Maira

Metromini tepat berhenti di depan gedung kampusku. Masih sepuluh menit lagi sebelum kuliah dimulai. Aku segera berjalan memasuki kampus dan menuju kelas.
Pintu kelasnya tertutup, beberapa teman berkumpul dan duduk-duduk di bangku depan kelas. Aku mengintip keruangan kelas melalui kaca kecil di antara pintu.
Maira menjadi pembuka pemandangan indah setiap Senin pagi. Ia selalu terlihat sibuk, ada saja aktivitasnya, entah itu membaca buku atau bercerita dengan laptopnya.
Aku membuka perlahan pintunya. Reflek Maira melihat kearah ku. Aku tersenyum. Pun demikian dengan Maira yang beberapa detik setelahnya kembali sibuk dengan bukunya.
Jilbab menjulur dan gamis gombrong membuat ia semakin terlihat anggun. Penampilannya memang beda dari para wanita dikelasku tapi tetap ia yang paling cantik. Menurutku.
“Baca apa Kak Maira?” tanyaku.
Maira sedikit menoleh, tak sampai menatapku, “Antologi cerpen,”
“Oh.. Karya kakak termasuk didalamnya?”
Maira mengangguk berkali-kali tanpa suara dan tanpa menoleh. Aku tersenyum. Memandangi sosoknya dari belakang.
Humaira nama lengkapnya, seniorku. Ia pernah cuti satu semester dan mengejar ketetinggalannya semester ini. Setiap Senin menjadi hari terindahku. Ia mengejar ketertinggalan salah satu mata kuliah dikelasku. Wanita sederhana, pintar dan pendiam. Tak memiliki banyak teman, aku menyimpulkan karena Maira tak merasa nyaman dengan lingkungan wanita yang serba berpakaian terbuka atau tertutup tapi menampakkan lekuk tubuh. Yang jika berkumpul akan serentak memamerkan make up dan gadget milik mereka. Lalu bercengkrama tak karuan yang akhirnya berujung gelak tawa. Maira jauh dari semua itu. Ia lebih sering diam, tertunduk membaca quran atau bukunya atau menatap lurus kelayar laptopnya, menulis dan membuat tugas.

***

Sudah tiga puluh menit Pak Tion menjelaskan mengenai akuntansi biaya. Sudah tigapuluh menit juga aku memperhatikan Maira yang terlihat sibuk. Jari-jari tangannya mengapit dua warna pulpen, belum lagi paper markernya. Kulihat buku akuntansi biayanya lebih mirip dengan kertas bergambar. Penuh warna dan tulisan. Jangan lupakan kertas post it yang menempel dengan tulisan-tulisan yang menurutnya penting. Maira memang selalu seperti itu. Telaten.
Sejak tadi aku memujinya? Oh Tuhan. Kurasa aku gila. Entah sejak kapan aku mengagumi sosoknya. Mungkin sejak ia menjadi pembimbing ketika kegiatan rohani Islam di kampus? Atau justru ketika ia menjadi mahasiswa tamu dikelasku? Entahlah. Aku tak paham.
Yang kupaham, aku mengagumi dia. Wanita lembut dengan segala keindahannya. Wanita kuat dengan segala kemandiriannya. Wanita sederhana dengan segala halnya yang membuatku kagum. Aku kembali memujinya? Kurasa aku jatuh hati pada wanita ini. Tuhan. Jaga rasaku. Jika dia bidadarimu yang kau pasangkan untukku. Izinkan aku dan dia saling bercerita dan melepas rindu dalam doa.


Selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Daily] 1

Jomblo Prinsip

Rapuh