau belum membaca novel terbaruku bukan? Aku membacanya di twittermu. Ini untukmu, sudah kutandatangani, semoga inspirasi untuk ceritamu segera muncul setelah membaca ini.”
Aku tersenyum. Mengulurkan tanganku. “Siapa namamu?” tanyaku.
Ia masih bengong. Entah apa yang ada dipikirannya ketika melihatku hingga ia hanya bisa terbengong.
Tujuh detik kemudian. Aku menarik uluran tanganku yang tak direspon. Kembali tersenym. “Baiklah, selamat membaca karya terbaruku,” kataku kemudian meninggalkan si gadis blue caramel yang masih bengong.
Setelah beberapa langkah aku menjauhinya, tiba-tiba seseorang berteriak.
“Jang Nara!!”
Aku menoleh, gadis blue caramel menunjuk-nunjuk kearah dirinya sendiri. Aku tersenyum dan membentuk simbol ok dengan jariku.

Nara POV
Aku masih bengong sejak suaranya menyentuh halus gendang telingaku beberapa saat lalu. Antara bahagia dan sulit dipercaya. Nam Woohyun mengenalku? Ia juga memberikan bukunya kepadaku? Oh Tuhan.
Sejak beberapa saat lalu dia mengajakku berbicara. Aku mendengarnya. Tapi aku sulit mencernanya. Aku masih tidak percaya novelist terkenal ini mengenalku. Kemudian dia pergi, beberapa saat kemudian aku tersadar dan membuka halaman pertama novelnya. Ada tanda tangannya, dan... “untuk gadis blue caramel?” kataku sedikit mengejanya.
Aku melihatnya belum terlalu jauh dari tempatku berada, “Jang Nara!!” teriakku. Dia menoleh dan tersenyum kemudian membentuk simbol ok. Aku pun tersenyum setelah ia semakin berjalan menjauh.
Tuhan selalu tahu cara dan waktu yang tepat untuk membagikan rizki kepada hambaNya.
*fin*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Daily] 1

Jomblo Prinsip

Rapuh