[CHAPTER 2] AKU, KAMU DAN BENTENG TAK TERJAMAH

5 Mei 2014
Pagi yang cerah, semburat kuning matahari timur mulai nampak. Nia sudah siap untuk berangkat ke polda. Hari ini ia harus melakukan tes potensi akademik. Well, ia merasa bersyukur bisa melanjutkan perjuangan hingga ke tahap ini. Namun, ada yang membuatnya sedih dan kurang bersemangat. Ana. Sepupunya tak lolos hasil tes psikologi dan kesehatan jiwa. Ana pun meningglakan rumah Nia semalam. Tanpa pamit. Itu yang membuat Nia sedih. Ponselnya masih belum aktif hingga subuh tadi.
“Dek, sudah siap?” tanya Zul mengetuk pintu kamar Nia.
“Tunggu sebentar. Jangan masuk! Aku akan segera keluar,” kata Nia sedikit berteriak dari dalam. Zul memang beberapa kali memasuki kamar Nia tanpa izin dan itu membut Nia risih. Cekcok setiap pagi seperti sudah sarapan wajib bagi Nia.
***
Pintu aula sudah dibuka sejak beberapa saat lalu, para casis dipersilahkan memasuki aula ruangan tes. Rifal sedikit berlari mengejar seseorang yang ia lihat sekilas.
“Hai..” kata Rifal, tersenyum kepada seseorang yang ia kejar tadi.
Nia menoleh, ekspresinya sedikit menampakkan raut kaget, “Hai,” katanya balik menyapa.
“Sendiri? Indy, Anes, Wulan dan Nurfa kemana?”
Nia mengangguk, “Sepertinya mereka dari pintu dua atau tiga, aku tidak bertemu mereka sejak tiba tadi,”
Rifal meng-oh-kan dengan anggukan, “Sudah survey kursi kemaren?” tanya Rifal.
Nia mengangguk, “Lorong kedua di samping tangga, barisan ketiga.” Kata Nia sambil menunjukkan tempatnya. “Kamu?”
“Aku dua baris di depanmu,” kata Rifal.
Mereka tersenyum.
Nia dan Rifal menuju kursi masing-masing, mereka duduk dengan tenang, beberapa menit lagi tes akan dimulai.
Detk-detik sebelum tes dimulai, Rifal masih mencoba menarik perhatian Nia, berkali-kali dia memanggil nomor casis Nia. Nia pun menoleh keasal suara, dan ia akan selalu tersenyum ketika mengetahui Rifal yang memanggilnya.
“2308, semangat!!” kata Rifal dengan suara berbisik dan mengangkat genggaman tangannya.
Nia membalasnya dengan hal yang sama, “2358, semangat!!”
***
Zul masih di polda, menunggu Nia hingga selesai tes. Ia tak sendiri, bersama Dea, Kakak dari Indy. Seniornya di perusahaan Ayah Nia.
“Sejak kapan kau di provinsi?” tanya Zul.
“Baru seminggu ini, aku minta izin pada bos untuk mengunjungi Indy,”
Zul mengangguk, sambil memngepulkan asap rokok yang dishisapnya. “Berapa Lama bos memberi izin?”
“Hanya dua minggu, bagaimana anak buahmu? Kalian masih sering berdebat setiap pagi?”
Zul tertawa keras, “As always, tidak hanya pagi hari, setiap bertemu, kami akan selalu berdebat. Tapi aku justru menyukai dia yang seperti itu, bagiku dia semakin terlihat cantik saat raut mukanya menampakkan kekesalan,”
Dea tertawa, “Aku hampir bosan melihat kalian berdebat setiap latihan saat kalian masih di kabupaten, ku pikir kalian akan berbaikan saat tiba di provinsi,”
Zul hanya tersenyum, ia teringat masa-masa di kabupaten setiap kali Nia terlihat kesal kepada Zul saat mereka menjalani latihan fisik. Selain menjadi pengawal Nia selama di provinsi, Zul memang ditunjuk ayah Nia sebagai pelatih fisiknya. Nia sempat menolak ia memilih Syahrir untuk menjadi pelatih sekaligus pengawalnya. Namun, saat itu Ayah Nialah yang menolak dengan alasan Syahrir adalah asisten pribadi Ayahnya.
“Aku tak akan menyerah terhadap Nia,”
“Dalam hal?”
“Apapun, termasuk hatinya, akan kutaklukan dia,”
Dea tertawa mendengar kalimat Zul yang terdengar seperti ancaman.
***
Tiga jam sudah berlalu. Enam sekawan, Nia, Rifal, Indy, Anes, Nurfa dan Wulan tengah duduk disebuah sudut halaman aula, di tangan mereka tertopang sepiring siomay ikan. Mereka menikmati siomay dan istirahat dengan sangat nyaman.
“Soal tadi itu, tidak sesulit soal UN, tapi sukses membuatku menitikkan air mata saat di dalam tadi,” kata Nurfa.
Kelima temannya tertawa renyah, “Kenapa?” tanya mereka berlima juga bergantian.
“Kalian tidak berfikiran sama denganku? Bukankah soal tadi begitu banyak, aku pusing, aku lelah, tanpa sadar aku frustasi dan menangis,”
Nia menepuk-nepuk pundak Nurfa, “Sabar ya Dek, yag penting sudah dilalui,”
“Yang Nurfa katakan memang benar, soal itu cukup membuat frustasi, tapi ku yakin, kita berenam lolos tahap ini,” kata Indy.
“Kenapa?” tanya Rifal.
Indy diam sejenak, membiarkan siomaynya melewati kerongkongan dengan baik, “Entahlah, suasana hatiku hingga saat ini baik-baik saja,” kata Indy dengan tampang polosnya.
Rifal dan Anes tergelak, “Kau pikir lolosnya kita bergantung dari suasana hatimu?” kata Rifal mengejek.
Dalam enam sekawan, Indy memang yang paling innocent, setiap ucapan dan tindakannya hampir selalu memunculkan gelak tawa. Rifal, seseorang yang pintar memancing Indy untuk memunculkan sikap innocentnya.
Nia melihat sekilas kearah jam tangannya, “Solat yuk?” kata Nia, matanya melihat kearah Rifal.
“Ayo Kak,” jawab Nurfa dan Wulan.
Nia mengangguk kearah Nurfa dan Wulan.
“Kami berdua menunggu disini saja ya?” kata Anes.
Nia mengangguk, ia mengetahui jika Indy dan Anes berbeda keyakinan. Nia, Rifal, Nurfa, Wulan pergi menuju masjid.
 “Aku tunggu disini ya?” kata Rifal saat Nia tengah melepas sepatunya
Nia diam untuk beberapa detik. “Kamu non?” tanya Nia dengan hati-hati.
Rifal tersenyum,  kemudian mengangguk sekali.
Nia tersenyum kaku kemudian memasuki masjid.
***
Pukul 2. Casis di perintahkan untuk memasuki aula.
Karena tes akademik telah dilalui, panitia mengizinkan casis untuk bebas memilih tempat duduk. Enam sekawan terbagi menjadi dua bagian. Nurfa, Anes dan Indy menjadi satu barisan dan Nia, Rifal serta Wulan di barisan lainnya. Mereka masih sibuk berbincang, meskipun baru beberapa minggu bersama-sama mereka sangat akrab, sudah seperti sahabat. Bahkan Nia sempat melupakan kerinduannya dengan sahabat-sahabatnya di Jakarta. Walaupun setiap malam, komunikasi antara Nia dan ketiga sahabatnya di Jakarta selalu terjalin.
“Maaf yah soal tadi,” kata Nia kepada Rifal. Suaranya pelan. Hanya Rifal yang dapat mendengar.
“Soal yang mana?”
“Di masjid,”
Rifal tersenyum, “Oh santai saja Ni, kamu juga memang belum tahu kan?”
Nia tersenyum, mengangguk.
Seorang panitia memasuki mimbar dan mulai menjelaskan maksud dikumpulkannya casis saat itu. Sambil menunggu panitia lain memeriksa jawaban dari tes akademiki. Casis diberi bekal sedikit mengenai ilmu kepolisian. Walaupun belum pasti semua casis lolos, namun hal demikian juga tidak merugikan jika casis mengetahuinya. Sedikitnya, menambah pengalaman di masing-masing diri casis. Materinya disampaikan dengan cara yang ringan dan diselingi humor. Sehingga tidak membosankan.
***
Pukul 6. Nia bersama Nurfa dan Wulan baru kembali dari masjid setelah menunaikan solat magrib. Ponsel Nia bergetar.
“Setelah selesai solat segera ke kantin, kami menunggu kalian di kantin,”
From: Rifal.
“Kita ke kantin yuk, teman-teman yang lain menunggu kita di kantin,” ajak Nia pada kedua temannya.
Nurfa dan Wulan mengangguk.
Tiba dikantin, Nia langsung melihat Rifal yang tersenyum kearahnya. Nia pun mengajak kedua temannya menuju Rifal dan Indy juga Anes.
“Oh? Tasku sudah disini? Siapa yang membawakan?”
Indy dan Anes kompak menunjuk kearah Rifal. Nia melihat kearah Rifal yang tersenyum. “Terima kasih ya,” kata Nia. Rifal mengangguk.
“Hanya tas mu yang dia ingat Ni, tas Nurfa dan Wulan dia tinggalkan, sebenarnya dia ke kantin juga tak memberitahu kami, kami menyusulnya setelah dia membalas pesan singkat Indy,” kata Anes mencibir Rifal.
Rifal nyengir. Nurfa dan Wulan ikut mencibir dengan sedikit protes.
Enam sekawan kembali berbincang seru sambil menikmati bakso. Ponsel Nia berdering.
“Siapa?” tanya Rifal sebelum Nia mengangkat teleponnya.
“Mama,” kata Nia kemudian memulai percakapan di ponsel bersama Ibunya.
Beberapa saat setelahnya. Nia kembali melanjutkan menyantap baksonya. Rifal sudah menghabiskan semangkuk baksonya. Ia tengah meminum es teh manisnya dengan dagu bertopang menghadap kearah Nia.
“Kau jangan seperti itu,” kata Nia malu-malu sambil menutup wajahnya.
“Memangnya kenapa?”
“Aku malu diperhatikan dari samping seperti itu,”
“Tapi aku suka,” kata Rifal.
Indy, Anes dan Wulan yang duduk di hadapan mereka hanya memperhatikan kedua temannya dengan tatapan menggoda. Nurfa yang duduk disamping Rifal tampak tak terganggu dengan tingkah Rifal. Ia tetap lahap menyantap baksonya meskipun mengeluarkan komentar tajam beberapa saat kemudian, “Rifal, kau sungguh menjijikan.”
Rifal menoleh, menampilkan tatapan mautnya. Kemudian tersenyum sinis. Well, mereka berenam tahu, cekcok antara Nurfa dan Wulan hanyalah candaan biasa.
Kantin sangat ramai. Tidak hanya enam sekawan didalamnya. Hampir semua casis dan tentu senior juga ada beberapa orang yang tengah menyantap makan malam di kantin. Sangking penuhnya, tak sedikit yang makan malam dengan duduk di bangku lain diluar area kantin.
“Apa kata mama mu tadi?” tanya Rifal.
Nia yang tengah ber chat  ria dengan ketiga sahabatnya di Jakarta menoleh memastikan apakah pertanyaan itu diajukan untuk dirinya, screen ponselnya dibiarkan menyala. “Tidak ada, hanya menanyakan kabarku dan soal Zul.”
“Zul siapa?”
“Paman yang mengantar jemputku selama di provinsi,”
“Oh, yang berbadan sedikit gemuk, bermata sipit?”
Nia mengangguk-angguk, “Seratus!”
“Memangnya kenapa?”
“Aku membenci dia, sikapnya menunjukkan dia menyukaiku, tapi aku tidak suka. Tatapannya membuatku muak. Sikap manisnya juga. Mama tahu aku membenci dia, tapi Papa tak peduli,”
Rifal diam, sedikit terkejut karena Nia yang begitu cerewet. Baru kali pertama ia melihat Nia berbicara sepanjang dan secepat itu.
Nia menoleh karena tak ada respon, ia melihat Rifal yang tengah melihat kearahnya dengan senyuman. “Kenapa?”
“Kau bisa cerewet juga?” tanya Rifal kemudian tertawa dengan menepuk ringan pucuk kepala Nia beberapa kali.
Keempat sahabatnya yang lain hanya menyimak cerita Nia dengan menyumbang sedikit senyuman ketika Rifal dan Nia terlihat begitu akrab. Mereka berempat seperti dipihak yang sama untuk mendekatkan Nia dan Rifal. Meskipun mereka tak saling membahas mengenai hal itu.
Sudut Pandang Nia
‘Entah sejak kapan perasaan ini terasa begitu nyata. Aku memang tertarik kepadanya sejak awal perkenalan kami. Hanya saja, aku tak terlalu banyak berharap kepadanya. Terlebih ketika aku tahu kami berbeda. Tapi, sikapnya begitu menyamankanku. Aku selalu tersenyum saat bersamanya. Aku bisa melupakan rasa kesal yang menumpuk karena ulah paman Zul jika bersama Rifal. Dan hingga saat ini, ketika Rifal disampingku dan dia menertawakanku karena ia baru mengetahui betapa cerewetnya aku. Aku bahagia ketika dia menertawakan kekuranganku. Oh Tuhan. Aku jatuh cinta?” Batin Nia.
Sudut Pandang Author
Pukul 8 malam. Casis sudah berkumpul di aula. Hasil tes akademik akan segera diumumkan. Nia dan kelima sahabatnya yang lain merasa tenggang menunggu hasilnya keluar. Tanpa banyak berbasa basi, panitia pun membuka sesi tersebut. Menyebutkan nomor casis yang lolos tahapan ini. Hingga setengah jam kemudian sampailah di nomor 2302. Nomor itu milik Indy. Indy dinyatakan lolos. Anes, Nurfa dan Wulan sudah disebutkan lolos beberapa menit sebelumnya. Nia dan Rifal semakin tegang, dari mereka berenam hanya tersisa Nia dan Rifal yang belum mendapat hasil.
“2305”
“2308”
“2311”
Panitia menyebutkan nomor yang lolos. Wulan dan Anes yang tepat duduk di belakang Nia langsung memeluknya dari belakang. Nia bengong.
“Aku lolos?”
“Kakak tak mendengar nomor kakak disebut?”
Nia menggeleng keras dengan raut yang masih terlihat kosong, “Benarkah aku lolos?”
“Iya, kau lolos Ni!!” kata Indy yang menghampirinya sambil memeluk Nia.
“Kau lolos Ni, aku mendengarnya,” kata Rifal meyakinkan.
Nia pun tersenyum. Haru. Matanya berkaca-kaca.
“Selamat yah,” kata Rifal berbisik setelah para sahabat gadis Nia melepaskan pelukannya.
Nia mengangguk.
Sudut Pandang Rifal
Suasana nya begitu menegangkan, kelima sahabatku sudah medapat kepastian lolos, yang terakhir tadi adalah Nia, aku sungguh bahagia dia lolos. Tapi aku juga takut, takut jika aku tak lolos dan aku tak bisa bertemu dia. Entah sejak kapan aku menjadikan dia gadis yang menjadi penyemangatku. Yang pasti, aku bahagia disamingnya. Dan aku bahagia ketika senyum dan tawanya karena aku.
“2350” panitia masih menyebutkan nomor casis yang lolos.
Aku semakin tegang. Beberapa kali aku menoleh kearah Nia, dia tersenyum. “Kau pasti lolos,” katanya. Kalimat itu justru membuatku semakin takut.
“2357”
Aku melihat kearah Nia, Nia masih tersenyum. Bibirnya mengeja kata ‘lolos’ tanpa suara.
“2358”
Aku memeluk Nia tanpa sadar. Terdengar suara tawanya dan ucapan syukur. “Alhamdulillah,” begitu yang kudengar. Aku segera melepaskan pelukannya.
“Maaf yah, aku refleks,”
Nia mengangguk keras, “Tidak apa-apa, aku senang kau lolos,”
Aku mengucap syukur kepada Tuhan. Dari sudut mataku, aku melihat Nia memperhatikanku.
“Kita memang berbeda Ni, tapi kumohon, jangan pergi. Secepat apapun.” Aku membatin.

Aku tak pernah meminta kepada Tuhan untuk menjatuhkan rasaku kepada dua orang; orang yang jahat dan orang yang salah menurut Tuhan. Jika rasaku jatuh kepadamu, bukankah artinya kau orang baik dan orang yang benar menurut Tuhan? - RIFAL


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Daily] 1

Jomblo Prinsip

Rapuh