Pertemuan Sekian Detik
Aku tak yakin perasaan ini adalah sakit hati. Mungkin ini adalah kecewa? Entahlah. Yang pasti, ada perasaan sedih di dalam sana, ketika mataku menangkap sosokmu. Nyatanya, kau juga menangkapku. Meski hanya sekian detik. Oh bahkan aku terlalu fokus bagaimana caranya menemukanmu dan ketika radarku menemukanmu aku sungguh bahagia hingga tak menghitung waktu itu.
Namun, seperti yang ku katakan, aku sedih. Ada sesuatu di dalam sana yang mengusikku. Berbagai macam tanya.
Kau membenciku? Hingga memalingkan wajah ketika menangkapku? Atau mungkin..
Kau bingung harus bersikap bagaimana? Atau mungkin..
Kau tak membenciku, kau hanya ingin benar2 menepikanku? Jika benar..
Tidak tuluskah rasamu selama ini? Jika tidak..
Ah! Aku terlalu banyak berspekulasi.
Yang pasti, aku sedih ketika melihatmu yang tak bersemangat.
Ada apa? Kenapa? Tak berniatkah kau menceritakan masalahmu itu?
Ingin rasanya semua pertanyaan itu ku tanyakan langsung kepadamu.
Mungkin selama ini aku memang terlalu egois. Terlalu tak peduli. Aku hanya melihatmu sebagai sosok dewasa yang mampu menyelesaikan masalahmu sendiri dengan baik. Aku melupakan satu hal. Kau bukanlah sosok laki2 dewasa sesungguhnya. Maksudku, kau masih berproses. Dan proses itu mungkin yang membuatmu terkadang naik turun. Namun ku yakin itu akan membuatmu menjadi sosok yang lebih dewasa dari saat ini. Dan aku melupakan itu. Melupakan jika kau sedang berproses.
Tapi, aku tetap tidak mau disalahkan sepihak. Seharusnya kau mengatakan apa yang kau rasa. Apa yang kamu mau. Bukankah memang seharusnya begitu sebagai sepasang?
Kembali pada pertemuan sekian detik kita. Jika kau tahu, aku masih memaku pandanganku pada sosokmu hingga kau menjauh beberapa meter lalu hilang ketika kau menuruni anak tangga. Dan..
Kau sama sekali tak berniat menatapku. Oh!? sungguh perasaan aneh. Aku mendadak sedih. Ingin menangis saat itu juga. Jika saja aku tak ingat beberapa menit lagi dosenku akan masuk kelas. Dan aku bukanlah sosok yang mudah menangis di depan umum. Asal kau tahu itu.
Dan.. Kisah sedih pertemuan seekian detik kita sejujurnya tak terlalu meninggalkan ingatan beberapa jam setelahnya karena aku fokus kepada matakuliahku bahkan setelahnya aku benar-benar lupa. Aku hanya mengingat untuk segera membuka sosial mediaku, men-stalking para oppa dan oenni ku. Percaya atau tidak, bahkan aku kini tersenyum membayangkan mereka. Mood boosterku.
Malam ini, aku terbangun karena sekelompok anak berandal yang berteriak melintasi gang kosanku.
Oh sungguh menyebalkan. Lantas aku tertiba mengingatmu? Yap! Aku mencoba kembali lelap. Nihil. Aku justru mengingat pertemuan sekian detik kita. Plus dengan ingatan perihal hari ini hampir dua bulan aku melepaskanmu.
Yeah.. Sejujurnya tanggal ini, tanggal pertama kali kita saling bertegur sapa lalu menjadi teman dekat dan.. Seperti itulah.
Aku selalu percaya ada hikmah disetiap kejadian. Dan hikmah atas pertemuan sekian detik tadi siang adalah, diriku nyatanya bisa tak bersamamu selama satu bulan. Aku baik-baik saja. Aku fokus dengan skripsiku. Aku fokus dengan kuliahku. Perihal aku yang tertiba mengingatmu memang ku rasakan beberapa kali dalam sebulan, tapi ku jadikan bonus. Karena seberapapun aku kecewa padamu. Ingatan ku entah kenapa selalu yang bahagia. Begitu banyak momen indah yang ku lalui bersamamu meski hanya beberapa bulan.
Dan itu sukses mencetak sebuah senyum. Asal kai tahu.
Emm.. Aku tak menyesali pertemuan sekian detik kita. Aku bahkan bahagia setelah menulis ini.
Semoga, kau dan aku baik-baik saja sampai akhir.
Komentar